Mungkin beginilah rasanya jet lag. Perbedaan waktu antara Indonesia dan Arab Saudi mulai terasa di dalam pesawat. Saat menunjukkan pukul 05.00 WIB, ternyata di Arab Saudi masih sekitar pukul 01.00 dini hari.
Namun anehnya, banyak jamaah sudah mulai bangun.
Mereka tidak hanya sekadar terjaga, tetapi mulai beraktivitas sebagaimana biasanya di Indonesia. Ada yang bangun lalu berjalan menuju toilet, ada yang kembali duduk sambil berbincang pelan, dan ada pula yang mulai bersiap-siap seperti hendak memasuki pagi hari.
Padahal sebelumnya hampir semua jamaah tertidur nyenyak.
Kalau saya sendiri sebenarnya sudah dua kali menuju toilet sebelum “subuh Indonesia” itu tiba. Awalnya sekadar ingin survei bagaimana kondisi toilet di pesawat Saudia.
Kebetulan tepat di depan kursi saya tersedia dua toilet, sebelah kanan dan kiri. Karena posisi duduk saya berada di kanan, maka saya memilih menggunakan toilet sebelah kanan.
Toilet Kering yang Membuat Kaget
Ada beberapa hal yang langsung terasa berbeda.
Di dalam toilet tersedia WC, wastafel, dan tiga jenis tisu. Yang paling saya kenali tentu tisu toilet di dekat dudukan WC. Sementara dua tisu di atas wastafel sepertinya digunakan untuk tangan, meski saya sendiri sempat bingung mana yang sebenarnya untuk mengeringkan tangan dan mana yang untuk kebutuhan lain.
Hal yang paling berbeda adalah tidak adanya air semprot untuk cebok atau membersihkan diri setelah buang air kecil maupun buang air besar.
Inilah yang disebut toilet kering.
Sebagai gantinya, sudah tersedia tisu toilet dalam jumlah cukup. Setelah digunakan, tombol flush berada di sebelah kiri dudukan. Begitu ditekan, air langsung tersedot dengan suara cukup keras.
Jujur saja, pada awalnya suara itu membuat saya kaget.
Tisu bekas pakai tidak dibuang ke dalam WC, melainkan ke tempat sampah kecil di pojok kiri dekat wastafel. Penutupnya bisa dibuka dengan menekan bagian yang bertuliskan “push”.
Toilet ini juga dilengkapi kaca besar sehingga siapa pun yang masuk bisa langsung melihat wajahnya sendiri: masih kusut karena tidur atau sudah mulai segar kembali.
Jangan Lupa Kunci Toilet Pesawat
Bagian yang menurut saya paling unik justru sistem kuncinya.
Pintu toilet terdiri atas dua bilah. Dari luar tertulis “push” atau tekan. Ketika ditekan, pintu akan terbuka ke samping dan orang bisa masuk.
Namun ternyata banyak jamaah yang belum memahami cara menguncinya.
Di bagian dalam terdapat penggeser kecil berwarna hijau. Penggeser itu harus digeser hingga berubah menjadi merah. Kalau sudah merah, dari luar akan terlihat tanda bahwa toilet sedang dipakai.
Kalau tidak dikunci, warnanya tetap hijau sehingga orang di luar mengira toilet kosong dan bisa saja langsung membuka pintu.
Karena itu, pelajaran penting saat menggunakan toilet pesawat adalah: jangan lupa mengunci pintu.
Kalau ingin lebih nyaman, terutama bagi jamaah Indonesia yang terbiasa menggunakan air, sebaiknya membawa tisu basah sendiri dari rumah. Setidaknya itu bisa membantu agar terasa lebih nyaman selama perjalanan panjang di udara.
Begitulah pengalaman kecil di tengah penerbangan panjang menuju Tanah Suci. Bahkan urusan toilet pun ternyata bisa menjadi cerita tersendiri dalam perjalanan haji.





0 Tanggapan
Empty Comments