Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bahaya Lisan dalam Islam: Kata-Kata Bisa Menghancurkan Hubungan

Iklan Landscape Smamda
Bahaya Lisan dalam Islam: Kata-Kata Bisa Menghancurkan Hubungan
Ilustrasi: chatgbt
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

“Bersungguh-sungguhlah menjaga lisanmu, karena ia adalah penyebab paling kuat bagi kehancuranmu di dunia dan di akhirat.”
— Imam Al-Ghazali

Lisan sering dianggap ringan. Hanya berupa ucapan yang keluar beberapa detik lalu selesai. Padahal dari lisan, banyak hal besar bermula: persahabatan terjalin, keluarga harmonis, hati menjadi tenang, bahkan dakwah berkembang. Namun dari lisan pula, banyak kerusakan muncul: pertengkaran, permusuhan, fitnah, hingga hancurnya kepercayaan.

Hari ini, lisan tidak hanya berbentuk ucapan langsung. Jari-jari di media sosial juga menjadi “lisan” yang akan dimintai pertanggungjawaban. Satu komentar yang ditulis tergesa-gesa bisa melukai hati orang lain bertahun-tahun lamanya. Satu unggahan bernada sindiran dapat memutus silaturahmi yang dibangun sekian lama.

Al-Quran mengingatkan:

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)

Betapa sering manusia meremehkan ucapan kecil. Ada orang yang kehilangan pekerjaan karena satu kalimat emosional. Ada sahabat yang saling menjauh karena candaan yang berlebihan. Ada keluarga yang retak hanya karena kata-kata kasar yang terlontar saat marah.

Kadang kita menyangka orang lain akan segera melupakan ucapan kita. Padahal tidak semua luka berasal dari pukulan. Banyak hati terluka justru karena perkataan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat ilustrasi sederhana. Di sebuah kampung, dua tetangga yang awalnya akrab tiba-tiba tidak saling menyapa hanya karena ucapan yang sebenarnya bisa dijaga. Awalnya hanya komentar kecil saat berkumpul. Namun karena diulang kepada orang lain, ditambah sedikit bumbu cerita, akhirnya berubah menjadi fitnah. Hubungan bertahun-tahun rusak hanya dalam hitungan hari.

Di lingkungan kerja pun demikian. Ada pegawai yang sebenarnya rajin dan baik, tetapi sulit berkembang karena lisannya tajam. Ia mudah mengeluh, suka membicarakan kekurangan orang lain, dan gemar menyindir. Akibatnya orang-orang perlahan menjaga jarak. Bukan karena tidak menghargai kemampuannya, tetapi karena takut terluka oleh ucapannya.

Begitu pula di media sosial. Ada orang yang awalnya hanya ingin ikut bercanda atau mencari perhatian. Ia menulis komentar kasar, menyebarkan kabar yang belum jelas, atau menghina orang lain demi mendapat respons. Sesaat mungkin terlihat lucu dan ramai. Namun jejak digital tidak mudah hilang. Banyak orang menyesal ketika ucapannya kembali menghancurkan nama baik dan kehidupannya sendiri.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari)

Hadis ini sederhana tetapi sangat dalam. Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua yang kita pikirkan harus diucapkan. Kadang diam justru lebih menyelamatkan hati dan menjaga persaudaraan.

Orang bijak dahulu sering mengatakan, “Lidah tidak bertulang, tetapi mampu mematahkan hati.” Karena itu menjaga lisan sejatinya bukan hanya tentang adab berbicara, melainkan juga tanda kedewasaan iman.

Ingatlah pesan: “Banyak hubungan hancur karena kata yang tak dijaga.”

Ustaz Hanan Attaki juga berpesan, “Jaga lisan, karena itu branding imanmu.” Apa yang keluar dari mulut seseorang sering menjadi cerminan isi hatinya. Orang yang hatinya bersih biasanya lisannya lembut. Sebaliknya, hati yang dipenuhi iri, marah, dan sombong sering memunculkan ucapan yang menyakitkan.

SMPM 5 Pucang SBY

Menjaga lisan bukan berarti kita tidak boleh menasihati. Islam tetap mengajarkan amar ma’ruf dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Namun cara menyampaikan nasihat juga harus dijaga agar tidak berubah menjadi hinaan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Berkatalah seorang yang paling bijak di antara mereka, ‘Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, mengapa kamu tidak bertasbih kepada Tuhanmu?’” (QS. Al-Qalam: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa orang bijak tetap menasihati kaumnya walaupun sebelumnya tidak didengar. Ia tidak lelah mengajak kepada kebaikan. Namun nasihatnya lahir dari kepedulian, bukan dari kesombongan.

Salah satu cara menjaga lisan adalah memperbanyak dzikir. Orang yang lisannya sibuk mengingat Allah biasanya lebih sedikit waktunya untuk membicarakan keburukan orang lain. Hatinya menjadi lebih tenang, lebih mudah bersyukur, dan lebih sadar bahwa semua nikmat berasal dari Allah.

Sebaliknya, hati yang jauh dari dzikir mudah dipenuhi amarah, iri hati, dan cinta dunia. Dari situlah sering lahir ucapan-ucapan buruk.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘Azim.” (HR. Bukhari Muslim)

Betapa indah jika lisan yang sama, yang bisa melukai manusia, justru digunakan untuk berdzikir, menenangkan hati orang lain, memberi semangat, dan menyebarkan kebaikan.

Bayangkan seorang ibu yang lelah bekerja seharian lalu pulang mendengar ucapan lembut dari anaknya. Bayangkan seorang teman yang sedang putus asa kemudian kembali kuat hanya karena mendapat kalimat penghiburan. Kadang satu ucapan baik mampu menjadi cahaya bagi hati yang gelap.

Karena itu, sebelum berbicara, bertanyalah pada diri sendiri:
– Apakah ucapan ini benar?
– Apakah bermanfaat?
– Apakah menyakiti orang lain?
– Apakah Allah ridha dengan perkataan ini?

Jika tidak membawa kebaikan, mungkin diam lebih mulia.

Yaa Allah, tolonglah kami agar bisa selalu berzikir kepada-Mu, bersyukur atas limpahan nikmat-Mu, dan membaguskan ibadah kami kepada-Mu.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang lembut lisannya, mudah menerima nasihat, gemar berdzikir, dan selalu menjaga ucapan di mana pun berada. Aamiin. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 28/05/2026 09:06
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu