RSIA Muhammadiyah Kota Probolinggo mencanangkan Gerakan SDI “Semua Adalah Marketing” sebagai langkah awal Program Recovery 90 Hari untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat di tengah tantangan perubahan regulasi jejaring pelayanan yang berdampak pada penurunan kunjungan pasien dan pendapatan rumah sakit.
Kick off program tersebut berlangsung di Masjid Asy Syifa RSIA Muhammadiyah Kota Probolinggo, Jumat (2/7/2026), dalam format In House Training (IHT) bertema “Bersama Kita Bangkit: Satu Hati, Satu Tim, Satu Tujuan – Program 90 Hari Bersama Mengembalikan Kepercayaan Masyarakat.”
Kegiatan diikuti seluruh Sumber Daya Insani (SDI) sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya pelayanan sekaligus membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap layanan rumah sakit.
Direktur RSIA Muhammadiyah Kota Probolinggo, dr. Kemal Fikar Muhammad, M.H.Kes., mengajak seluruh SDI memiliki semangat yang sama dalam menghadapi tantangan yang sedang dihadapi rumah sakit.
Ia menyampaikan tiga hal utama yang harus menjadi pegangan seluruh karyawan.
Pertama, setiap SDI harus memahami peran strategisnya sebagai penggerak kemajuan sekaligus wajah rumah sakit. Baik tenaga medis maupun nonmedis memiliki kontribusi terhadap citra institusi.
Kedua, meningkatkan mutu komunikasi melalui sikap empati, keramahan, dan profesionalisme sebagai keunggulan pelayanan.
Ketiga, menjaga sinergi dengan mengesampingkan ego sektoral antarunit agar seluruh SDI bergerak dalam satu tujuan.
“Keberhasilan rumah sakit tidak dibangun oleh satu profesi, tetapi oleh sinergi seluruh SDI. Ketika kita bergerak bersama, maka kepercayaan masyarakat akan kembali tumbuh,” pesannya.
Materi pertama disampaikan oleh Ns. Angga Ferwita, S.Kep., MARS., FISQua melalui sesi bertajuk “Gerakan SDI RSIA Muhammadiyah – Bersama Kita Bangkit.”
Dalam paparannya dijelaskan bahwa perubahan regulasi jejaring pelayanan memang memberikan tantangan terhadap jumlah kunjungan pasien dan pendapatan rumah sakit. Namun kondisi tersebut dinilai harus dijadikan momentum untuk melakukan transformasi pelayanan.
Ia menegaskan bahwa seluruh SDI merupakan bagian dari marketing rumah sakit karena setiap interaksi dengan pasien berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan masyarakat.
“Krisis bisa berubah menjadi peluang apabila kita mampu memberikan pengalaman terbaik kepada pasien. Pelayanan yang ramah, cepat, profesional, dan penuh empati akan melahirkan kepuasan, loyalitas, serta rekomendasi dari mulut ke mulut yang menjadi kekuatan utama rumah sakit,” jelasnya.
Materi berikutnya disampaikan oleh Mariskha Jelitasari, S.E. mengenai Panduan Budaya Layanan RSIA Muhammadiyah Kota Probolinggo.
Ia menegaskan bahwa budaya layanan bukan sekadar standar operasional, tetapi menjadi identitas sekaligus branding rumah sakit yang profesional dan Islami.
Menurutnya, pelayanan terbaik diwujudkan melalui penampilan yang rapi, komunikasi yang santun, pelayanan yang cepat, kepedulian terhadap pasien, serta penerapan nilai-nilai Islami dalam setiap aktivitas pelayanan.
“Pelayanan terbaik bukan hanya tentang tindakan medis, tetapi bagaimana pasien merasa dihargai, didengar, dan diperlakukan sebagai keluarga,” ujarnya.
Pada sesi workshop bertajuk “Dari Komitmen Menjadi Aksi”, peserta kembali dipandu oleh Ns. Angga Ferwita.
Seluruh peserta dibagi berdasarkan unit kerja masing-masing untuk menyusun Recovery Action Plan. Setiap unit diminta menghasilkan tiga aksi nyata, yakni dua aksi internal untuk meningkatkan mutu pelayanan dan satu aksi eksternal guna memperkuat kepercayaan masyarakat serta jejaring pelayanan.
Selain itu, setiap unit melakukan identifikasi berbagai hambatan pelayanan yang selama ini memengaruhi kepuasan pasien.
Sebagai simbol komitmen, seluruh peserta menandatangani Komitmen Recovery 30 Hari menggunakan tinta emas sebagai bentuk kesiapan menjalankan aksi nyata.
Pelatihan semakin interaktif melalui sesi role play budaya layanan. Para peserta bergantian memerankan petugas rumah sakit dan pasien dalam berbagai skenario pelayanan, mulai dari penyambutan pasien, pelayanan di loket pendaftaran, ruang pemeriksaan, hingga penanganan keluhan.
Melalui simulasi tersebut, peserta memperoleh pengalaman langsung mengenai pentingnya komunikasi efektif, empati, serta penerapan budaya layanan sesuai standar RSIA Muhammadiyah Kota Probolinggo.
Kegiatan ditutup oleh Master of Ceremony, Raden Ajeng Siti Fatimah Nur Debina, S.I.Kom., dengan mengajak seluruh peserta mengucapkan hamdalah sebagai ungkapan syukur atas terselenggaranya Kick Off Gerakan SDI “Semua Adalah Marketing.”
Melalui program ini, RSIA Muhammadiyah Kota Probolinggo berharap seluruh SDI memiliki semangat baru untuk memberikan pelayanan yang profesional, Islami, dan berorientasi pada pengalaman pasien.
Gerakan “Bersama Kita Bangkit: Satu Hati, Satu Tim, Satu Tujuan” diharapkan menjadi fondasi Program Recovery 90 Hari dalam mengembalikan kepercayaan masyarakat, meningkatkan loyalitas pasien, serta memperkuat keberlanjutan pelayanan kesehatan sebagai bagian dari dakwah Muhammadiyah.





0 Tanggapan
Empty Comments