Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih prestasi nasional melalui gagasan teknologi pemantauan karbon biru. Tim Sluman Slumun Slamet dari Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) UMM, meraih Juara Ketiga atau Bronze Medal pada IRIFair 2026 kategori BRINATHON (BRIN Idea Marathon), Klaster Ilmu Kebumian, Antariksa, dan Kelautan.
Prestasi tersebut diraih melalui gagasan Blue Carbon Digital Twin yang dipresentasikan di Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta, Rabu (24/9/2026).
Tim tersebut beranggotakan Ludwick Satria Romadoni sebagai ketua, bersama Citra Lesmana dan Mochamad Iffan. Ketiganya merupakan mahasiswa Pendidikan Biologi angkatan 2023 dengan bimbingan Dr. Husamah, M.Pd. dan Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si.
IRIFair merupakan program manajemen talenta riset dan inovasi yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Pada kategori BRINATHON, mahasiswa jenjang D4 dan S1 ditantang menghadirkan gagasan riset dan inovasi. Tim UMM menjadi satu dari 10 finalis yang mempresentasikan gagasannya di hadapan peneliti dan juri BRIN.
Ketua Tim, Ludwick Satria Romadoni, menjelaskan gagasan tersebut berangkat dari persoalan pengelolaan ekosistem padang lamun di kawasan kepulauan terpencil, khususnya Kepulauan Kangean dan Sapekan, Kabupaten Sumenep.
Padang lamun memiliki peran penting dalam ekosistem karbon biru karena mampu menyimpan karbon pada sedimen. Namun, inventarisasi karbon di wilayah terpencil masih menghadapi kendala akses, biaya survei, serta kompleksitas lingkungan perairan dangkal.
“Permasalahannya adalah inventarisasi karbon di wilayah pulau terpencil ini masih terkendala akses yang terbatas, kemudian tingginya biaya survei lapangan, serta kompleksitas lingkungan di perairan dangkal,” jelasnya.
Melalui Blue Carbon Digital Twin, tim memadukan citra satelit Sentinel-2 melalui Google Earth Engine (GEE) dengan data Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone.
Data tersebut kemudian diolah menggunakan pendekatan Object-Based Image Analysis (OBIA) untuk memetakan kondisi padang lamun sekaligus membangun basis data spasial.
Basis data tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan biomassa bawah permukaan, stok, dan serapan karbon. Informasi ini berpotensi mendukung penghitungan nilai ekonomi karbon, pengembangan perdagangan karbon, hingga penyusunan kebijakan konservasi dan mitigasi perubahan iklim.
Menariknya, gagasan tersebut telah diuji melalui pengambilan data lapangan menggunakan drone yang menjadi data latih bagi citra satelit.
Persiapan kompetisi dilakukan selama sekitar tiga bulan, mulai dari pengolahan data hingga penyusunan idea concept paper (ICP).
Ludwick, sapaan akrabnya, menyebut dukungan program studi, kemahasiswaan, dan dosen turut membantu tim menghadapi babak final.
Ke depan, mereka berharap Blue Carbon Digital Twin dapat dikembangkan dari sisi akurasi maupun kebijakan sehingga turut memperkuat perhatian terhadap karbon biru dan ketahanan ekosistem pesisir Indonesia.
“Semoga sedikit ide riset dari kami ini bisa mendukung concern blue carbon di Indonesia dan bisa dikembangkan lebih baik lagi, baik dari segi akurasi maupun kebijakan mengenai blue carbon,” pungkasnya.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments