Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kemakmuran Bisa Menghancurkan Umat jika Menjauhkan dari Allah

Iklan Landscape Smamda
Kemakmuran Bisa Menghancurkan Umat jika Menjauhkan dari Allah
Ustaz Muhammad Yasri
Oleh : Agus Wahyudi

Kehancuran umat Islam dan bangsa-bangsa besar bukan disebabkan oleh kemiskinan, melainkan oleh kemakmuran yang membuat manusia lalai dan melampaui batas. Intinya, kemakmuran bisa menghancurkan umat jika menjauhkan dari Allah.

Pesan itu disampaikan Mubaligh Muhammadiyah Ustaz Muhammad Yasri, MHI dalam kajian Kitab Riyadhus Shalihin bertema “Hidup Sederhana” yang dilansur di kanal Youtube Masjid Baitul Muttaqien Keputih Surabaya.

Ustaz Yasri menjelaskan, Islam tidak melarang umat menikmati nikmat dunia. Namun, seluruh kenikmatan harus diarahkan untuk meraih cinta Allah dan memperkuat ketaatan kepada-Nya.

“Standar hidup sederhana itu bukan berarti hidup melarat. Semua nikmat yang Allah berikan digunakan untuk meraih cinta Allah. Yang dilarang adalah melampaui batas,” ujarnya.

Dia menegaskan, manusia sering salah memahami ujian hidup. Banyak orang mengira kesulitan adalah ujian, sementara kesenangan dianggap keberhasilan mutlak.

Padahal, menurutnya, kemewahan dan kelapangan hidup justru lebih berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

“Hancurnya umat Islam itu bukan karena kemiskinan, tetapi karena kemakmuran. Ketika manusia diberi dunia lalu lupa kepada Allah, di situlah kehancuran dimulai,” katanya.

Ustaz Yasri juga membahas sejumlah hadis tentang kehidupan sederhana Rasulullah saw. Dia mengutip kisah sahabat Abu Hurairah yang menolak makan sate kambing karena teringat Rasulullah wafat dalam keadaan belum pernah kenyang memakan roti gandum.

Menurutnya, sikap Abu Hurairah menunjukkan betapa kuat kesan pendidikan yang diberikan Rasulullah kepada para sahabat.

“Rasulullah itu kepala negara, tetapi beliau memberi contoh hidup sederhana agar menjadi pendidikan bagi umat dan para pemimpin setelahnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, Rasulullah sebenarnya mampu hidup mewah, namun memilih kesederhanaan sebagai metode pendidikan umat.

“Bukan berarti Nabi melarang menikmati makanan enak. Rasulullah juga menyukai hidangan tertentu. Tetapi beliau tidak menggantungkan hidup pada kemewahan,” katanya.

Ustaz Yasri menyebut, kesederhanaan Nabi meninggalkan pengaruh besar pada para sahabat yang kemudian menjadi pemimpin dunia Islam.

Pemimpin Harus Menjadi Guru bagi Rakyat

Ustaz Yasri menekankan bahwa dalam konsep politik Islam, pemimpin bukan hanya penguasa, melainkan juga pendidik masyarakat.

“Rasulullah bersabda, ‘Aku diutus sebagai pengajar.’ Kepala negara itu guru bagi rakyatnya,” tuturnya.

Dia menjelaskan, perilaku pemimpin akan selalu menjadi perhatian masyarakat. Karena itu, pejabat publik harus mampu memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

“Orang melihat pemimpinnya. Cara hidupnya, rumahnya, perilakunya. Maka pemimpin harus memberikan pendidikan lewat teladan,” katanya.

SMPM 5 Pucang SBY

Dia kemudian menyinggung kisah sejumlah tokoh nasional dan tokoh Islam Indonesia yang menurutnya memperlihatkan keteladanan hidup sederhana dalam kepemimpinan.

Selain itu, ia juga mengaitkan konsep tersebut dengan sejarah perjuangan Islam, termasuk para sahabat yang dibentuk Rasulullah menjadi pemimpin tangguh.

Tafsir Perang Uhud: Kekalahan Berawal dari Cinta Dunia

Pada bagian lain ceramahnya, Ustaz Yasri mengulas Surah Ali Imran ayat 152-153 tentang Perang Uhud. Ia menjelaskan bahwa kekalahan kaum Muslimin dalam perang tersebut terjadi setelah sebagian pasukan mulai tergoda oleh harta rampasan perang.

Menurutnya, Al-Qur’an telah memberi pelajaran bahwa orientasi dunia dapat melemahkan persatuan dan ketaatan.

“Awalnya kaum Muslimin menang. Tetapi ketika mulai berebut dunia, berselisih dan tidak taat, akhirnya keadaan berbalik,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kemenangan maupun kekalahan sama-sama merupakan ujian dari Allah.

“Banyak orang mengira kalau keinginan tidak terpenuhi itu ujian. Padahal ketika keinginan dipenuhi juga ujian,” katanya.

Ustaz Yasri mengutip hadis tentang Rasulullah saw yang suatu malam keluar rumah karena lapar bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Ketiganya kemudian mendapat jamuan dari seorang sahabat Anshar.

Setelah makan dan minum, Rasulullah mengingatkan bahwa semua nikmat tersebut kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat.

“Kenikmatan hidup itu akan ditanya oleh Allah. Karena itu ketika menikmati nikmat dunia, ingat Rasulullah dan bersyukur kepada Allah,” tuturnya.

Ia mengajak jamaah memperbanyak selawat kepada Nabi sebagai bentuk cinta dan kesadaran atas perjuangan Rasulullah bagi umatnya.

“Ketika menikmati makanan enak, kendaraan nyaman, atau fasilitas hidup, ingat Rasulullah. Beliau telah berjuang dan berkorban untuk umatnya,” katanya.

Ustaz Yasri berharap umat Islam memiliki jiwa yang kuat, tangguh, dan tidak mudah terjebak dalam orientasi dunia semata.

“Hidup sederhana yang diajarkan Rasulullah adalah cara membentuk jiwa yang kuat dan tidak diperbudak dunia,” ujarnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 23/05/2026 22:45
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡