SMK Muhammadiyah 8 Siliragung membudidayakan lebih dari 100 bibit loofah (Luffa aegyptiaca) di berbagai sudut lingkungan sekolah sebagai upaya mengurangi penggunaan plastik sekaligus memperkuat pendidikan lingkungan bagi peserta didik, Sabtu (4/7/2026).
Program ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam menghadirkan solusi berbasis alam untuk mendukung gaya hidup berkelanjutan sekaligus memperkaya keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah.
Loofah merupakan spons alami yang berasal dari buah tanaman keluarga labu-labuan. Setelah matang dan dikeringkan, serat loofah dapat dimanfaatkan sebagai spons cuci piring maupun spons mandi yang 100 persen alami, bebas mikroplastik, dapat digunakan berulang kali, serta mudah terurai secara alami (biodegradable).
Zahrotul Janah, Guru Kejuruan Rekayasa Perangkat Lunak SMK Muhammadiyah 8 Siliragung yang juga aktivis lingkungan, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur Bidang Lingkungan Hidup dan PUSINTEK, serta Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi, menjelaskan bahwa budidaya loofah merupakan langkah nyata dalam merawat bumi melalui pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia.
“Budidaya loofah ini menjadi bagian dari aksi nyata merawat bumi dengan mengoptimalkan produk alam yang dapat dimanfaatkan sebagai spons cuci piring maupun spons mandi. Loofah merupakan produk yang 100 persen alami, mudah terurai (biodegradable), dan menjadi solusi untuk mengurangi penggunaan spons sintetis berbahan plastik yang berpotensi menghasilkan mikroplastik,” jelasnya.
Menurut Zahrotul, yang juga menjadi inisiator gerakan Merdeka Sampah, mengenalkan loofah kepada pelajar merupakan investasi pendidikan lingkungan.
Peserta didik tidak hanya belajar membudidayakan tanaman, tetapi juga memahami bahwa alam telah menyediakan berbagai solusi ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Melalui pengalaman tersebut diharapkan tumbuh generasi yang mampu mengembangkan inovasi berbasis keanekaragaman hayati sekaligus menerapkan gaya hidup berkelanjutan.
Kepala SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, Rudy Agus Setiawan, menegaskan bahwa pengembangan loofah merupakan bagian dari visi sekolah dalam mewujudkan lingkungan belajar yang kaya akan keanekaragaman hayati.
“Kami terus berupaya mewujudkan SMK Muhammadiyah 8 Siliragung sebagai sekolah yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati. Kehadiran loofah menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang menghubungkan peserta didik dengan alam sekaligus mengenalkan berbagai tanaman yang memiliki nilai ekologis, edukatif, dan bernilai jual bahkan bisa di ekspor,” ujarnya.
Sebanyak lebih dari 100 bibit loofah telah ditanam di berbagai area sekolah dan dijadikan laboratorium hidup bagi peserta didik.
Melalui program tersebut, siswa tidak hanya mempelajari teknik budidaya tanaman, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenai konservasi lingkungan, ekonomi sirkular, kewirausahaan hijau (greenpreneurship), hingga pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai ekonomi.
Hasil panen loofah nantinya akan diolah menjadi berbagai produk ramah lingkungan, seperti spons cuci piring alami, spons mandi (body scrub), sabun loofah (loofah soap), scrubber pembersih peralatan rumah tangga, media tanam alami, hingga produk kerajinan dan suvenir.
Seluruh proses pengembangan produk akan melibatkan peserta didik, mulai dari budidaya, pengolahan pascapanen, desain kemasan, pemasaran digital, hingga pengembangan usaha berbasis lingkungan.
Program tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) yang dirancang agar relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Sebagai sekolah dampingan Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi dan Nasyiatul Aisyiyah, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung terus mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam budaya sekolah melalui berbagai aksi nyata.
Melalui budidaya loofah, sekolah berharap mampu mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten dan siap kerja, tetapi juga memiliki karakter peduli lingkungan serta mampu menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan ekologis.
Bagi SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, menanam loofah bukan sekadar menanam tanaman. Gerakan tersebut menjadi ikhtiar membangun generasi yang mengenal kekayaan hayati Indonesia, mencintai lingkungan, serta mampu mengolah potensi alam menjadi produk yang bermanfaat tanpa merusak bumi.





0 Tanggapan
Empty Comments