Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Doa Rasulullah Setelah Subuh: Kunci Meraih Ilmu Bermanfaat, Rezeki Halal, dan Amal yang Diterima

Iklan Landscape Smamda
Doa Rasulullah Setelah Subuh: Kunci Meraih Ilmu Bermanfaat, Rezeki Halal, dan Amal yang Diterima
Foto: Shutterstock
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM

Apa jadinya jika setiap hari kita kehilangan ilmu ilmu yang bermanfaat, kehilangan mendapatkan rezeki yang berkah, dan luput dari amalan yang diterima Allah Ta’ala?

Kehilangan ketiga hal tersebut setiap hari adalah kerugian yang sangat besar. Kehilangan ilmu bermanfaat membuat hidup kehilangan arah dan amal menjadi tertolak.

Tanpa rezeki berkah, harta menjadi tidak menentramkan, dan tanpa amalan diterima, bekal akhirat kita menjadi kosong. Ketiganya saling terkait erat.

Inilah bencana besar yang perlahan akan membinasakan hidup. Itulah sebabnya, setiap pagi, Rasulullah saw mengajarkan doa:

Dari Ummu Salamah ra. bahwa Nabi Muhammad saw mengucapkan doa ini bakda shalat Subuh:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Allāhumma innī as-aluka ‘ilman nāfi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqabbalā.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Abu Ya’la)

1. Memohon Ilmu yang Bermanfaat

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain, serta semakin mendekatkan kita kepada Allah ﷻ.

Hari-hari yang dilewati tanpa menambah ilmu yang bermanfaat, baik bagi urusan duniawi maupun ukhrawi kita, adalah hari yang sia-sia.

Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk terus belajar, mencari ilmu dan pemahaman baru untuk kemudian berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Memohon Rezeki yang Halal dan Thayyib

Rezeki yang halal dan baik bukan sebatas materi, tetapi juga hadirnya keberkahan dalam setiap usaha yang dilakukan.

Maka, Rasulullah saw mengingatkan bahwa doa seseorang tidak akan dikabulkan jika makanannya berasal dari sumber yang haram.

Makanan, minuman, pakaian, dan pekerjaan halal akan berpengaruh pada doa kita. Lihat bahasan hadits Arbain nomor #10 berikut ini.

SMPM 5 Pucang SBY

الحَدِيْثُ العَاشِرُ

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا} وَقَالَ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ ومشربه حرام وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ.رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Hadis Kesepuluh

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (thayyib), tidak menerima kecuali yang baik (thayyib). Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin doanya bisa terkabul.” (HR. Muslim, no. 1015)

Rezeki yang halal membawa ketenangan dan keberkahan dalam hidup, serta menjadikan doa kita lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT.

3. Memohon Amalan yang Diterima

Tidak semua amalan diterima oleh Allah ﷻ. Hanya amalan yang dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan syariat yang akan diterima.

Allah SWT berfirman:

Surat Al-Ma’idah Ayat 27

۞ وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱبْنَىْ ءَادَمَ بِٱلْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ ٱلْءَاخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ

Watlu ‘alaihim naba`abnai ādama bil-ḥaqq, iż qarrabā qurbānan fa tuqubbila min aḥadihimā wa lam yutaqabbal minal-ākhar, qāla la`aqtulannak, qāla innamā yataqabbalullāhu minal-muttaqīn

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Oleh karena itu, kita tidak hanya perlu beramal, tetapi juga harus memastikan bahwa amal tersebut dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 09/07/2026 15:06
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu