Menjelang puncak Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan, empat santri kelas XI A berinisiatif membuat replika bangunan pertama Pondok Pesantren Al-Ishlah. Replika tersebut kemudian diserahkan kepada pengasuh sekaligus pendiri Ponpes Al-Ishlah, Drs. KH. Muhammad Dawam Saleh, Sabtu (26/9/2026).
Keempat santri itu berlari di bawah terik matahari untuk menyerahkan langsung replika miniatur Masjid Salman Al-Farisi kepada Kiai Dawam di halaman asrama. Mereka tampak setengah mengejar karena Kiai Dawam hendak mengajar perkuliahan di STIQSI Lamongan.
Empat santri tersebut yakni Dhevan Fabio El-Tyan, M. Nizar Jamaluddin, Labib Bisma, dan Ainur Rohman Efendi.
Dengan mengenakan seragam putih dan dasi hitam, mereka menyerahkan replika berbahan triplek dengan atap merah serta kubah kecil yang dibuat secara detail. Kiai Dawam menerima replika tersebut dengan kedua tangan sambil mengamatinya secara mendalam.
Masjid Salman Al-Farisi yang dibangun pada 1988 telah dipugar karena adanya perluasan asrama putra dan ukuran bangunan yang tidak lagi memadai. Masjid tersebut kemudian digantikan dengan masjid baru yang lebih luas dan mampu menampung sekitar 2.000 jamaah.
Meski bangunan fisiknya telah berubah, sejarah Masjid Salman Al-Farisi tetap berupaya dijaga agar tidak hilang dari ingatan generasi berikutnya.
Inisiatif empat santri tersebut menjadi salah satu cara untuk mengenalkan kembali sejarah awal berdirinya Kampung Damai Al-Ishlah kepada generasi baru.
“Ini bangunan pertama yang dimiliki Ponpes Al-Ishlah, Ini Masjid Salman Al-Farisi, masjid ini penuh sejarah, disumbang oleh keluarga Al-Dugaither,” ucap Ustadz Dawam sambil mengamati replika masjid dengan tatapan mendalam seakan memantik memorinya untuk mengenang 38 tahun silam.
“Masjid ini dibangun 2 tahun setelah berdirinya pesantren, atas bantuan adik saya almarhum H. Aman Nadir Saleh akhirnya dapat sumbangan dari keluarga orang Arab,” imbuhnya.
Bagi Kiai Dawam, Masjid Salman Al-Farisi bukan sekadar sebuah bangunan. Masjid tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan awal Pondok Pesantren Al-Ishlah.
Di tempat itu, embrio berbagai gagasan dan ide disosialisasikan melalui rapat dan kultum shubuh. Masjid tersebut juga menjadi tempat pelaksanaan shalat berjamaah lima waktu serta bagian dari proses pendidikan Al-Ishlah yang dirintis pada 1986.
Karena itu, replika yang dibuat para santri bukan sekadar miniatur bangunan. Replika tersebut menjadi simbol upaya generasi muda untuk mengenang salah satu bagian penting dalam sejarah perjalanan Al-Ishlah.
Usai menyerahkan replika miniatur masjid, keempat santri tersebut merasa bangga. Di momentum Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah, mereka berhasil memberikan kejutan berupa replika masjid pertama yang menjadi saksi bisu perjuangan awal pesantren.
Replika tersebut rencananya akan diserahkan kepada Staf Pengasuhan, Ustadz Habib Chirzin. Selanjutnya, replika itu akan dijadikan pengingat bahwa kemajuan pesantren yang kini telah berusia 40 tahun berdiri di atas fondasi keikhlasan serta bangunan sederhana yang penuh barokah.





0 Tanggapan
Empty Comments