Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Guru Digugu lan Ditiru: Membaca Ulang Peran Guru di Era Digital melalui Hadis Tarbawi

Iklan Landscape Smamda
Guru Digugu lan Ditiru: Membaca Ulang Peran Guru di Era Digital melalui Hadis Tarbawi
Suasana pembelajaran kelas (Foto: Istimewa)
Oleh : Nabila Ayu Mabdukha MS, Nikmatul Fitriyah, Fharanita Aulia Rahma

Pendidikan pada dasarnya tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter. Namun, dalam praktiknya, makna pendidikan kerap mengalami penyempitan.

Guru sering kali diposisikan hanya sebagai penyampai materi sehingga fungsi utamanya sebagai pembentuk karakter perlahan terpinggirkan.

Akibatnya, keberhasilan pembelajaran lebih banyak diukur dari aspek kuantitatif, seperti nilai dan capaian akademik, bukan dari kualitas perubahan sikap peserta didik. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan cenderung berjalan secara administratif, tetapi belum mampu menyentuh dimensi moral secara mendalam.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Penelitian yang dilakukan oleh Iksan Kamil Sahri dalam Jurnal Tarbawi menunjukkan bahwa peserta didik cenderung meniru perilaku guru sebagai representasi nyata dari nilai yang diajarkan.

Hal ini menegaskan bahwa keteladanan memiliki peran sentral dalam proses pendidikan. Ketika keteladanan melemah, proses internalisasi nilai juga ikut mengalami penurunan.

Permasalahan tersebut menjadi semakin kompleks di era digital. Peserta didik kini hidup dalam arus informasi yang tidak terbatas. Mereka tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari berbagai sumber di media sosial.

Dalam banyak kasus, figur yang ditiru bukan lagi guru, melainkan influencer yang lebih dekat secara emosional dan visual dengan kehidupan mereka. Pada titik ini, konsep “guru digugu lan ditiru” mengalami pergeseran yang signifikan, dari ruang kelas ke ruang digital yang tidak selalu memiliki landasan nilai yang kuat.

Dalam perspektif hadis tarbawi, keteladanan bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari proses pendidikan. Hal ini tercermin dari bagaimana Nabi Muhammad SAW menjalankan perannya sebagai pendidik. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Shahih Muslim:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.”

Hadis ini tidak hanya menggambarkan akhlak Rasulullah, tetapi juga mengandung pesan metodologis bahwa nilai tidak cukup disampaikan secara lisan, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Rasulullah SAW tidak memisahkan antara ucapan dan perbuatan. Justru di situlah letak kekuatan pendidikan beliau.

Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, guru yang hanya berfokus pada penyampaian materi tanpa menghadirkan keteladanan sejatinya telah mengabaikan metode pendidikan yang paling fundamental dalam Islam.

Hal ini diperkuat oleh kajian dalam Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan yang menyatakan bahwa hadis tarbawi mengandung prinsip pendidikan yang menyeluruh, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta menempatkan pendidik sebagai teladan utama dalam pembentukan karakter.

Dengan demikian, guru bukan sekadar pengajar, melainkan figur moral yang menentukan arah pendidikan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara idealitas dan praktik. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab sering diajarkan di kelas, tetapi tidak selalu tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Dalam pandangan penulis, kondisi ini menunjukkan bahwa krisis pendidikan tidak hanya terletak pada sistem, tetapi juga pada melemahnya integritas dalam praktik pendidikan itu sendiri.

Hal ini sejalan dengan hadis riwayat Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Dalam konteks pendidikan, guru dapat dipahami sebagai pemimpin dalam ruang pembelajaran. Konsekuensinya, tanggung jawab guru tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga mencakup pembinaan moral peserta didik.

Namun, dalam praktiknya, tanggung jawab ini sering kali dipersempit. Guru merasa cukup ketika materi telah disampaikan tanpa memastikan apakah nilai yang diajarkan benar-benar dipahami dan diinternalisasi.

Padahal, jika hadis ini dipahami secara komprehensif, peran guru bersifat integral, yakni mengajar sekaligus membimbing. Ketika salah satu aspek diabaikan, proses pendidikan menjadi tidak seimbang.

Di era digital, tantangan tersebut semakin nyata. Keteladanan tidak cukup hanya ditampilkan di dalam kelas, tetapi juga harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam penggunaan teknologi. Guru dituntut tidak hanya adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi juga mampu menjadi filter nilai di tengah derasnya arus informasi.

Kritik terhadap praktik pendidikan yang mengabaikan keteladanan bukan dimaksudkan untuk menyalahkan guru semata, melainkan sebagai refleksi terhadap arah pendidikan saat ini. Ketika pendidikan direduksi menjadi sekadar transfer ilmu, dimensi pembentukan karakter akan semakin terpinggirkan.

Melalui perspektif hadis tarbawi, dapat disimpulkan bahwa keteladanan merupakan fondasi utama dalam pendidikan yang tidak dapat digantikan oleh metode lain. Rasulullah SAW telah memberikan contoh bahwa keberhasilan pendidikan terletak pada keselarasan antara ucapan dan tindakan.

Oleh karena itu, reaktualisasi peran guru sebagai figur yang “digugu lan ditiru” menjadi sangat penting, terutama di tengah tantangan era digital. Pendidikan tidak cukup hanya melahirkan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga harus mampu membentuk pribadi yang berakhlak dan berintegritas.

Revisi Oleh:
  • Zahra Putri Pratiwig - 26/04/2026 00:35
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡