Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 82, dan sebagian 83.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 36
***
Halaman 82
- Beramal untuk Kejayaan Islam dan Umat
Sejak kelahirannya, Muhammadiyah agaknya sudah ditakdirkan sebagai suatu persyarikatan yang bergerak untuk izz al-Islam wa al-muslimin (Kejayaan Islam dan umat). Ini terbukti, ketika berdiri, sebuah Ranting Muhammadiyah langsung menggeliat beramal untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dan kesejahteraan umat.
Hampir semua sumber dari daerah-daerah Muhammadiyah di Jawa Timur mengemukakan bahwa ketika berdiri, atau bahkan sebelum berdiri, yang pertama kali dilakukan cabang dan ranting Muhammadiyah adalah menyelenggarakan pengajian. Agaknya sudah ditakdirkan pula bahwa para perintis-pendiri Muhammadiyah adalah muballigh.
Kadar kesulitan yang mereka hadapi cukup tinggi, yaitu (1) mereka belum banyak kawan; (2) paham keagamaan umat pada waktu itu masih terbelenggu oleh sisa-sisa kepercayaan lama; (3) sinkretisme yang sangat kuat; (4) tradisi yang dekaden; dan (5) paham-paham sektarianisme dalam ibadah dan aqidah yang oleh sebagian terbesar umat Islam dianggap sebagai kebenaran.
Dengan kegiatan pengajian itu Muhammadiyah di setiap tempat sedikit demi sedikit berhasil menyeruak kegelapan dan kebekuan. Hasilnya memang tidak besar secara kuantitas. Artinya, tidak banyak orang yang menerima paham pembaharuan Islam yang disampaikan dan diperjuangkan oleh Muhammadiyah. Tetapi siapa pun yang telah menerima, apalagi meyakini kebenaran yang disampaikan oleh muballigh-muballigh Muhammadiyah itu, rata-rata mereka menjadi militan.
Mereka, dengan segala resiko bersama-sama berjuang menghidupkan dan mengembangkan Muhammadiyah. Selain pengajian yang dilakukan oleh setiap cabang dan ranting yang baru berdiri, juga diselenggarakan shalat ‘id di lapangan, penerimaan dan penyaluran zakat fitrah dan qurban. Kegiatan-kegiatan tersebut
Halaman 83
seakan sudah menjadi ciri khas Muhammadiyah sejak awal berdirinya.
Para pendiri Muhammadiyah pada umumnya memperkuat struktur dengan membentuk Muhammadiyah Bagian Aisyiyah dan Pandu Hizbul Wathan. Berdirinya kedua organ senantiasa menyertai berdirinya Muhammadiyah.
Sebagai suatu gambaran tentang amal usaha Muhammadiyah di Jawa Timur setelah Persyarikatan ini berdiri, dapat disebutkan di sini antara lain: a. Normal School telah berdiri di Madiun, Jember, Jombang dan Blitar; b. Kweek School telah berdiri Probolinggo dan Blitar; c. Jam’iyah (perkumpulan pengajian) telah dibentuk di Sukodono, Lumajang, Sumberpucung Malang dan Lumajang; d. Perserikatan Debaten Club didirikan di Bondowoso.(132)
Kiat-kiat pengurus Muhammadiyah di berbagai tempat di Jawa Timur untuk merealisasikan program kerjanya dalam wujud amal usaha nyata dapat diketahui lewat laporan BTMHT tahun 1927. Berita Tahoenan itu memuat empat macam amal usaha, yaitu persekolahan atau pendidikan, gedung buku atau perpustakaan, penerbitan buku, dan majalah.
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments