Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Yang Kita Tangisi, Bisa Jadi Sedang Menyelamatkan Kita

Iklan Landscape Smamda
Yang Kita Tangisi, Bisa Jadi Sedang Menyelamatkan Kita
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Kita sering membuat rencana dengan sangat detail. Hari ini harus begini Besok harus begitu. Bulan depan harus sudah sampai di sana.

Kita menentukan target. Menyusun langkah. Menghitung kemungkinan. Bahkan kadang sudah membayangkan seperti apa hasil akhirnya. Kita merasa hidup akan berjalan sesuai skenario yang sudah kita susun.

Namun hidup punya cara sendiri untuk mengajarkan satu hal: tidak semua yang kita rencanakan akan menjadi kenyataan.

Seorang anak muda begitu yakin akan diterima di kampus yang diinginkannya. Ia belajar berbulan-bulan. Berdoa setiap malam. Ketika pengumuman tiba, namanya tidak ada. Ia kecewa. Merasa usahanya sia-sia.

Beberapa tahun kemudian, ia justru menemukan jalan hidup di kampus lain. Di sana ia bertemu dosen yang mengubah cara berpikirnya. Mendapat sahabat yang kemudian menjadi bagian penting dalam hidupnya. Bahkan dari kampus itulah ia menemukan pekerjaan dan jalan pengabdian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Dulu ia menyebutnya kegagalan. Belakangan ia menyebutnya jalan Allah.

Begitu pula seseorang yang sudah bertahun-tahun bekerja di sebuah tempat. Ia berharap mendapatkan promosi. Semua tanda seolah mendukung. Namun justru orang lain yang terpilih. Ia pulang dengan kecewa. Merasa tidak dihargai.

Beberapa bulan kemudian, ia mendapat tawaran pekerjaan di tempat lain. Awalnya ia ragu. Tetapi pekerjaan baru itu ternyata membuka kesempatan yang jauh lebih besar.

Barulah ia mengerti. Tidak mendapatkan apa yang kita inginkan bukan selalu berarti kehilangan. Bisa jadi Allah sedang memindahkan kita ke tempat yang lebih tepat. Kita memang sering hanya melihat satu halaman dari kehidupan.

Allah mengetahui seluruh bukunya. Kita melihat hari ini. Allah mengetahui hari esok. Kita melihat pintu yang tertutup. Allah mengetahui pintu lain yang sedang dibukakan.

Karena itu, apa yang kita anggap terlambat, bisa jadi sebenarnya sedang dipersiapkan.

Apa yang kita anggap kehilangan, bisa jadi sebenarnya sedang diselamatkan. Apa yang kita anggap kegagalan, bisa jadi sedang diarahkan menuju jalan yang lebih baik.

Ada kalanya kita begitu ingin sesuatu. Sebuah pekerjaan. Sebuah jabatan. Sebuah hubungan. Sebuah kesempatan. Sebuah keberhasilan.

Kita mengejarnya dengan sekuat tenaga. Namun ketika Allah tidak memberikannya, kita bertanya:

“Mengapa bukan saya?”

“Mengapa harus begini?”

“Mengapa doa saya belum dikabulkan?”

Padahal mungkin jawabannya sederhana: Bukan yang itu. Atau: Bukan sekarang.

Atau mungkin: Aku punya rencana yang lebih baik untukmu.

Di sinilah kita belajar tentang tawakal. Tawakal bukan berarti berhenti membuat rencana. Bukan pula duduk diam menunggu takdir.

Kita tetap bekerja. Tetap belajar. Tetap berusaha. Tetap berdoa. Tetap mengetuk pintu-pintu kesempatan. Tetapi setelah semua ikhtiar dilakukan, kita belajar menyerahkan hasil kepada Allah. Sebab manusia hanya mengetahui apa yang tampak di depan mata.

Allah mengetahui sesuatu yang bahkan belum pernah kita pikirkan. Kadang kita menangisi sesuatu yang tidak jadi milik kita. Padahal beberapa tahun kemudian kita bersyukur karena Allah tidak memberikannya.

Kadang kita kecewa karena sebuah perjalanan harus berhenti. Padahal ternyata jalan itu memang bukan jalan kita. Kadang kita merasa hidup berjalan terlalu lambat.

Padahal Allah sedang menyiapkan sesuatu yang membutuhkan waktu lebih panjang. Seperti seorang petani yang menanam benih. Ia tidak bisa memaksa tanaman tumbuh dalam sehari. Ia hanya bisa menanam, menyiram, merawat, dan menunggu.

SMPM 5 Pucang SBY

Ada proses yang tidak terlihat di dalam tanah. Akar sedang tumbuh. Kehidupan sedang bekerja. Begitu pula doa. Tidak semua jawaban Allah datang dalam bentuk “ya.”

Ada yang berupa “tidak.” Ada yang berupa “tunggu.” Dan ada yang berupa sesuatu yang jauh berbeda dari permintaan kita. Tetapi semuanya berada dalam pengetahuan Allah.

Maka ketika rencana kita berantakan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hidup kita juga berantakan.

Ketika satu pintu tertutup, jangan langsung merasa tidak punya masa depan. Ketika sebuah impian gagal, jangan menganggap seluruh perjuangan menjadi sia-sia.

Bisa jadi Allah sedang mengubah arah perjalanan. Kita ingin berjalan lurus ke utara. Allah mengarahkan kita ke timur.

Kita mungkin bingung. Namun kelak kita bisa menemukan bahwa tujuan terbaik memang ada di sana. Tidak semua yang kita inginkan baik untuk kita. Dan tidak semua yang kita hindari buruk bagi kita.

Karena itu, tetaplah membuat rencana. Tetapi jangan terlalu menggantungkan kebahagiaan pada rencana itu. Tetaplah berusaha. Tetapi jangan merasa hasil sepenuhnya berada di tangan kita.

Tetaplah berdoa. Tetapi jangan mendikte Allah tentang bagaimana doa itu harus dijawab. Berikan ruang bagi takdir. Sebab hidup bukan hanya tentang mendapatkan apa yang kita inginkan. Hidup juga tentang belajar menerima apa yang Allah tetapkan.

Mungkin hari ini kita belum memahami mengapa sesuatu harus terjadi. Tidak apa-apa. Tidak semua jawaban harus kita dapatkan hari ini. Ada jawaban yang baru terlihat setelah kita melewati perjalanan yang panjang.

Kelak, ketika kita menoleh ke belakang, mungkin kita akan berkata:

“Oh, ternyata waktu itu Allah sedang menyelamatkanku.”

“Ternyata kegagalan itu yang membawaku ke sini.”

“Ternyata yang tidak terjadi itu justru menjadi kebaikan terbesar dalam hidupku.”

Maka jika hari ini rencana kita berbeda dengan kenyataan, tarik napas. Tenangkan hati. Lanjutkan ikhtiar. Perbaiki apa yang bisa diperbaiki. Terima apa yang memang tidak bisa diubah. Dan percayakan sisanya kepada Allah.

Sebab kita boleh memiliki rencana. Tetapi Allah memiliki pengetahuan yang tidak terbatas. Kita melihat potongan kecil dari kehidupan. Allah melihat seluruh perjalanan.

Karena itu, jangan takut ketika jalan hidup tidak selalu sesuai dengan rencana kita. Bisa jadi Allah sedang berkata:

“Bukan yang itu.”

“Bukan sekarang.”

“Percayalah kepada-Ku.”

Semoga kita menjadi hamba yang kuat ketika berusaha, sabar ketika menunggu, lapang ketika kehilangan, dan tetap tenang ketika hasilnya berbeda dari yang diharapkan.

Sebab pada akhirnya, ada satu keyakinan yang harus terus kita jaga: Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 30/08/2026 21:15
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu