Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan memasuki usia ke-40 tahun pada 2026. Pesantren yang didirikan oleh Drs. KH. Muhammad Dawam Saleh pada 13 September 1986 itu memperingati hari lahir (milad) ke-40 yang dikenal dengan sebutan Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah.
Menjelang peringatan tersebut, panitia memperkenalkan logo resmi Dasawarsa ke-4 yang sarat dengan makna filosofis. Ketua Panitia Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah, Ustadz Azzam Musoffa, menjelaskan filosofi logo tersebut melalui keterangan yang disampaikan melalui WhatsApp, Ahad (21/6/2026).
Azzam menjelaskan bahwa angka 40 pada logo menjadi simbol perjalanan panjang Al-Ishlah selama empat dekade dalam menjalankan amanah pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat.
“Angka 40 sebagai simbol perjalanan empat dekade Pondok Pesantren Al-Ishlah dalam mengemban amanah pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat. Empat puluh tahun menjadi penanda kematangan, keberkahan, serta konsistensi dalam menebarkan nilai-nilai Islam dan ilmu pengetahuan,” tulis Azzam mengawali keterangannya.
Menurutnya, usia 40 tahun menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi atas perjalanan yang telah dilalui sekaligus memperkuat komitmen dalam menghadapi masa depan.
Salah satu elemen utama dalam logo adalah lingkaran emas yang membentuk angka nol.
Azzam menjelaskan bahwa lingkaran tersebut melambangkan kesinambungan, persatuan, dan tekad Al-Ishlah untuk terus berkembang.
“Makna Lingkaran emas pada angka Nol melambangkan kesinambungan, persatuan, dan tekad Al-Ishlah untuk terus bergerak maju tanpa henti dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat.”
Logo Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah menggunakan kombinasi warna hijau, putih, dan emas yang mencerminkan identitas serta karakter pesantren.
“Ada pun bendera berwarna hijau, putih, dan emas menggambarkan identitas serta karakter Al-Ishlah. Warna hijau melambangkan nilai-nilai keislaman, pertumbuhan, dan harapan. Warna putih melambangkan keikhlasan, kesucian niat, dan integritas. Warna emas melambangkan kejayaan, prestasi, serta cita-cita luhur yang terus diperjuangkan,” terang putra kedua pengasuh Ponpes Al-Ishlah tersebut.
Elemen lain yang tidak kalah penting adalah gambar buku terbuka yang menjadi simbol ilmu pengetahuan dan tradisi keilmuan pesantren.
“Buku terbuka menjadi simbol ilmu pengetahuan, tradisi keilmuan pesantren, serta komitmen Al-Ishlah dalam membangun peradaban melalui pendidikan yang berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan khazanah keilmuan Islam,” imbuhnya.
Sementara itu, tulisan tahun 1986–2026 menjadi penanda perjalanan Al-Ishlah sejak berdiri hingga mencapai usia 40 tahun.
“Tahun 1986–2026 menandai rentang perjalanan Al-Ishlah sejak berdiri hingga mencapai usia ke-40 tahun, sebagai momentum refleksi atas perjuangan yang telah dilalui sekaligus ikhtiar menyongsong masa depan yang lebih gemilang,” sambungnya.
Secara keseluruhan, logo Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah merepresentasikan semangat pembaruan, keberlanjutan, dan pengabdian kepada umat.
“Keseluruhan desain logo menghadirkan makna tentang semangat pembaruan, keberlanjutan, dan pengabdian. Logo ini menjadi representasi tekad Pondok Pesantren Al-Ishlah untuk terus tumbuh, menjaga nilai-nilai luhur pesantren, serta berkontribusi dalam membangun generasi dan peradaban yang berlandaskan iman, ilmu, dan amal,” pungkasnya.
Untuk menyemarakkan milad ke-40, panitia telah menyiapkan berbagai kegiatan yang berlangsung sejak Juni hingga September 2026.
Kegiatan tersebut meliputi khitan massal, lomba olahraga, lomba keagamaan, bakti sosial pengobatan gratis, jalan santai masyarakat dan santri, gelar budaya, hingga acara puncak Dasawarsa ke-4.
Acara inti yang akan digelar pada 27 September 2026 meliputi tasyakuran, launching Warta Al-Ishlah, launching buku, serta pelantikan IKPI Pusat.
Peringatan Dasawarsa ke-4 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat semangat kebersamaan seluruh keluarga besar Al-Ishlah sekaligus meneguhkan kontribusi pesantren dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat.





0 Tanggapan
Empty Comments