Ada kalanya kita merasa sudah begitu banyak beribadah, tetapi hati tetap kosong. Kita sudah salat, tetapi gelisah masih tinggal. Kita sudah bersedekah, tetapi kecewa ketika kebaikan itu tidak dihargai.
Kita sudah membantu orang lain, tetapi diam-diam berharap ucapan terima kasih. Kita sudah bekerja keras, berjuang, berdakwah, mengajar, dan melakukan banyak hal baik, tetapi ketika hasilnya tidak sesuai harapan, hati pun bertanya: Mengapa semua ini terasa begitu melelahkan?
Barangkali bukan karena amal kita terlalu banyak. Barangkali kita hanya perlu kembali memeriksa untuk siapa kita melakukan semuanya.
Dalam perjalanan hidup, ada tiga kata sederhana yang layak terus kita ingat: Lillah, Fillah, Billah. Tiga kata yang hanya berbeda satu huruf. Namun, maknanya dapat mengubah cara kita memandang ibadah, perjuangan, persahabatan, pekerjaan, bahkan kegagalan.
- Lillah: karena Allah.
- Fillah: bersama dan dalam jalan Allah.
- Billah: dengan pertolongan Allah.
Tiga kata ini seperti tiga kaki yang menopang kehidupan seorang mukmin: meluruskan niat, meluruskan jalan, dan meluruskan sandaran.
Lillah: Jangan Sampai Amal Kita Hanya Menjadi Lelah
Lillah berarti karena Allah. Inilah perkara pertama yang harus dibenahi sebelum kita melakukan sesuatu.
- Salat karena Allah.
- Bekerja karena Allah.
- Bersedekah karena Allah.
- Menikah karena Allah.
- Mengajar karena Allah.
- Menolong karena Allah.
- Berdakwah karena Allah.
Allah berfirman: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena-Nya dalam menjalankan agama…” (QS Al-Bayyinah: 5)
Ikhlas memang tidak selalu mudah. Kita bisa saja mengatakan bahwa semua dilakukan karena Allah. Tetapi hati manusia begitu mudah berubah. Sedikit pujian membuat kita senang. Sedikit kritik membuat kita marah.
Tidak disebut dalam ucapan terima kasih membuat kita kecewa. Tidak mendapatkan penghargaan membuat kita bertanya-tanya apakah perjuangan kita dihargai.
Di situlah Lillah diuji. Orang yang hidup dengan Lillah tidak berarti tidak memiliki perasaan. Ia tetap bisa sedih, kecewa, dan terluka. Tetapi ia tahu ke mana harus membawa semua perasaan itu. Kepada Allah.
Sebab ia tidak menggantungkan nilai amalnya kepada penilaian manusia. Dipujinya tidak membuatnya terbang. Dicacinya tidak membuatnya tumbang. Dihargai tidak membuatnya merasa paling berjasa. Diabaikan pun tidak membuatnya berhenti berbuat baik.
Sebab yang ia cari bukan tepuk tangan manusia. Ia mencari rida Allah. Betapa banyak kelelahan yang sebenarnya bukan berasal dari beratnya pekerjaan, melainkan karena kita terlalu berharap manusia membalas kebaikan kita.
Kita menolong, lalu menunggu ucapan terima kasih. Kita memberi, lalu berharap diingat. Kita berjuang, lalu ingin dipuji. Ketika semua itu tidak datang, kita merasa sia-sia. Maka Lillah mengajarkan satu hal penting: jangan serahkan kebahagiaan kita kepada penilaian manusia.
Jika Allah tahu, bukankah itu sudah cukup?
Fillah: Jangan Berjalan Sendirian
Setelah niat diluruskan, ada perkara kedua: dengan siapa kita berjalan dan di jalan mana kita melangkah.
Di sinilah kita membutuhkan Fillah. Fillah berarti berada dalam kecintaan dan persaudaraan karena Allah, berjalan dalam kebaikan karena Allah, serta membangun hubungan yang membawa kita semakin dekat kepada-Nya.
Rasulullah saw bersabda tentang tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Salah satunya adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya. (HR Bukhari dan Muslim)
Persahabatan karena Allah bukan berarti selalu membenarkan teman. Justru karena sayang, kita berani mengingatkan.
Kita menasihati bukan karena membenci, tetapi karena tidak ingin sahabat kita tersesat. Kita membantu bukan karena ingin dipuji, tetapi karena Allah memerintahkan kita untuk peduli.
Kita berkumpul bukan sekadar untuk menghabiskan waktu, melainkan untuk saling menguatkan dalam kebaikan.
Sebab manusia mudah lelah. Hari ini kita bersemangat. Besok mungkin kita kehilangan tenaga. Hari ini kita rajin beribadah. Besok bisa saja kita futur. Hari ini kita yakin. Besok mungkin kita mulai ragu.
Karena itu kita membutuhkan teman seperjalanan. Teman yang ketika kita lalai, mengingatkan. Ketika kita jatuh, membantu berdiri. Ketika kita mulai sombong, menegur. Ketika kita hampir menyerah, menguatkan.
Lingkaran pertemanan kita sedikit banyak menunjukkan ke mana hidup kita sedang bergerak. Ada pertemanan yang membuat hati semakin dekat kepada Allah. Ada pula pertemanan yang perlahan membuat kita lupa kepada-Nya.
Maka jangan hanya bertanya, “Berapa banyak teman yang saya punya?”
Tanyakan pula: “Setelah berteman dengan mereka, apakah saya semakin dekat kepada Allah?”
Itulah Fillah. Bukan sekadar bersama orang lain, tetapi bersama dalam jalan kebaikan karena Allah.
Billah: Kita Berusaha, tetapi Allah yang Memberi Kekuatan
Kemudian kita sampai pada perkara ketiga: Billah. Dengan pertolongan Allah.
Sering kali manusia merasa kuat karena kemampuannya sendiri. Ia berhasil, lalu berkata, “Ini karena saya bekerja keras.” Ia mendapatkan jabatan, lalu merasa itu semata-mata karena kecerdasannya.
Ia berhasil menyelesaikan masalah, lalu lupa bahwa ada begitu banyak pertolongan Allah yang bekerja di balik semua itu.
Padahal, siapa yang memberi kita kesehatan? Siapa yang memberi kita akal?
Siapa yang memberi kita kesempatan? Siapa yang menggerakkan hati kita untuk berbuat baik? Siapa yang memudahkan jalan ketika semuanya terasa sulit? Allah.
Karena itu, jangan pernah terlalu cepat berkata, “Aku bisa.” Katakan dalam hati: “Aku bisa karena Allah mengizinkan.”
- Bisa bangun untuk salat Subuh—Billah.
- Bisa menahan amarah—Billah.
- Bisa bersabar—Billah.
- Bisa menyelesaikan pekerjaan—Billah.
- Bisa melewati ujian kehidupan—Billah.
- Bisa istikamah dalam kebaikan—Billah.
Kita tetap wajib berusaha. Tawakal bukan alasan untuk bermalas-malasan. Justru seorang yang memahami Billah akan bekerja sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Di situlah kalimat la hawla wa la quwwata illa billah menemukan kedalaman maknanya:
- Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
- Maka ketika berhasil, kita tidak menjadi sombong.
- Ketika gagal, kita tidak menjadi putus asa.
- Kita tahu bahwa tugas kita adalah berusaha.
- Adapun hasil, berada dalam ketetapan Allah.
Lillah, Fillah, Billah: Tiga Jalan dalam Satu Kehidupan
Bayangkan seseorang berdakwah. Ia memulai dengan Lillah: “Aku berdakwah karena Allah.”
Kemudian ia berjalan dengan Fillah: “Aku ingin berjalan bersama orang-orang yang saling menguatkan dalam kebaikan karena Allah.”
Dan ia menjalankannya dengan Billah: “Aku tidak akan mampu menjalankan semua ini tanpa ilmu, kekuatan, dan pertolongan Allah.”
Begitu pula dalam pekerjaan.
Lillah meluruskan niat.
Fillah meluruskan jalan dan pergaulan.
Billah meluruskan sandaran.
Dalam keluarga, ketiganya juga diperlukan. Kita mencintai karena Allah. Kita menjaga keluarga dalam jalan Allah.
Dan kita memohon pertolongan Allah agar mampu menjalankan amanah keluarga. Tanpa Lillah, amal mudah berubah menjadi pencarian pengakuan.
Tanpa Fillah, perjalanan menjadi sepi dan mudah melelahkan. Tanpa Billah, keberhasilan dapat melahirkan kesombongan.
Tetapi ketika ketiganya menyatu, ada keseimbangan yang indah:
Lillah membuat kita ikhlas.
Fillah membuat kita berjamaah.
Billah membuat kita tawakal.
Dan mungkin, inilah yang sering hilang dalam perjalanan kita. Kita ingin hidup yang ringan, tetapi lupa meluruskan niat. Kita ingin kuat, tetapi memilih berjalan sendirian.
Kita ingin berhasil, tetapi lupa siapa yang memberikan kekuatan. Maka sesekali berhentilah. Periksa kembali hati.
Untuk siapa kita bekerja? Dengan siapa kita berjalan? Kepada siapa kita bersandar?
Jika jawabannya kembali kepada Allah, insyaallah langkah kita akan menemukan arah. Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak manusia mengenal kebaikan kita.
Bukan pula tentang seberapa tinggi penghargaan yang kita terima. Bukan tentang berapa banyak orang yang memuji perjuangan kita.
Yang paling penting adalah apakah Allah menerima semua itu sebagai amal yang ikhlas. Maka mari belajar menjalani hidup dengan tiga kata:
Lillah.
Fillah.
Billah.
Karena Allah. Bersama orang-orang yang berjalan di jalan Allah. Dan dengan pertolongan Allah.
Semoga dari tiga kata sederhana itu lahir kehidupan yang lebih ikhlas, persahabatan yang lebih bermakna, perjuangan yang lebih kuat, dan hati yang lebih tenang. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments