Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

ABK Bukan Lagi Orang Asing di Kelas Kami

Iklan Landscape Smamda
ABK Bukan Lagi Orang Asing di Kelas Kami
Ilustrasi AI
Oleh : Basirun, S.Pd Guru SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya

Lima tahun terakhir menjadi perjalanan yang sangat berarti bagi SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya, yang populer dengan sebutan “SD Musix”. Sekolah ini mulai membuka pintu bagi peserta didik anak berkebutuhan khusus (ABK) sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan inklusif.

Pada awalnya, keputusan tersebut tentu bukan hal yang mudah. Ada keraguan dan kekhawatiran. Bukan hanya dari pihak sekolah dan guru, melainkan juga dari sebagian orang tua siswa. Kekhawatiran yang paling sering mengemuka adalah kehadiran ABK dapat mengganggu kenyamanan serta proses belajar-mengajar anak-anak mereka.

Kekhawatiran tersebut tentu sangat manusiawi. Karena dalam praktiknya, dinamika di lapangan memang tidak selalu mudah. Ada perilaku tertentu dari ABK yang berdampak langsung pada suasana kelas. Bahkan, meskipun sudah didampingi shadow teacher, beberapa situasi ekstrem tetap membutuhkan penanganan ekstra.

Sebagai guru, saya pernah merasakan betapa rumitnya mengelola kelas inklusi. Ada momen perhatian guru yang terpaksa harus terbelah: satu anak membutuhkan pendampingan sangat intensif, sementara pada saat yang sama puluhan anak lainnya juga membutuhkan perhatian penuh.

Tidak jarang muncul desakan dari sebagian wali murid agar siswa berkebutuhan khusus dipindahkan ke sekolah lain demi menjaga kenyamanan belajar anak mereka. Saya sangat memahami sudut pandang tersebut; setiap orang tua tentu menginginkan lingkungan belajar yang aman dan ideal bagi buah hatinya.

Namun, sekolah memilih untuk mengambil sikap berbeda. Anak-anak berkebutuhan khusus tersebut tidak lantas dipandang sebagai beban yang harus disingkirkan. Sekolah berupaya mencari jalan keluar terbaik agar mereka tetap mendapatkan hak dasar untuk belajar dan tumbuh bersama teman-teman sebayanya.

Salah satu langkah konkrit yang diambil adalah bermitra dengan lembaga psikologi untuk memantau tumbuh kembang mereka secara berkala. Pendampingan dilakukan secara bertahap sesuai asesmen kebutuhan anak. Sekolah juga terus melakukan evaluasi agar proses pembelajaran berjalan adil bagi seluruh peserta didik.

Kepolosan yang Melampaui Prasangka

Menariknya, ada satu hal yang justru luput dari prasangka orang dewasa: anak-anak ternyata jauh lebih mudah menerima ketimbang kita.

Bagi siswa SD Musix, keberadaan teman berkebutuhan khusus bukan lagi hal yang aneh. Mereka tidak sibuk mempertanyakan mengapa temannya berperilaku berbeda. Bagi mereka, dia adalah teman sekelas.

Ketika temannya mengalami tantrum, misalnya, beberapa siswa justru berinisiatif membantu menenangkan. Mereka secara alami tahu kapan harus mendekat dan kapan memberikan ruang.

Bahkan saat sesekali terkena dampak dari perilaku temannya, hubungan pertemanan itu tidak serta-merta berubah menjadi penolakan.

Di sinilah saya menyaksikan pelajaran berharga: anak-anak sedang mempelajari arti keberagaman bukan dari lembar buku teks, melainkan dari kehidupan nyata. Mereka belajar bersabar, empati, dan menolong tanpa merasa lebih unggul.

Pelajaran ini makin membekas saat saya mendampingi seorang siswa, sebut saja namanya Eko.

Sejak kelas satu, Eko belum memiliki shadow teacher. Guru kelas menjadi sosok utama yang mendampinginya. Tantangannya tidak ringan. Suatu hari, ketika guru lengah sebentar, Eko berjalan keluar hingga meninggalkan lingkungan sekolah dan ditemukan warga sedang bermain air di kolam tetangga sekolah hingga bajunya basah semua.

Kejadian itu sempat memicu kepanikan. Namun dari situ timbul dinamika baru. Guru kelas tidak lagi mengawasi Eko sendirian, melainkan perlahan melibatkan teman-teman sekelasnya untuk saling menjaga.

SMPM 5 Pucang SBY

Mereka berbagi peran dengan cara sederhana: ada yang menemani, mengingatkan, hingga melapor kepada guru saat Eko mulai gelisah. Awalnya mungkin karena instruksi guru, namun lama-kelamaan menjadi naluri alami. Pada titik itulah, Eko bukan lagi sekadar “anak ABK”, melainkan teman mereka.

Meninggikan Derajat Pendidikan Karakter

Di situlah pendidikan inklusif menemukan hakikatnya yang paling dalam.

Kita sering menggemakan pentingnya pendidikan karakter, seperti toleransi, kepedulian, empati, dan gotong royong. Namun seluruh teori itu baru menemukan ruhnya saat anak-anak mengalaminya sendiri secara langsung.

Mengajarkan doktrin “Kita harus menghargai perbedaan” tentu mudah. Namun ketika seorang anak belajar menunggu temannya yang tantrum, ikut menenangkan, atau menjaga temannya agar tidak melangkah keluar sekolah, nilai-nilai kemanusiaan itu benar-benar hidup.

Perjalanan lima tahun ini mengubah cara pandang saya sebagai pendidik. Dulu, kehadiran ABK sering kali hanya ditakar dari skala tantangan: bagaimana mengelola kelas, menjaga fokus siswa lain, atau membagi perhatian. Kini, saya melihatnya dari kacamata yang berbeda.

Tantangan itu adalah wadah terbaik untuk menempa seluruh siswa menjadi manusia yang berempati.

Tentu saja, kita tidak boleh menutup mata pada kesiapan infrastruktur. Pendidikan inklusif tidak cukup berhenti pada penerimaan siswa secara formal. Mereka membutuhkan asesmen yang tepat, shadow teacher, komunikasi berkala dengan orang tua, serta ekosistem sekolah yang siap.

Sekolah harus hadir sebagai jembatan antara kebutuhan siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus. Sebab, sekolah bukan sekadar tempat mengasah kecerdasan akademik, melainkan tempat menempa nilai-nilai kemanusiaan.

Di SD Musix, kami masih terus belajar dan membenahi diri. Namun satu hal yang membuat saya optimistis: anak-anak kami tidak lagi melihat perbedaan sebagai batas untuk menjauh.

Bagi saya, ini adalah capaian pendidikan yang tidak tertera di lembar rapor. Sebab ketika seorang anak mampu merangkul temannya dan berkata, “Dia teman saya,” pendidikan karakter telah menemukan bentuknya yang paling nyata.

Suatu hari nanti, ketika mereka dewasa, mereka tidak akan bertanya, “Mengapa dia berbeda?”

Melainkan mereka akan bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan agar dia tetap menjadi bagian dari kita?”

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 31/08/2026 06:45
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu