Bergeser dari matras silat ke papan panjat tebing (wall climbing), jejak pendidikan Muhammadiyah kembali terekam kuat lewat tiga generasi pemanjat cepat (speed climbing) asal Surabaya: Galar Pandu Asmoro, Amanda Narda Mutia, dan Rahmad Adi Mulyono.
Sebagai senior, Galar Pandu Asmoro (kelahiran Surabaya, 14 Desember 1983) merupakan alumni SD Muhammadiyah 10 Kapasan sebelum melanjutkan studi ke SMPN 15 dan SMA YP Trisila Surabaya. Perkenalannya dengan dunia vertikal dimulai saat kelas 1 SMA melalui ekstrakurikuler Pecinta Alam. Kala itu, Galar terkesima menonton video dokumentasi Daniel “Dan” Eugene Osman, pemanjat tebing ekstrem asal Amerika Serikat yang legendaris karena aksinya memanjat tebing curam tanpa tali pengaman (free soloing).
Ketertarikan itu membawanya berlatih keras hingga menembus Puslatda Jatim pada 2003. Sejak saat itu, koleksi medalinya melesat tajam:
- Tingkat Nasional: Tiga medali emas dan satu perak pada PON 2008, serta dua emas dan satu perak pada Pra-Kualifikasi PON XVIII di Semarang.
- Tingkat Asia & SEA Games: Emas Kecepatan Perorangan Asian Championship 2005, perunggu Asian X-Games 2008, perunggu Asian Championship 2009, dua emas SEA Games 2011 (Kecepatan Perorangan & Beregu Putra), dua emas Asian Beach Games 2012, hingga puncak kariernya meraih emas Speed Relay World Record pada Asian Championship 2015 di Ningbo, Tiongkok.
- Piala Dunia (IFSC World Cup): Perak di Singapura (2006), serta perak di Changzhi dan perunggu di Xining, Tiongkok (2011) untuk kategori Speed World Record.
Meski mulai mengurangi jam terbang kompetisi sejak 2016, Galar tidak meninggalkan tebing. Ia beralih peran menjadi asisten pelatih dan manajer kategori speed kontingen Jatim (termasuk pada Kejurnas 2018), serta aktif sebagai route setter—sang arsitek jalur pegangan di dinding panjat.
Tongkat estafet prestasi itu kemudian disambut oleh Amanda Narda Mutia. Gadis kelahiran Surabaya, 9 Oktober 2003 ini adalah putri kedua dari tiga bersaudara pasangan Didi Andri Budiarto dan Desie Arina. Kiprah alumni SD Muhammadiyah 20 dan SMP Muhammadiyah 2 Surabaya ini bermula dari ketidaksengajaan. Saat masih duduk di bangku kelas 2 SD, Amanda kecil iseng mengikuti wahana outbound di sebuah mal dan memanjat dinding buatan di sana. Ketangkasan alaminya memikat perhatian seorang pelatih yang langsung menawarinya berlatih serius di lapangan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Sempat ditentang sang ayah yang menganggap olahraga ini terlalu keras bagi anak perempuan, Amanda mendapat pembelaan penuh dari ibunya. Pembelaan itu terbayar lunas. Saat kelas 3 SD, kejuaraan pertamanya di Sirkuit Pacitan langsung membuahkan juara ketiga tingkat Jawa Timur. Sederet prestasi nasional kelompok umur pun ia borong, mulai dari perak Kejurnas Bali (2012), emas Piala Wali Kota Surabaya (2012), hingga emas dan perak Kejurnas Kelompok Umur pada 2014 dan 2016 di kategori speed dan lead.
Ketika duduk di kelas 2 SMP Muhammadiyah 2, kejenuhan sempat melanda. Amanda sempat menepi sejenak dari dinding panjat dan menyibukkan diri di ekstrakurikuler pencak silat. Namun, panggilan tebing terlalu kuat. Ia kembali berlatih di Puslatda Jatim dan mencetak kejutan besar di panggung internasional: menyabet medali emas kategori speed pada Asian Youth Championship 2018 di Chongqing, Tiongkok, dengan catatan waktu 9,44 detik yang menyingkirkan 26 pesaing se-Asia. Setahun berselang, ia kembali mengukir emas di Kejurnas Pra-PON 2019 serta Asian Championship 2019 di Bogor.
Kisah tak kalah heroik datang dari Rahmad Adi Mulyono. Pemuda kelahiran Surabaya, 31 Oktober 2000 yang tumbuh di kawasan Mulyorejo Utara No. 162 ini memulai langkah pendidikannya di TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Mulyorejo, sebelum melanjutkan ke SDN Mulyorejo, SMPN 45, dan SMA 17 Agustus 1945 Surabaya. Lahir dari keluarga sederhana sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, Adi mengenal panjat dinding lewat ekstrakurikuler saat kelas 6 SD. Menginjak bangku SMP, ia rutin mengasah otot di fasilitas panjat kompleks Kayoon, Jalan Irian Barat, hingga sukses menembus seleksi Puslatda Jatim.
Karier kompetitif mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) ini merangkak dari bawah:
- Meraih juara kedua pada kejuaraan perdananya di tingkat daerah saat masih duduk di kelas 2 SMA di Yogyakarta, disusul gelar juara Kejurda Jatim (2015 dan 2017) serta Kejurnas Senior (2018).
- Menembus level Asia dengan menduduki peringkat ke-5 di Singapura (2017) dan peringkat ke-9 di Chongqing, Tiongkok (2018), sebelum akhirnya memborong medali emas Speed Beregu dan perunggu Speed Perorangan pada Asian Championship 2019 di Bogor, serta deretan emas di Porprov Jatim dan Pra-PON 2019.
- Menggebrak panggung dunia dengan menyabet medali perunggu kategori Speed Junior Putra pada ajang IFSC Youth World Championships di Arco, Italia (22–31 Agustus 2019) lewat catatan waktu 5,979 detik—hanya terpaut tipis dari dua pemanjat Rusia, Sergey Rukin dan Almaz Nagaev. Setahun kemudian, di tengah pandemi, Adi sukses menyabet medali emas dalam kompetisi virtual internasional IFSC Connected Speed Knockout 2020.
Keluar dari pintu Museum Olahraga Surabaya, kisah kelima atlet ini meninggalkan kesan mendalam. Dari gelanggang perguruan Tapak Suci hingga bangku sekolah dasar dan kampus Muhammadiyah, nilai ketekunan dan daya juang itu tumbuh berdampingan dengan bakat olahraga mereka. Etalase kaca di Jalan Indragiri itu bukan sekadar ruang penyimpanan benda mati, melainkan saksi bisu bagaimana anak-anak Surabaya yang ditempa di lingkungan Persyarikatan mampu mengibarkan Merah Putih di panggung dunia. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments