Udara Surabaya pada Sabtu (7/11/2026) mengiringi langkah kaki menyusuri Jalan Indragiri, Darmo, Kecamatan Wonokromo. Di kawasan Gelora Pancasila ini, berdiri sebuah bangunan unik berlantai dua yang diresmikan oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, pada Mei 2021 silam: Museum Olahraga Surabaya. Cukup merogoh kocek Rp5.000 bagi masyarakat umum, Rp3.000 untuk pelajar atau mahasiswa, dan Rp15.000 bagi wisatawan mancanegara, pengunjung sudah bisa menyelami sejarah panjang dunia atletik Kota Pahlawan.
Ruang pamer museum ini merangkum narasi besar tentang bagaimana aktivitas fisik manusia berevolusi. Olahraga yang pada mulanya merupakan insting bertahan hidup di alam bebas, perlahan bertransformasi menjadi panggung kompetisi yang menjunjung sportivitas. Berbagai koleksi dari ragam cabang olahraga terpajang rapi, mulai dari yang populer seperti sepak bola, bulu tangkis, dan pencak silat, hingga cabang seperti voli pantai dan gulat.
Namun, menyusuri selasar demi selasar museum ini menghadirkan satu kejutan tersendiri. Di antara deretan trofi, seragam tanding, dan papan informasi yang terpajang, pandangan mata seketika tertuju—atau bahasa anak mudanya salfok (salah fokus)—pada satu benang merah yang menarik: jejak para atlet kebanggaan Surabaya dan Jawa Timur yang lahir serta ditempa dari rahim Persyarikatan Muhammadiyah.
Duel Artistik dan Naluri Pendekar Tapak Suci

Kisah pertama datang dari matras pencak silat melalui duet legendaris nomor seni ganda putra: Mochammad Yusuf Effendi dan Hamdani. Keduanya adalah representasi nyata bagaimana perguruan pencak silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah melahirkan pendekar kelas dunia.
Bagi Yusuf, yang lahir di Surabaya pada 21 November 1979, darah silat sudah mengalir deras di nadinya. Sang kakek adalah pesilat tangguh yang disegani lawan sekaligus juru damai yang kerap melerai perkelahian warga di kampungnya, kawasan Sasak-Ampel. Saudara-saudaranya pun banyak yang bergabung dengan perguruan Tapak Suci dan sukses mewakili Jawa Timur di berbagai kejuaraan. Menginjak usia 13 tahun, Yusuf mulai terjun ke gelanggang latihan. Bakat alamnya langsung mencuat ketika ia mampu mengalahkan seniornya di Tapak Suci meski baru dua kali berlatih. Lolos seleksi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) pada 1993 menjadi titik balik kariernya, meski ia sempat melewati masa paling berat akibat cedera patah tulang pada 1997.
Takdir kemudian mempertemukan Yusuf dengan Hamdani pada 1994 lewat tangan dingin pelatih Rahmad Khusaini. Berbeda dengan Yusuf, Hamdani (kelahiran Solok, 30 Maret 1980) berasal dari keluarga perantau Minang tanpa latar belakang atlet. Orang tuanya mengelola usaha kuliner “Rumah Makan Antika” di Surabaya setelah membawanya merantau sejak usia 2 tahun.
Masa kecil Hamdani terbilang bengal dan gemar berkelahi. Demi menyalurkan energinya ke arah positif, saat duduk di bangku kelas 5 SDN Bubutan, ia mendaftar ke perguruan Tapak Suci di Jalan Genteng Kali. Karena takut ketahuan orang tua, bocah yang dulunya mengenyam pendidikan di TK Kartika Koblen Kidul ini rela berjualan koran di Jalan Dupak selama setahun penuh demi membeli seragam latihan sendiri. Restu orang tua baru turun ketika ia duduk di bangku kelas 2 SMA Muhammadiyah di Pucang (SMA Muhammadiyah 2 Surabaya)—setelah sebelumnya lulus dari SMP Muhammadiyah di Genteng Kali—ketika deretan piala mulai berbicara.
Saat tampil berpasangan di nomor seni ganda putra dengan senjata andalan pisau dan golok, duet Yusuf dan Hamdani memegang prinsip ekstrem: pihak yang menyerang harus benar-benar memasang “naluri membunuh”, sementara yang bertahan harus mati-matian memastikan senjata lawan tidak menyentuh kulit. Meski Hamdani baru masuk Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) Jatim di usia 19 tahun, perpaduan keduanya tak terbendung. Dengan moto “Berlatihlah seperti bertanding, bertandinglah seperti berlatih”, mereka selalu merombak trik dan koreografi di setiap kejuaraan agar tak terbaca lawan.

Hasilnya adalah dominasi mutlak selama hampir satu dekade di nomor Seni Ganda Putra:
- Pekan Olahraga Nasional (PON): Medali emas di PON 2004 (Palembang), medali perak di PON 2008 (Samarinda, Kalimantan Timur), dan kembali meraih emas di PON 2012 (Riau).
- Tingkat Asia Tenggara & Asia: Medali emas Asian Beach Games 2008 di Bali, medali emas SEA Games 2009 di Vientiane (Laos), serta medali emas SEA Games 2011 di Jakarta-Palembang.
- Kejuaraan Dunia (World Pencak Silat Championship): Tiga kali menyabet gelar Juara Dunia, yakni tahun 2004 di Singapura, tahun 2010 di Jakarta, dan tahun 2012 di Chiang Rai, Thailand.
Kini, selepas masa keemasannya sebagai atlet, Hamdani yang menuntaskan pendidikan S1 dan S2 olahraga di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mendedikasikan ilmunya sebagai pelatih pencak silat Puslatda Jatim sekaligus dosen di almamaternya.







0 Tanggapan
Empty Comments