Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dua Versi Haji Pertama KH Ahmad Dahlan: Mana yang Benar?

Iklan Landscape Smamda
Dua Versi Haji Pertama KH Ahmad Dahlan: Mana yang Benar?
Dua Versi Haji Pertama KH Ahmad Dahlan: Mana yang Benar?
Oleh : Muh Kholid AS Bukan Sejawaran, Pemred Majalah Matan 2011-2018

Riwayat hidup KH Ahmad Dahlan telah ditulis dalam banyak buku, artikel, hingga karya akademik. Sebagai salah satu tokoh pembaru Islam terbesar, kehidupannya menjadi perhatian banyak peneliti. Namun, di balik banyaknya referensi itu, ada sejumlah perbedaan data yang menarik ditelusuri. Salah satunya adalah keberadaan dua versi haji pertama KH Ahmad Dahlan ke Tanah Suci.

Kapan sebenarnya Muhammad Darwis—nama kecil KH Ahmad Dahlan—menunaikan ibadah haji untuk pertama kali? Pertanyaan itu tampak sederhana. Tapi ketika berbagai sumber dibandingkan, muncul dua versi yang berbeda.

Versi pertama menyebut Darwis berangkat ke Mekkah pada usia 15 tahun. Jika dikonversi ke tahun, itu terjadi pada 1883. Juga disebutkan pendiri Muhammadiyah itu tinggal di Mekkah selama lima tahun dalam haji pertamanya itu.

Sementara versi kedua menyebut ia baru berangkat pada usia 22 tahun. Tepatnya tahun 1890, setelah menikah dengan Nyai Walidah. Dan, KH Ahmad Dahlan tidak tinggal lama di Mekkah.

Perbedaan tujuh tahun ini tentu bukan sekadar persoalan angka. Sebab, Ia menyangkut kronologi pembentukan intelektual dan spiritual seorang tokoh besar yang kemudian mendirikan Muhammadiyah.

 Versi Pertama: Berangkat pada Usia 15 Tahun

Versi pertama menyebut bahwa Muhammad Darwis berangkat ke Mekkah pada tahun 1883 ketika usianya baru 15 tahun. Salah satunya bisa dibaca dalam karya Nur Khozin dan Isnud yang berjudul “Biografi KH Ahmad Dahlan”. Artikel yang kemudian dibukukan dengan judul K.H. Ahmad Dahlan (1868–1923), diterbitkan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2015.

Dalam buku itu disebutkan, kronologi haji Muhammad Darwis. Setelah dianggap menguasai pengetahuan agama yang cukup, ayahnya memerintahkan Darwis untuk pergi ke Mekkah. Menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama. Biaya keberangkatan dibantu oleh kakak yang bernama Nyai KH Soleh.

Menurut buku itu, Muhammad Darwis berangkat pada tahun 1883 dan kemudian menetap selama lima tahun di Mekkah. Selama masa itu ia mempelajari berbagai disiplin ilmu keislaman seperti qiraat, tafsir, tauhid, fikih, tasawuf, ilmu falak, bahasa Arab, dan berbagai cabang ilmu agama lainnya.

“Setelah dinilai menguasai pengetahuan agama yang cukup, Kyai Haji Abu Bakar memerintahkan Muhammad Darwis pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam pengetahuan agama. Berkat bantuan biaya dari kakak iparnya yang bernama Kyai Haji Soleh, Muhammad Darwis berangkat ke Mekkah pada 1883,” tulis keduanya.

Bahkan disebutkan bahwa koleksi kitab Muhammad Darwis semakin bertambah. Hampir seluruh kitab penting yang lazim digunakan di pesantren berhasil dimiliki Darwis dalam perjalanan hajinya yang pertama itu.

“Selama lima tahun Muhammad Darwis belajar mendalami berbagai ilmu agama seperti  qiraat, tafsir, taukhid, fiqih, tasawuf, ilmu falaq, bahasa arab, dan ilmu yang lainnya. Koleksi kitab-kitabnya terus bertambah, hampir semua kitab wajib yang dipakai di pesantren dimilikinya,” lanjut keduanya.

Jika ditelusuri lebih jauh, sumber yang lebih awal menyampaikan versi haji pertama di 1883 ini adalah Sutrisno Kutoyo. Melalui bukunya berjudul Kiai Haji Ahmad Dahlan, diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1985. Kutoyo secara tegas menyebut usia, tahun keberangkatan, dan lama tinggal Muhammad Darwis di Mekkah.

Menurutnya, pada usia 15 tahun atau tahun 1883, Muhammad Darwis berangkat ke Tanah Suci dengan biaya yang ditanggung kakaknya, Nyai Soleh. Setelah menunaikan ibadah haji, ia tidak langsung pulang. Melainkan menetap selama lima tahun untuk mendalami berbagai ilmu agama.

“Pada usia limabelas tahun yaitu pada tahun 1883, Mohammad Darwisj berangkat ke Tanah Suci Mekah untuk menunaikan rukun Islam. Biaya perjalanan dan keperluan lain ditanggung oleh kakak iparnya yang kaya, yaitu Kiai Haji Soleh. Mohammad Darwisj tidak hanya menunaikan rukun Islam Haji tetapi bermukim di Tanah Suci Mekkah selama lima tahun,” tulis Kustoyo.

SMPM 5 Pucang SBY

Data yang disampaikan Kutoyo kemudian banyak dikutip oleh penulis-penulis sesudahnya. Sehingga versi tahun 1883 cukup dikenal di kalangan masyarakat, hingga mesin pencarian di dunia maya. Meski secara penelusuran lebih lanjut, sebenarnya versi ini cukup lemah.

Tampaknya, versi pertama ini adalah penafsiran dari “literatur tua” yang selama puluhan tahun dianggap sebagai rujukan utama mengenai KH Ahmad Dahlan. Yaitu K.H.A. Dahlan, Amal dan Perdjoangannja karya Junus Salam. Buku yang diterbitkan Depot Pengadjaran Muhammadiyah, salah satu karya awal yang secara khusus membahas kehidupan pendiri Muhammadiyah.

Menariknya, sebagaimana dalam cetakan kedua 1968, Junus Salam tidak menyebut usia 15 tahun maupun tahun 1883. Ia hanya menulis bahwa setelah “agak besar”, Muhammad Darwis diperintahkan ayahnya pergi berhaji dengan bantuan biaya dari kakaknya, Nyai Haji Saleh.

“Sesudah agak besar, Moh. Darwisj oleh ajahnja disuruhnja pergi menunaikan hadji dan dengan bantuan kakaknja jang kaja, Njai Hadji Saleh,” tulis Junus Salam.

Junus Salam juga menulis bahwa setelah berhaji, Muhammad Darwis tinggal beberapa tahun di Mekkah untuk memperdalam ilmu-ilmu agama seperti qiraat, tafsir, tauhid, fikih, tasawuf, dan ilmu falak.

“… kemudian dia bermukim ditanah sutji (Makkah) beberapa tahun lamanja, untuk menuntut ilmu agama Islam, seperti: qiraat, tafsir, tauhid, fiqh, tasauf, ilmu falak dsb. Sekembalinja ditanah air, Moh. Darwisj bertukar nama mendjadi Hadji Ahmad Dahlan,” tambah Junus Salam.

Keterangan Junus Salam memang tidak memberikan kepastian mengenai usia maupun tahun keberangkatan Kyai Dahlan. Namun justru karena sifatnya yang lebih netral, tulisan ini menjadi penting sebagai bahan pembanding terhadap berbagai versi yang muncul kemudian.

 Versi Kedua: Berangkat pada Usia 22 Tahun

Berbeda dengan versi pertama, sejumlah akademisi dan peneliti Muhammadiyah tidak sependapat dengan tahun 1883 itu. Mereka menyebut bahwa haji pertama KH Ahmad Dahlan terjadi pada tahun 1890 ketika Darwis telah berusia 22 tahun.

Pendapat ini dikemukakan oleh sejumlah nama yang cukup dikenal dalam kajian Muhammadiyah. Yaitu Abdul Munir Mulkhan, Deliar Noer, M.T. Arifin, serta Achmad Jainuri. Termasuk M. Syuja’, murid langsung KH Ahmad Dahlan, yang menyebut haji pertama pendiri Muhammadiyah ini dilakukan saat sudah dewasa.

Penjelasan Abdul Munir Mulkhan secara mudah bisa dibaca di buku Warisan Intelektual KH Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah. Dia secara jelas menuliskan bahwa pada usia 22 tahun atau tahun 1890, Muhammad Darwisy menunaikan ibadah haji untuk pertama kalinya.

“Pada usia 22 tahun (1890) Kyai Haji Ahmad Dahlan….. seterusnya halaman 2

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 24/06/2026 09:00
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu