Aktivitas digital yang tinggi belum otomatis menunjukkan budaya literasi yang kuat. Ironi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Pelatihan Menulis Opini Forum Silaturahmi Kepala Sekolah Muhammadiyah (FOSKAM) Jawa Timur di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo, Jalan Raden Patah No. 91F, Pucanganom, Sidoarjo, Sabtu (15/8/2026).
Mengangkat tema “Tingkatkan Kemampuan Menulis Opini yang Kritis, Konstruktif, dan Berdampak Positif bagi Dunia Pendidikan”, kegiatan tersebut dimulai pukul 08.30 WIB.
Para peserta tidak hanya diajak memahami teknik menulis, tetapi juga melihat aktivitas menulis sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat literasi pendidikan.
Ketua FOSKAM Jawa Timur, Edi Susanto, M.Pd., menilai sekolah memiliki banyak pengalaman yang sebenarnya layak menjadi bahan tulisan.
“Bapak dan Ibu kepala sekolah memiliki banyak pengalaman. Ada program, inovasi, persoalan, bahkan keberhasilan di sekolah yang bisa menjadi gagasan untuk ditulis,” ujar Edi.
Ia mendorong peserta tidak berhenti pada kegiatan membaca, tetapi mulai menghasilkan karya.
“Kita harus produktif menulis. Jangan sampai literasi hanya dimaknai sebagai kegiatan membaca. Menulis juga menjadi bagian penting dari budaya literasi,” katanya.
Menurut Edi, penguatan literasi akan menjadi salah satu perhatian FOSKAM Jawa Timur.
“Program FOSKAM selanjutnya akan diarahkan pada penguatan literasi dan numerasi. Karena itu, mari kita mulai membangun budaya tersebut dari kepala sekolah dan kemudian ditularkan ke sekolah masing-masing,” tuturnya.
Wakil Pimpinan Redaksi Jawa Pos, Firzan Syahroni, membuka pemaparannya dengan memperkenalkan sejumlah awak redaksi yang hadir dalam pelatihan. Ia menyebut Andri yang menangani rubrik opini, serta Ahmad Santoso dan Nasikha.
Firzan kemudian membawa peserta pada persoalan yang lebih luas, yakni bagaimana kebiasaan digital masyarakat belum sepenuhnya berbanding lurus dengan budaya literasi.
“Sekarang kita menghadapi situasi yang menarik. Penggunaan gadget di kalangan pelajar sangat tinggi, tetapi kesadaran literasinya masih menjadi persoalan,” ujar Firzan.
Ia menyebut informasi yang diperolehnya dari Komisi Nasional Pendidikan dan berbagai pembahasan literasi menunjukkan adanya tantangan besar dalam membangun budaya baca dan tulis.
“Literasi rendah, tetapi aktif dalam media sosial. Ini sebuah ironi,” katanya.
Menurut Firzan, kondisi tersebut justru dapat menjadi peluang. Jika masyarakat sudah terbiasa menggunakan perangkat digital, ruang tersebut dapat diarahkan untuk menghasilkan konten yang lebih bermakna.
“Jangan hanya menjadi pengguna. Kita perlu mendorong guru dan siswa menjadi orang yang menghasilkan gagasan dan pengetahuan,” ujarnya.
Firzan mengatakan gerakan guru menulis telah berkembang di Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya. Menurutnya, dunia pendidikan membutuhkan lebih banyak suara dari guru dan kepala sekolah.
“Gerakan guru menulis sudah berjalan di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia. Kami juga menggandeng Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah,” katanya.
Baginya, guru memiliki posisi strategis untuk berbicara tentang pendidikan karena mereka mengalami langsung dinamika di ruang kelas.
“Guru punya pengalaman yang tidak dimiliki semua orang. Setiap hari mereka bertemu siswa, menghadapi persoalan pembelajaran, berkomunikasi dengan orang tua, dan menjalankan kebijakan pendidikan. Semua itu bisa menjadi bahan tulisan,” jelas Firzan.
Ia mendorong peserta agar tidak terlalu takut terhadap kualitas tulisan pada tahap awal.
“Jangan menunggu tulisan sempurna baru mulai menulis. Mulailah dari apa yang kita tahu dan alami. Setelah itu tulisan bisa diperbaiki,” tuturnya.
Firzan kemudian menyampaikan sebuah kalimat yang menjadi penekanan dalam sesi tersebut.
“Kalau kita ingin mengenal dunia, membacalah. Tapi kalau kita ingin dikenal dunia, menulislah,” ujarnya.
Bagi FOSKAM Jawa Timur, pelatihan tersebut bukan sekadar agenda peningkatan keterampilan teknis. Ada misi untuk menjadikan pengalaman sekolah sebagai sumber gagasan yang dapat dibaca masyarakat.
Edi mengatakan banyak praktik pendidikan yang berhenti sebagai aktivitas internal karena tidak terdokumentasikan dalam bentuk tulisan.
“Kadang kita melakukan sesuatu yang baik di sekolah, tetapi setelah kegiatan selesai, ceritanya juga selesai. Padahal pengalaman itu bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain,” katanya.
Karena itu, ia meminta peserta mulai membangun kebiasaan menulis secara konsisten.
“Tidak harus langsung menulis panjang. Yang penting ada kemauan untuk mendokumentasikan gagasan dan pengalaman. Dari kebiasaan kecil itu, budaya menulis akan tumbuh,” ujarnya.
Ia berharap pelatihan tersebut tidak menghasilkan peserta yang hanya memahami teori menulis, tetapi juga menghasilkan karya.
“Target kita bukan sekadar selesai mengikuti pelatihan. Setelah ini harus ada tulisan. Tulisan kepala sekolah, guru, dan praktisi pendidikan harus semakin banyak,” tegas Edi.
Pelatihan FOSKAM Jawa Timur tersebut akhirnya menempatkan persoalan literasi dalam perspektif yang lebih luas. Di tengah derasnya arus informasi dan tingginya penggunaan media sosial, sekolah justru ditantang untuk tidak sekadar menjadi konsumen informasi.
Kepala sekolah dan guru didorong menjadi penghasil gagasan—membaca realitas pendidikan, mengolah pengalaman menjadi pemikiran, kemudian menuangkannya melalui tulisan yang kritis, konstruktif, dan berdampak.
Dengan demikian, menulis bukan sekadar keterampilan berbahasa, tetapi menjadi salah satu cara bagi insan pendidikan untuk ikut berbicara dan memengaruhi arah masa depan pendidikan.





0 Tanggapan
Empty Comments