Perkembangan teknologi yang masif tidak boleh membuat generasi muda kehilangan arah spiritualnya. Pesan kuat inilah yang mengemuka dalam materi ketiga Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati (PKDTM) 1 Batch 2 yang digelar oleh Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PC IPM) Brondong, Kamis (9/7/2026).
Menghadirkan tokoh inspiratif Maskun Al-Fataby sebagai pemateri dan dipandu oleh Ahmad Nafis Al-Khoiri sebagai moderator, sesi ini mengupas tuntas materi “Keislaman”.
Di hadapan para kader, Maskun mengajak seluruh peserta untuk menjadikan akidah dan akhlak sebagai pondasi utama dalam menuntut ilmu, sekaligus tameng kokoh dalam menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks. Hal ini selaras dengan nasihat klasik dari Imam Malik, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu, karena adab adalah hiasan bagi ilmu itu sendiri.”
Pendidikan Bukan Sekadar Materi
Dalam paparannya, Maskun menyoroti esensi pendidikan modern. Ia menegaskan bahwa esensi pendidikan yang sesungguhnya adalah mencerdaskan akal dan menyentuh jiwa, bukan sekadar memenuhi kebutuhan jasmani atau bersifat seremonial.
Ia juga sempat menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah hangat di masyarakat. Menurutnya, pemenuhan gizi fisik memang penting, namun pemenuhan “gizi” spiritual dan intelektual jauh lebih krusial. Pendidikan sejatinya harus bermuara pada lahirnya generasi yang berilmu, berkarakter mulia, dan mampu membawa kemaslahatan nyata bagi masyarakat luas.
”Alon-alon asal kelakon. Mencari ilmu pelan-pelan tidak masalah, asalkan ilmu yang didapat adalah ilmu yang bermanfaat,” ujar Maskun menekankan pentingnya proses dan keberkahan dalam belajar.
Menghadapi Disrupsi Teknologi dan AI
Lebih lanjut, Maskun mengingatkan para kader IPM mengenai realitas era digital hari ini. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, kecanggihan teknologi, hingga penetrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kian tak terbendung, laksana pisau bermata dua.
Di satu sisi, teknologi memberikan kemudahan luar biasa. Namun di sisi lain, jika tidak dibarengi dengan akidah yang kuat, kemajuan tersebut justru berpotensi mengikis nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan. Di era di mana kecerdasan buatan bisa meniru pikiran manusia, integritas dan akidah adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah bisa diduplikasi oleh mesin.
Oleh karena itu, ia berpesan agar kader IPM Brondong tidak menjadi generasi yang gagap teknologi, tetapi juga tidak boleh menjadi generasi yang kehilangan jati diri Islamnya. Ungkapan populer dari Albert Einstein bahwa “Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh,” menjadi penegas betapa pentingnya keharmonisan ini.
Sebagai penutup, Maskun mengajak kader IPM untuk menginternalisasi spirit perjuangan Muhammadiyah, yaitu menjadi kader yang berilmu amaliah dan beramal ilmiah, yang ilmunya mencerahkan dan amalnya menggerakkan peradaban. Di lain sisi kemajuan intelektual harus berjalan beriringan dengan kematangan spiritual. Ilmu boleh melesat maju, namun akidah pantang untuk mundur. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments