Puluhan pengurus takmir masjid, pegiat media sosial kemasjidan, dan generasi muda dari Surabaya serta Sidoarjo mengikuti kegiatan bertajuk Strategi Konten Masjid Menjadi Sumber Infak di Masjid Pesantren KH. Mas Mansyur, Balas Klumprik, Wiyung, Surabaya, Sabtu (6/6/2026) malam. Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai pengelolaan media sosial dan pengembangan dakwah masjid di era digital.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pengurus masjid, pegiat media sosial, hingga generasi muda yang aktif dalam kegiatan dakwah digital di lingkungan masjid masing-masing.
Kegiatan dimulai pukul 19.30 WIB dan dipandu oleh Lazuardi Imani selaku pembawa acara. Diskusi berlangsung dalam suasana interaktif dengan melibatkan peserta dari berbagai wilayah.
Hadir sebagai narasumber utama, Bayu Firdaus menyampaikan materi mengenai strategi pengelolaan media sosial masjid dan pemanfaatannya untuk mendukung program-program kemasjidan. Bayu dikenal sebagai salah satu penggerak Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran Sidoarjo atau yang dikenal sebagai Masjid Ramah Musafir.
Melalui pengelolaan konten media sosial, Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran dikenal luas di berbagai platform digital dan menjadi salah satu contoh pengembangan dakwah berbasis teknologi di lingkungan masjid.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PCM Wiyung Surabaya, H. Suri Marzuki, S.E. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang melibatkan pengurus masjid dan generasi muda.
Menurutnya, kegiatan semacam ini dapat menjadi sarana berbagi pengalaman sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam pengembangan masjid.
“Semoga masjid-masjid lain dapat tumbuh dan mengikuti semangat Ar-Royyan, sehingga masjid dapat menjadi tempat solusi umat. Karena ranting itu penting, cabang harus berkembang, masjid harus makmur dan memakmurkan,” ujarnya.
Dalam paparannya, Bayu Firdaus menekankan pentingnya menyamakan persepsi seluruh pengurus masjid. Menurutnya, pengurus masjid bukanlah pemilik masjid, melainkan pelayan masjid yang memiliki tanggung jawab untuk melayani jamaah dan memakmurkan rumah ibadah.
“Ketika mindset itu berubah, maka cara melayani jamaah juga akan berubah. Masjid bukan tempat yang harus dijaga jaraknya dari masyarakat, tetapi harus menjadi tempat yang dekat dan dirindukan umat,” paparnya.
Bayu yang juga merupakan pengurus Da’i Digital Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan bahwa salah satu faktor yang mendukung perkembangan masjid adalah keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan maupun penyusunan program masjid.
Menurutnya, generasi muda memiliki kreativitas, energi, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang dapat mendukung kegiatan dakwah dan pelayanan jamaah.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya digitalisasi masjid sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah, komunikasi dengan jamaah, serta pendukung program-program masjid.
“Media sosial masjid hari ini bukan sekadar tempat upload dokumentasi. Jika dikelola dengan baik, media sosial bisa menjadi alat dakwah, membangun kedekatan jamaah, bahkan menjadi sumber infak untuk mendukung program-program masjid,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pengelolaan media sosial masjid dapat menjadi ruang kontribusi bagi generasi muda yang memiliki minat dan kemampuan di bidang digital.
Kegiatan berakhir sekitar pukul 21.30 WIB. Setelah sesi utama selesai, sejumlah peserta masih melanjutkan diskusi dan bertukar pengalaman mengenai program kemasjidan, pengelolaan media sosial, serta strategi pengembangan dakwah digital.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta memperoleh kesempatan untuk berbagi praktik baik dan memperluas jejaring antarpengelola masjid dalam upaya mengembangkan layanan, program dakwah, dan aktivitas kemasjidan yang relevan dengan perkembangan zaman. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments