Bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) maupun para alumninya, nama Dr Drs Husni Amriyanto Putra MSi bukanlah sosok asing.
Ia bukan sekadar dosen Hubungan Internasional (HI), tetapi figur penghubung yang merawat rasa kekeluargaan lintas generasi.
Di ruang kelas, di forum alumni, hingga percakapan sederhana di grup WhatsApp, kehadiran Husni menghadirkan kesan hangat—membumi, dekat, dan selalu hadir ketika dibutuhkan.
Tak sedikit mahasiswa menyebutnya sebagai dosen yang tidak berjarak. Sebagian alumni memanggil Pak Husni, sebagian lain menyapa dengan akrab sebagai Bang Husni.
Sapaan yang beragam itu justru menegaskan satu hal: kedekatan personal yang jarang dimiliki figur akademik dengan seabrek jabatan.
Kedekatan di tengah Kesibukan
Ia aktif berinteraksi dengan mahasiswa dan alumni, bahkan tak segan menyapa secara pribadi melalui pesan singkat. Di tengah kesibukan struktural dan profesional, Husni tetap menjaga komunikasi hangat.
Guyonnya ringan, kadang usil, tetapi selalu menghadirkan suasana cair. Jika marah, kemarahannya tidak pernah menyentuh ranah pribadi—sekadar teguran untuk kebaikan. Usai itu, percakapan kembali diwarnai tawa. Masalah diselesaikan cepat, hubungan tetap terjaga erat.
Kedekatan Husni dengan alumni tidak berhenti pada relasi informal. Ia pernah diamanahi sebagai Ketua Umum Keluarga Alumni UMY (KAUMY) dan memanfaatkan peran itu untuk melakukan terobosan penting: memperluas jaringan dengan mendirikan berbagai pengurus daerah KAUMY.
Langkah ini bukan hanya ekspansi organisasi, melainkan upaya membangun ekosistem saling dukung antarsesama alumni.
Dalam pandangannya, jaringan alumni bukan hanya nostalgia masa kuliah, tetapi modal sosial untuk saling menguatkan dalam kehidupan profesional dan pengabdian masyarakat.
Bagi sejumlah alumni, Husni hadir layaknya kakak—memberi arahan, membuka jalan, bahkan membantu ketika ada yang membutuhkan. Jabatan tidak menjadikannya elitis; justru semakin menegaskan komitmennya untuk tetap dekat dengan akar komunitas akademiknya.
Perjalanan akademik Husni bermula dari Program Studi Hubungan Internasional UMY pada jenjang sarjana.
Aktivis IMM
Sejak mahasiswa, ia telah aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, termasuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Sebuah ruang kaderisasi yang membentuk karakter kepemimpinan, keberanian berpikir, dan sensitivitas sosial.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister di Universitas Gadjah Mada (UGM), sebelum menuntaskan program doktoral di UMY. Rangkaian pendidikan ini mempertemukan kedalaman akademik dengan kedekatan emosional terhadap almamaternya sendiri.
Tidak berhenti di dunia akademik, Husni juga mengikuti Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) ke-46 Lemhannas RI.
Sebuah pendidikan strategis yang memperluas perspektif kebangsaan, geopolitik, dan kepemimpinan nasional. Pengalaman tersebut memperkaya perannya sebagai akademisi sekaligus pemikir kebijakan.
Di lingkungan Persyarikatan, Husni dipercaya sebagai Wakil Ketua IV Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Posisi ini menuntut kemampuan membaca dinamika global sekaligus merumuskan kemitraan strategis yang berdampak bagi umat dan bangsa.
Di sektor profesional, ia juga mengemban amanah sebagai Komisaris Independen PT Telkom Akses. Jabatan yang mentereng ini tidak mengubah sikapnya.
Ia tetap sederhana, terbuka, dan dekat dengan mahasiswa maupun alumni. Bagi mereka yang pernah merasakan bantuannya, Husni bukan sekadar pejabat—melainkan sosok kakak yang tulus.
3 Kata tentang Husni
Karakter Husni sering digambarkan dalam tiga kata: humoris, tegas, dan solutif. Humor menjadi jembatan kedekatan. Ketegasan menjaga arah.
Sementara kemampuan menyelesaikan masalah dengan cepat membuat banyak orang merasa aman berada di sekitarnya.
Kombinasi ini jarang dimiliki secara utuh oleh seorang akademisi sekaligus pejabat publik. Namun pada diri Husni, semuanya hadir secara alami—mungkin karena ia tidak pernah memposisikan diri di menara gading, melainkan tetap berjalan di tengah komunitasnya.
Di tengah perubahan zaman yang kerap menciptakan jarak antara kampus dan alumninya, sosok seperti Husni menjadi penting. Ia bukan hanya pengajar, tetapi penjaga ikatan—menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan UMY melalui relasi yang hangat dan bermakna.
Bagi mahasiswa, ia adalah mentor. Bagi alumni, ia saudara. Kemudian bagi Persyarikatan, ia penggerak. Dan bagi bangsa, ia bagian dari mozaik kepemimpinan intelektual yang bekerja dalam senyap namun berdampak.
Pada akhirnya, kisah Husni Amriyanto Putra bukan sekadar cerita tentang jabatan atau gelar akademik.
Ini adalah kisah tentang kedekatan manusiawi. Tentang bagaimana ilmu, kepemimpinan, dan kepedulian dapat berjalan beriringan—membentuk seorang dosen yang bukan hanya dihormati, tetapi juga dicintai.





0 Tanggapan
Empty Comments