Jas belum dilepas, tetapi Kepala SMK Muhammadiyah 8 Siliragung Rudy Agus Setiawan, S.T., langsung turun ke lapangan mengangkut sampah usai Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Tegalagung, Siliragung, Banyuwangi, Senin (17/8/2026).
Rudy tidak sendiri. Sekitar 60 siswa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung bersama guru dan masyarakat sekitar ikut melakukan aksi Clean Up Kemerdekaan setelah seluruh rangkaian upacara selesai.
SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menjadi salah satu peserta upacara yang diikuti berbagai jenjang sekolah, organisasi masyarakat, organisasi kepemudaan, serta komunitas di wilayah Siliragung.
Ketika peserta upacara mulai meninggalkan lapangan, para siswa bersama guru dan masyarakat berinisiatif membersihkan sampah yang masih tertinggal di sejumlah titik.
Aksi tersebut menjadi refleksi tersendiri bagi sekolah. Pasalnya, sampah yang tertinggal setelah kegiatan upacara kemerdekaan masih menjadi persoalan yang berulang dari tahun ke tahun.
Pada pelaksanaan tahun ini, sejumlah tempat sampah telah disediakan di beberapa titik sekitar arena upacara. Fasilitas tersebut diharapkan mendorong peserta untuk membuang sampah pada tempatnya.
Namun, setelah kegiatan berakhir, sampah masih ditemukan berserakan di sejumlah bagian lapangan.
Kondisi tersebut menjadi pembelajaran bahwa penyediaan fasilitas kebersihan saja belum cukup. Kesadaran dan kebiasaan untuk bertanggung jawab terhadap sampah juga perlu terus dibangun.
“Penting bagi kita untuk membangun kepedulian terhadap kebersihan setelah setiap kegiatan. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Ini yang ingin kami tanamkan di SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama,” tutur Rudy.
Pesan tersebut tidak berhenti pada kata-kata. Seusai mengikuti upacara, Rudy yang masih mengenakan jas ikut turun langsung ke lapangan. Ia menggeret tempat sampah dan memungut sampah bersama para siswa.
Keterlibatan kepala sekolah menjadi contoh pembelajaran bagi siswa bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak mengenal jabatan. Siapa pun dapat mengambil peran, termasuk melalui tindakan sederhana seperti memungut sampah di ruang publik.
Aksi Clean Up Kemerdekaan juga mendapat respons positif dari masyarakat. Warga sekitar turut membantu, termasuk anak-anak yang secara spontan ikut mengumpulkan dan mengangkut sampah.
Pemandangan tersebut menjadikan kegiatan bersih-bersih sebagai aksi gotong royong lintas usia dan lingkungan.
Green Journey Diluncurkan pada Hari Kemerdekaan
Di tengah aksi tersebut, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung juga meluncurkan buku saku Green Journey Kader Adiwiyata karya Zahrotul Janah.
Peluncuran buku pada 17 Agustus bukan tanpa alasan. Momentum Hari Kemerdekaan dipilih sebagai ruang refleksi untuk memperluas makna kemerdekaan, termasuk kemerdekaan dari persoalan sampah.
“Ini menjadi titik refleksi kenapa buku Green Journey diluncurkan pada 17 Agustus. Kami berharap dari tahun ke tahun Indonesia semakin merdeka, bukan hanya dari penjajahan, tetapi juga semakin merdeka dari sampah. Dunia pendidikan memiliki kontribusi penting untuk membersamai generasi muda dalam perjalanan tersebut,” ungkap Zahrotul Janah.
Buku Green Journey Kader Adiwiyata disusun sebagai panduan bagi kader lingkungan untuk membangun kepedulian terhadap bumi melalui kebiasaan dan aksi sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Zahrotul Janah, pendekatan kepada generasi muda tidak cukup dilakukan dengan memberikan aturan. Mereka perlu diberi ruang untuk mengalami, mencoba, bereksplorasi, dan menemukan sendiri makna kepedulian terhadap lingkungan.
“Kami tidak sedang mendidik generasi Z dengan cara menggurui. Kami sedang membersamai petualangan mereka dalam merawat bumi. Mereka bukan hanya generasi yang akan mewarisi bumi, tetapi generasi yang hari ini sudah memiliki kekuatan untuk ikut menentukan seperti apa masa depan bumi,” ujarnya.
Melalui Green Journey, kader lingkungan diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan tentang lingkungan. Mereka didorong menjadikan kepedulian sebagai kebiasaan dan mengubah kebiasaan tersebut menjadi aksi nyata.
Dari Lapangan Menjadi Ruang Belajar
Bagi SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, Clean Up Kemerdekaan bukan sekadar kegiatan membersihkan lapangan. Aksi tersebut menjadi ruang belajar di luar kelas tentang tanggung jawab, gotong royong, dan dampak setiap perilaku terhadap lingkungan.
Melalui sampah yang tertinggal setelah upacara, siswa diajak memahami bahwa ruang publik merupakan ruang bersama. Ketika digunakan bersama, kebersihannya pun menjadi tanggung jawab bersama.
Pelaksanaan aksi ini tidak lepas dari dukungan KOKAM Muhammadiyah Siliragung, Pemuda Muhammadiyah Siliragung, serta Organisasi Siswa Pecinta Alam (OSPALA) SMK Muhammadiyah 8 Siliragung.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa gerakan lingkungan tidak dapat berjalan sendiri. Sekolah menjadi salah satu ruang penting untuk menumbuhkan kesadaran, sementara masyarakat, organisasi kepemudaan, komunitas, dan berbagai elemen lainnya dapat menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas.
Clean Up Kemerdekaan akhirnya menghadirkan pesan sederhana dari Lapangan Tegalagung: kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan mengibarkan bendera, tetapi juga dengan keberanian mengambil tanggung jawab setelah perayaan selesai.
Melalui peluncuran Green Journey Kader Adiwiyata, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung berharap gerakan tersebut terus tumbuh bersama generasi muda—satu siswa, satu aksi, dan satu kebiasaan baik hingga menjadi gerakan bersama untuk merawat bumi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments