Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 83, 84, dan 85.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 37
***
Halaman 83
- Pendidikan
Salah satu amal usaha Muhammadiyah yang bersifat permanen, berkesinambungan, sistemik dan fundamental adalah pendidikan. Pendidikan yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah sejak awal sudah menggunakan sistem klasikal. Seperti telah disinggung oleh Nieuwenhuijze, kurikulum sekolah-sekolah Muhammadiyah banyak mengikuti sekolah-sekolah pemerintah.
Bahkan pada masa penjajahan Belanda, selain madrasah, nama sekolah pun mengikuti nama sekolah pemerintah, seperti Hollands Inlandsche School (H.I.S.), Standard School dan Schakel School, Frobel School dan Kweek School. Hanya saja untuk beberapa jenis sekolah ada tambahannya, yaitu “met de Qur’an” sebagai ciri khas sekolah Muhammadiyah.
BTMHT Tahun 1927 memuat catatan kegiatan cabang dan ranting Muhammadiyah di Jawa Timur yang telah menyelenggarakan pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah, yaitu Cabang
Halaman 84
Surabaya, Cabang Madiun, Cabang Lumajang, Cabang Pasuruan, Cabang Bangil, Cabang Sumenep. Cabang Kraksaan, Cabang Blitar, Cabang Probolinggo, Ranting Gresik, dan Ranting Jombang.(133)
Cabang Muhammadiyah Surabaya memiliki H.I.S. met de Qur’an. Muridnya ada 120 anak laki-laki dan perempuan dengan guru sebanyak 5 orang. Pada akhir 1927 kegiatan pendidikan menempati gedung sekolah di Genteng. Selain itu, Aisyiyah juga mempunyai sebuah madrasah yang mengajarkan ilmu keislaman dan umum. Madrasah ini khusus untuk anak-anak perempuan, dan memiliki 50 murid.
Cabang Muhammadiyah Madiun mempunyai dua sekolah, yaitu Standard School Aisyiyah dan H.I.S. met de Qur’an. Standard School Aisyiyah dikhususkan untuk murid khusus perempuan, tidak dilaporkan jumlah murid dan gurunya. H.I.S. met de Qur’an, berdiri pada 1 Juli 1926, tapi belum mempunyai murid. Baru pada 1 Juli 1927 dimulai lagi.
Cabang Muhammadiyah Lumajang mempunyai dua buah sekolah, yaitu H.I.S. met de Qur’an dan Madrasah Ibtidaiyah. H.I.S. met de Qur’an mempunyai murid sebanyak 28 anak dan gurunya ada dua orang. Madrasah Ibtidaiyah mempunyai murid 51 anak, meski gurunya baru seorang.
Cabang Muhammadiyah Pasuruan mempunyai sebuah sekolah, yaitu H.I.S. met de Qur’an dengan murid sebanyak 53 anak, terdiri dari 4 kelas dan diasuh empat orang guru.
Cabang Muhammadiyah Sumenep telah membuka Madrasah Ibtidaiyah yang masih menumpang di rumah seorang anggota. Jumlah murid dan gurunya tidak dilaporkan. Cabang Muhammadiyah Bangil mempunyai Madrasah Arabiyah, terdiri dari dua kelas dengan murid sebanyak 55 anak. Jumlah guru tidak dilaporkan.
Cabang Muhammadiyah Kraksaan mempunyai 2 buah sekolah, yaitu Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Siswoproyo serta sebuah kursus bahasa Belanda. Madrasah Ibtidaiyah mempunyai murid 25 orang dibagi menjadi dua kelas. Madrasah Siswoproyo mempunyai 40 orang murid. Sekolah ini mengajarkan agama dan pekerjaan tangan. Sedangkan Kursus Bahasa Belanda pesertanya terdiri dari orang dewasa dan 15 orang anak.
Halaman 85
Cabang Muhammadiyah Blitar mempunyai H.I.S. met de Qur’an dengan murid 35 anak, dibagi dalam 3 kelas. Ada juga Schakel School tetapi hanya satu kelas dengan murid sebanyak 9 orang. Cabang Muhammadiyah Probolinggo memiliki sebuah Schakel School met de Qur’an yang dibuka pada bulan Oktober, satu kelas dengan murid 35 anak.
Ranting Gresik telah membuka Madrasah Ibtidaiyah, yang sementara masih menumpang di kantor Muhammadiyah; muridnya sebanyak 30 anak dan seorang guru. Ranting Jombang mempunyai dua buah sekolah, yaitu Standard School dan Schakel School met de Qur’an. Kedua sekolah itu menempati gedung yang sama, yaitu gedung Muhammadiyah Tugu. Standard School mempunyai murid sebanyak 33 anak dan dua orang guru. Schakel School met de Qur’an mempunyai murid 22 anak laki-laki dan perempuan dengan dua orang guru.
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments