Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM) tidak cukup hanya melahirkan pesilat tangguh. Lebih dari itu, Tapak Suci diharapkan tumbuh menjadi kekuatan sosial yang mampu merangkul semua kalangan, membela kebenaran, dan memperkuat kehidupan kebangsaan.
Pesan itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir seusai membuka Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Haedar, salah satu kekuatan Tapak Suci terletak pada karakternya yang inklusif. Karena itu, ruang pengembangan Tapak Suci tidak boleh terbatas pada kelompok sosial tertentu.
“Tapak Suci ini adalah ortom yang paling inklusif. Diharapkan dapat merangkul seluruh elemen masyarakat. Baik perempuan maupun laki-laki, tua maupun muda, semua bisa menjadi anggota Tapak Suci,” kata Haedar.
Bagi Haedar, keterbukaan tersebut penting agar Tapak Suci semakin hadir di tengah masyarakat. Bukan hanya sebagai organisasi bela diri, tetapi juga sebagai wadah pembentukan karakter dan pengabdian.
Haedar menekankan, kekuatan Tapak Suci tidak boleh berhenti pada kemampuan fisik. Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, Tapak Suci harus menjaga nilai iman, takwa, dan akhlak dalam setiap proses pembinaannya.
Nilai-nilai itu dipadukan melalui pembinaan rohani dan jasmani. Tujuannya bukan sekadar membentuk pesilat yang kuat, tetapi manusia yang memiliki keberanian sekaligus akhlak.
Dari sinilah, menurut Haedar, pentingnya membangun jiwa kesatria.
Namun jiwa kesatria yang dimaksud bukan semata keberanian dalam menghadapi lawan di arena. Jiwa kesatria harus berkembang menjadi jiwa kenegarawanan.
“Jiwa kesatria yang dimaksud adalah jiwa kenegarawanan yang mampu membela kebenaran tanpa mengenal perbedaan, selalu menebar kebaikan, dan menjadi kekuatan yang dapat bersinergi dengan pemerintah untuk membela negara,” ujarnya.
Pesan tersebut menempatkan Tapak Suci dalam posisi yang lebih luas. Kekuatan fisik harus berjalan bersama kekuatan moral. Keahlian bela diri harus berujung pada keberanian membela kebenaran.
Dengan demikian, semakin tinggi kemampuan seorang pesilat, semakin besar pula tanggung jawab sosial yang menyertainya.
Membela Konstitusi
Semangat kebangsaan itu juga tercermin dalam pemberian anugerah kehormatan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.
Haedar menjelaskan, penghargaan tersebut diberikan karena terdapat nilai yang dinilai sejalan dengan semangat Tapak Suci, terutama dalam membela kepentingan masyarakat, menjunjung kebenaran, serta menjaga bangsa dan negara.
Ia menilai komitmen terhadap konstitusi menjadi salah satu titik temu tersebut.
Dalam Ikrar Tapak Suci, terdapat komitmen untuk membela dan menjunjung tinggi konstitusi serta peraturan yang berlaku. Nilai itu, kata Haedar, memiliki relevansi dengan tugas kepolisian dalam menjaga hukum dan ketertiban negara.
“Dalam Ikrar Tapak Suci tercantum pembelaan terhadap konstitusi dan aturan yang berlaku. Hal ini sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Polri,” jelasnya.
Karena itu, Haedar menilai Kapolri layak menerima anugerah sebagai pendekar kehormatan Tapak Suci.
Penghargaan tersebut sekaligus diharapkan menjadi pintu bagi sinergi yang lebih luas antara Tapak Suci, Muhammadiyah, dan institusi negara.
Bagi Haedar, sinergi itu penting selama diletakkan dalam kerangka kepentingan bangsa dan perlindungan masyarakat.
“Ini merupakan bentuk dukungan Tapak Suci terhadap penegakan hukum dan konstitusi di Indonesia, terutama dalam membela dan melindungi masyarakat Indonesia,” katanya.
Muktamar XVI Tapak Suci dengan demikian tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan organisasi. Lebih jauh, muktamar menjadi momentum untuk menegaskan kembali arah Tapak Suci: kuat secara fisik, matang secara moral, terbuka bagi semua, dan hadir untuk kepentingan bangsa. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments