Kesejahteraan adalah impian banyak orang. Untuk meraihnya, manusia bekerja siang dan malam. Menguras tenaga. Mengorbankan waktu. Berjuang agar kebutuhan pangan, sandang, dan papan terpenuhi. Agar keluarga hidup layak. Agar masa depan lebih baik.
Namun, bagaimana jika jalan menuju kesejahteraan justru menghancurkan sumber kehidupan?
Hutan dibakar atas nama pembangunan. Lahan dibuka demi keuntungan. Pepohonan tumbang, satwa kehilangan habitat, dan asap menyelimuti permukiman.
Ada yang menghitung keuntungan dari lahan yang terbakar. Ada pula yang harus menanggung akibatnya: kehilangan mata pencaharian, gangguan kesehatan, kerusakan lingkungan, bahkan ancaman terhadap keselamatan jiwa.
Di sinilah kita perlu bertanya: kesejahteraan macam apa yang sedang kita bangun?
Jika keuntungan hanya dinikmati segelintir orang, sementara kerugiannya ditanggung masyarakat luas, apakah itu masih layak disebut kemakmuran?
Kesejahteraan yang Kehilangan Rasa Syukur
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengingatkan pentingnya tiga sikap dalam menjalani kehidupan: bersyukur ketika menerima nikmat, bersabar ketika menghadapi ujian, dan beristigfar ketika melakukan kesalahan.
Tiga sikap ini bukan sekadar urusan hubungan pribadi dengan Allah SWT. Ketiganya juga dapat menjadi landasan etika dalam memperlakukan sesama manusia dan alam.
Syukur, misalnya, tidak cukup diucapkan melalui lisan. Syukur menuntut tanggung jawab dalam menggunakan nikmat. Kekayaan alam bukan semata-mata sumber keuntungan, melainkan amanah yang harus dijaga.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Ibrahim ayat 7: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
Ayat ini mengajak kita memahami bahwa nikmat dan tanggung jawab tidak dapat dipisahkan. Ketika kekayaan alam dikelola dengan bijaksana, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas dan berkelanjutan.
Sebaliknya, ketika pemanfaatannya didorong oleh keserakahan, sumber kemakmuran dapat berubah menjadi sumber bencana.
Hutan adalah salah satu nikmat itu. Pepohonannya menyimpan karbon, membantu menjaga tata air, menjadi habitat satwa, dan menopang kehidupan masyarakat. Hutan bukan sekadar hamparan lahan yang menunggu untuk menghasilkan uang.
Tetapi, ketika hutan dipandang hanya dari nilai ekonominya, yang terlihat hanyalah potensi keuntungan. Fungsi ekologisnya diabaikan. Hak masyarakat yang hidup di sekitarnya terpinggirkan. Kehidupan satwa dianggap tidak penting.
Pada titik itu, kita perlu menata ulang pemahaman tentang syukur. Jangan sampai mulut mengucapkan hamdalah, tetapi tangan justru merusak amanah Allah.
Surah Ar-Rahman mengulang pertanyaan yang begitu menggugah: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Pertanyaan itu semestinya tidak hanya kita jawab dalam doa. Ia perlu dijawab melalui tindakan nyata: menjaga hutan, mencegah pembakaran lahan, memulihkan ekosistem yang rusak, dan memastikan kekayaan alam tidak hanya menguntungkan mereka yang memiliki modal.
Ketika rakyat diminta bersabar, siapa yang harus bertanggung jawab?





0 Tanggapan
Empty Comments