Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dua Versi Haji Pertama KH Ahmad Dahlan: Mana yang Benar?

Iklan Landscape Smamda
Dua Versi Haji Pertama KH Ahmad Dahlan: Mana yang Benar?
Dua Versi Haji Pertama KH Ahmad Dahlan: Mana yang Benar?
Oleh : Muh Kholid AS Bukan Sejawaran, Pemred Majalah Matan 2011-2018

“Pada usia 22 tahun (1890) Kyai Haji Ahmad Dahlan menunaikan ibadah haji,” tulis Munir Mulkhan. Tokoh yang dalam penelitian disertasinya melahirkan 4 istilah kelompok Muhammadiyah: Al-Ikhlas, Muhammadiyah Ahmad Dahlan, Muhammadiyah NU (Munu), serta Marhaen Muhammadiyah (Marmud).

Pernyataan yang hampir sama juga disampaikan M.T. Arifin dalam buku Gagasan Pembaruan Muhammadiyah yang terbit tahun 1987. Arifin menulis, tentang tujuan utama Kyai Dahlan ke Mekkah untuk pertama kalinya itu. Bahwa selain untuk menunaikan haji yang pertama, juga bertujuan untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama,

“Karena itu pada tahun 1890 pada saat Darwis berusia 22 tahun, ia dikirim ayahnya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam pengetahuannya tentang Islam,” tulisnya di halaman 78-79.

Keterangan yang spesifik juga diberikan oleh sejarawan Deliar Noer dalam buku klasik Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942. Deliar menulis bahwa Ahmad Dahlan pergi ke Mekkah pada tahun 1890 dan belajar selama satu tahun.

“… ia pergi ke Mekkah tahun 1890 di mana ia belajar selama setahun,” tulis Deliar Noer di halaman 85.

Tahun 1890 dijadikan sebagai patokan haji pertama Kyai Dahlan juga ditulis oleh Achmad Jainuri. Dalam buku Muhammadiyah Gerakan Reformasi Islam di Jawa pada Abad XX, disebutkan juga keberangkatan ini juga ada andil dari kakaknya, Nyai Shaleh.

“Dengan bantuan kakaknya (Nyai Haji Saleh), maka pada tahun 1890 ia pergi ke Mekah dan belajar selama satu tahun,” tulisnya di halaman 28.

Menariknya, hampir seluruh penulis yang mendukung versi kedua berasal dari lingkungan akademik Muhammadiyah atau merupakan peneliti yang secara khusus mengkaji sejarah organisasi tersebut.

Di antara berbagai sumber yang tersedia, salah satu yang paling menarik adalah catatan M. Syuja’. Ia bukan penulis sejarah, melainkan murid langsung KH Ahmad Dahlan yang hidup sezaman dan berinteraksi secara langsung dengan pendiri Muhammadiyah tersebut. Catatan Syuja’ kemudian diterbitkan dengan judul Islam Berkemajuan: Kisah Perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah Masa Awal.

Dalam bukunya, Syuja’ tidak menyebut angka tahun secara eksplisit. Namun ia memberikan petunjuk kronologis yang sangat penting. Menurut Syuja’, keberangkatan Muhammad Darwis ke Mekkah terjadi beberapa bulan setelah pernikahannya dengan Nyai Walidah.

“Berselang beberapa bulan dari pada perkawinan, Muhammad Darwis yang sedang asmara diantara mempelai, tetapi karena terdorong sampai saatnya Muhammad Darwis harus berangkat ke Makkah untuk berhaji karena desakan ayah bundanya, justru kebetulan Muhammad Darwis dapat menambah pengetahuan yang lebih luas dan mendalam…” tulis M Syuja’ dalam halaman 7

Kata kunci waktu berhaji pertama itu adalah “berselang beberapa bulan daripada perkawinan” KH Ahmad Dahlan. Selama ini semua sumber sejarah sepakat bahwa pernikahan Muhammad Darwis dengan Nyai Walidah berlangsung pada tahun 1889. Saat usia Kyai Dahlan sudah 21 tahun.

SMPM 5 Pucang SBY

Jika keberangkatan ke Mekkah terjadi beberapa bulan setelah pernikahan, maka perjalanan haji pertama itu tidak terjadi sebelum 1889. Sehingga tidak mungkin perjalanan haji pertama ini dilakukannya saat masih berusia 15 tahun.

Kesaksian Syuja’ menjadi sangat penting karena berasal dari generasi yang paling dekat dengan Ahmad Dahlan. Meskipun bukan pelaku langsung peristiwa tahun 1890, tapi Syuja’ adalah sosok yang lahir pada 1882.

Selain sudah punya ingatan masa kecil (8 tahun), Syuja’ di kemudian hari hidup bersama generasi awal Muhammadiyah. Termasuk memiliki akses terhadap informasi yang jauh lebih dekat dibandingkan para penulis yang hidup puluhan tahun kemudian.

Jika seluruh sumber dibandingkan, versi tahun 1890 tampak memiliki dasar yang lebih kuat.

Pertama, jumlah penulis yang mendukung versi ini cukup banyak dan berasal dari kalangan peneliti Muhammadiyah yang memiliki reputasi akademik kuat.

Kedua, versi 1890 didukung oleh beberapa sumber yang saling menguatkan, mulai dari Abdul Munir Mulkhan, M.T. Arifin, Deliar Noer, hingga Achmad Jainuri.

Ketiga, kesaksian M. Syuja’ sebagai murid langsung KH Ahmad Dahlan memberikan petunjuk kronologis yang sangat masuk akal. Jika keberangkatan terjadi beberapa bulan setelah pernikahan tahun 1889, maka secara logis perjalanan tersebut berlangsung pada 1890.

Sebaliknya, versi tahun 1883 terutama bertumpu pada sumber yang lebih sedikit. Selain itu, versi ini tampaknya banyak mengacu pada tradisi penulisan yang berkembang setelah karya Sutrisno Kutoyo. Hal itu tidak berarti versi tersebut pasti salah. Namun jika dilihat dari kekuatan sumber dan konsistensi kronologinya, versi 1890 tampak lebih kokoh secara historiografis.

Mungkin, bagi sebagian orang, perbedaan tujuh tahun (antara 1883 dan 1890) adalah sesuatu yang trivial. Namun, bagi pencinta sejarah, tujuh tahun adalah rentang waktu yang menentukan karakter seorang manusia. Namun, meluruskan tahun keberangkatannya, adalah upaya mendudukkan posisi KH Ahmad Dahlan dalam lintasan waktu yang lebih akurat.

Apapun versinya, perjalanan pertama ke Tanah Suci itu adalah titik balik yang mengubah Muhammad Darwis menjadi KH Ahmad Dahlan. Seorang reformator yang mengubah wajah Islam di Indonesia selamanya.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 24/06/2026 09:00
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu