Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jejak Islam Berkemajuan Soekarno

Iklan Landscape Smamda
Jejak Islam Berkemajuan Soekarno
Oleh : Ir. H. Zen Zainul HP.,CWC.,CHt Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bekasi., peraih Rekor MURI bidang Seni

Siapa yang tidak kenal Soekarno? Presiden pertama Republik Indonesia, Bapak Proklamator, Penyambung Lidah Rakyat, sekaligus singa podium yang namanya menggema di seantero dunia. Lahir 6 Juni 1901 dan mengembuskan napas terakhir pada 21 Juni 1970.

Takdir sejarah mencatat kelahiran dan kepulangannya sama-sama terjadi di bulan yang sama. Maka, tidak salah jika khalayak luas kerap menyebut bahwa Bulan Juni adalah Bulannya Soekarno. Juni menjadi momentum untuk merefleksikan kembali pemikiran, perjuangan, dan spiritualitas sang fajar.

Namun, di balik kegemilangan politik dan retorikanya yang memukau, ada sisi religiusitas Soekarno yang sangat menarik untuk dikulik. Soekarno bukanlah seorang sekuler murni; ia adalah seorang pemikir Islam progresif.

Di balik gagasan-gagasan besarnya tentang nasionalisme dan Islam, mengalir deras pengaruh pemikiran dari seorang guru spiritual sekaligus tokoh pembaruan Islam Nusantara: KH Ahmad Dahlan.

Soekarno muda sangat mengagumi pendiri Muhammadiyah tersebut. Pemikiran progresif, modern, dan berkemajuan yang diusung Kiai Dahlan banyak menginspirasi pandangan keislaman dan nasionalisme Soekarno di kemudian hari.

Kedekatan ideologis dan batin ini tidak tumbuh dalam semalam, melainkan terjalin erat melalui beberapa fase penting dalam hidup Bung Karno.

Masa Belajar di Surabaya: Benih Pemikiran Rasional

Fase pertama kedekatan ini dimulai di sebuah gang sempit di Peneleh, Surabaya. Saat itu, Soekarno muda sedang meniti jalan intelektualnya sambil indekos di rumah tokoh pergerakan legendaris, HOS Tjokroaminoto. Rumah tersebut kerap menjadi tempat singgah para tokoh bangsa, termasuk KH Ahmad Dahlan yang sering datang dari Yogyakarta.

Di Surabaya inilah, Soekarno muda selalu menyempatkan diri untuk hadir dan duduk dengan takzim, mengikuti pengajian-pengajian yang diberikan langsung oleh KH Ahmad Dahlan.

Lewat untaian nasihat sang kiai, Soekarno seperti menemukan oase. Ia sangat terkesan dengan ajaran Kiai Dahlan yang rasional, dinamis, dan tidak dogmatis.

Kiai Dahlan tidak mengajarkan Islam yang sekadar hafalan atau ritual beku, melainkan Islam yang bergerak, Islam yang menjawab tantangan zaman, dan Islam yang membela kaum tertindas (mustad’afin).

Pemikiran “Islam Berkemajuan” inilah yang kemudian membekas sangat dalam di sanubari Soekarno.

Menjadi Anggota Muhammadiyah: Pengakuan Iman di Tanah Pengasingan

Kekaguman masa muda itu tidak luntur oleh waktu; ia justru membuahkan keterikatan batin yang semakin mendalam. Ketika Soekarno dijatuhi hukuman pengasingan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Bengkulu pada tahun 1938, ruang gerak politiknya memang dipersempit, namun ruang spiritualnya justru meluas.

SMPM 5 Pucang SBY

Di tanah pengasingan Bengkulu inilah, Soekarno memutuskan untuk melembagakan kekagumannya. Ia resmi mendaftarkan diri menjadi anggota Muhammadiyah.

Tidak sekadar memegang kartu anggota, Bung Karno terjun langsung mempraktikkan ilmu dari Kiai Dahlan dengan menjadi Ketua Majelis Pengajaran Muhammadiyah di Bengkulu. Ia aktif mengajar di institusi pendidikan organisasi tersebut, mendidik anak-anak muda, dan menanamkan paham Islam yang rasional serta nasionalis.

Bagi Soekarno, Muhammadiyah adalah rumah ideologis tempat ia melabuhkan pemikiran keislamannya yang progresif.

Penetapan Gelar Pahlawan: Penghormatan Tertinggi Sang Murid untuk Gurunya

Waktu terus berjalan, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, dan Soekarno naik menjadi orang nomor satu di republik ini.

Namun, ia tidak pernah lupa pada akar sejarahnya. Ia tidak pernah lupa pada sosok yang telah membuka cakrawala berpikirnya tentang Islam yang berkemajuan.

Sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas jasa-jasa besar Kiai Dahlan dalam mencerdaskan bangsa dan mereformasi cara beragama di Indonesia, Presiden Soekarno menetapkan KH Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1961.

Lewat keputusan tersebut, Soekarno seolah ingin menegaskan kepada seluruh bangsa bahwa api perjuangan Kiai Dahlan adalah api yang menyalakan semangat kemerdekaan Indonesia.

Melalui jalinan sejarah ini, kita melihat bahwa Bung Karno dan KH Ahmad Dahlan adalah dua kutub yang saling menguatkan: yang satu menyalakan api pembaruan agama, dan yang lain membakar semangat nasionalisme di atas fondasi pemikiran tersebut.

Di Bulan Juni yang penuh sejarah ini, mengenang Soekarno berarti juga merawat kembali warisan pemikiran Islam rasional yang ia timba dari sang guru, KH Ahmad Dahlan.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 25/06/2026 07:18
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu