Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat kolaborasi dengan Martha Tilaar Group untuk mendorong lahirnya generasi muda yang mampu berinovasi di industri kosmetik berbasis kearifan lokal.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Kuliah Tamu Kewirausahaan bertajuk “Glow Economy: Beautypreneurs Take the Lead” yang digelar di Aula GKB IV Lantai 9 UMM, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan ini diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas, di antaranya Fakultas Teknik, Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Farmasi, hingga Program Studi Fisioterapi.
Melalui kolaborasi tersebut, UMM dan Martha Tilaar Group ingin membangun semangat kewirausahaan sehingga mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen produk kecantikan, tetapi juga mampu menjadi pelaku usaha (beautypreneurs).
Dalam kesempatan itu, Co-Founder Smith, Tri Putra Salim, membagikan pengalaman membangun bisnis perawatan kulit berbahan organik yang berawal dari sebuah eksperimen sederhana di dapur rumah kos.
Ia melihat masih besarnya peluang pengembangan produk kosmetik lokal berbahan alami karena sebagian besar produk di pasaran masih bergantung pada bahan kimia.
Menurutnya, pelaku usaha muda harus mampu membaca perubahan tren pasar sekaligus berani melakukan inovasi, termasuk pada desain kemasan dan strategi pemasaran digital.
“Jika kalian ingin membangun bisnis yang kuat, jangan hanya menjual barang yang sama dengan pesaing, karena kecepatan membaca tren dan keberanian untuk terus berinovasi adalah kunci agar produk lokal bisa mendunia,” tegasnya.
CEO Martha Tilaar Group, Dr. Kilala Tilaar, menjelaskan bahwa industri kecantikan nasional memiliki daya tahan yang kuat menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Ia menceritakan perjalanan Martha Tilaar Group yang berkembang dari sebuah salon kecil hingga menjadi perusahaan kosmetik nasional.
Meski demikian, menurutnya industri kosmetik Indonesia masih menghadapi tantangan besar berupa tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku.
“Bangsa kita mewariskan ribuan resep kecantikan tradisional dan keanekaragaman hayati yang kaya, sehingga jika potensi ini tidak segera kita olah menjadi inovasi, selamanya kita hanya akan menjadi sasaran pasar bagi negara lain,” urainya.
Kilala menyebut sekitar 85 persen bahan baku kosmetik nasional masih berasal dari luar negeri, padahal Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat melimpah.
Sementara itu, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., mengatakan kampus telah menyiapkan berbagai program untuk mendukung mahasiswa menjadi wirausahawan.
Salah satunya melalui Center of Excellence (CoE) yang menghubungkan pembelajaran di kampus dengan kebutuhan dunia industri sekaligus menyediakan fasilitas inkubasi bisnis.
“Fasilitas Center of Excellence ini secara khusus kami hadirkan untuk mendekatkan mahasiswa dengan realitas industri, agar kalian memiliki kemampuan teknis dan praktis yang mumpuni untuk menjadi pengusaha sukses,” pungkas Subeki.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri, UMM berharap lahir inovasi baru di bidang kosmetik berbasis kekayaan alam Indonesia.
Kolaborasi tersebut juga diharapkan mampu melahirkan pelaku usaha muda yang tidak hanya menciptakan produk bernilai tambah, tetapi juga membuka lapangan kerja serta meningkatkan daya saing industri kosmetik nasional di pasar global.





0 Tanggapan
Empty Comments