Di aula TK ABA 40 PPS yang sederhana namun penuh semangat, puluhan guru TK dan Kober kembali berkumpul untuk sesi ketiga workshop, Kamis (9/7/2026). Kali ini, mereka mendalami salah satu perubahan mendasar dalam dunia pendidikan anak usia dini: peralihan dari model pembelajaran sentra menuju model area, yang diintegrasikan dengan Kurikulum Aisyiyah.
Pemaparan materi dibawakan oleh Sayyidatul Ifadah, M.Pd, dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah Gresik dengan tema “Integrasi Model Pembelajaran Area dengan Kurikulum Aisyiyah Pada Digital Native”. Sebelum materi dimulai, dua sambutan singkat membuka ruang diskusi dengan penuh harapan.
Ketua PRA Suci Faizafun Nikmah, S.Ag, menyampaikan dengan nada tenang namun tegas.
“Model pembelajaran kita akan berpindah dari sentra ke area. Memang tampak berat di awal, tapi insyaallah jika mau belajar bersama, selanjutnya akan terasa ringan,” tegasnya.
Sambutan berikutnya datang dari Ketua PAUD Dasmen Dr. Anis Shofatun Nikmah, S.Si, M.Pd, yang juga mengisi materi pada hari pertama. Ia menekankan pentingnya pelatihan ini bagi pertumbuhan para guru.
“Kami harapkan bu guru TK maupun Kober bisa semakin bertumbuh dan menambah skill. Apalagi anak-anak sekarang adalah generasi digital native,” ujarnya.
Sayyidatul Ifadah kemudian membuka tabir tantangan nyata yang dihadapi guru di lapangan. Dalam model area, satu kelas biasanya membuka delapan area dalam sehari—meski jumlah tersebut sangat bergantung pada luas ruangan. Tantangan terbesar adalah ketersediaan media pembelajaran yang harus memadai untuk setiap area, serta pengelolaan kelas agar tidak chaos.
“Permasalahan yang dialami guru selama peralihan ini cukup banyak,” ungkap Ayunda.
Namun ia tidak berhenti pada masalah. Dosen muda ini langsung menyajikan solusi praktis yang bisa langsung diterapkan: membuka maksimal empat area dalam satu hari, membatasi jumlah anak di setiap area, serta membuat zonasi atau batas yang jelas dan transparan agar kegiatan tidak saling tumpang tindih.
Merancang Kegiatan Pembelajaran
Lebih dari sekadar teori, workshop selama tiga jam ini diisi dengan praktik langsung. Para guru diajak merencanakan kegiatan pembelajaran berbasis area, merancang aktivitas yang kreatif, sekaligus memikirkan bagaimana mengimbangi kecerdasan teknologi anak-anak tanpa kehilangan sentuhan humanis dan nilai-nilai Aisyiyah.
Di balik perubahan teknis ini, sesungguhnya ada pergeseran yang lebih dalam: dari pendekatan yang seragam menuju pembelajaran yang menghargai minat dan keinginan anak. Model area memberi ruang bagi anak untuk memilih, mengeksplorasi, dan belajar sesuai ritme mereka sendiri—sesuatu yang sangat selaras dengan karakter generasi digital native yang terbiasa dengan pilihan dan stimulus yang beragam.
Melalui pelatihan ini, para guru tidak hanya diajak menguasai metode baru, tetapi juga diajak melihat kembali esensi tugas mereka: mendampingi anak-anak tumbuh dengan akar yang kuat sekaligus sayap yang luas di era digital. Insyaallah, langkah kecil di aula TK ABA 40 PPS ini akan membawa dampak yang tak kecil bagi ratusan anak di bawah asuhan mereka. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments