Di tengah aktivitas peternakan dan pertanian masyarakat Desa Pait, Kecamatan Kasembon, terdapat potensi sederhana yang selama ini sering luput dari perhatian, yakni kotoran kambing dan sekam padi.
Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN MAS Kelompok 21 bersama ibu-ibu PKK Desa Pait menginisiasi kegiatan pemanfaatan kotoran hewan (KOHE) kambing dan sekam padi menjadi pupuk organik atau kompos, Sabtu (15/8/2026).
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN MAS Kelompok 21 mengajak masyarakat untuk tidak lagi memandang limbah peternakan dan pertanian semata sebagai persoalan yang tidak berguna.
Dengan pengelolaan yang tepat, masyarakat dapat mengolah kedua bahan tersebut menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman di pekarangan maupun lahan pertanian.
Kegiatan tersebut juga menjadi upaya untuk mengurangi penumpukan limbah sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Mahasiswa KKN bersama ibu-ibu PKK secara langsung mempraktikkan proses pembuatan kompos dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di Desa Pait.
Dalam praktiknya, mahasiswa dan ibu-ibu PKK terlebih dahulu menyiapkan KOHE kambing, sekam padi, serta bahan organik pendukung.
Mereka kemudian mengondisikan kotoran kambing yang masih terlalu basah agar proses pengomposan dapat berlangsung dengan lebih baik.
Anggota KKN MAS Kelompok 21, Dadel Puspita Ayuni, menegaskan bahwa masyarakat dapat melihat limbah peternakan sebagai sumber daya yang memiliki nilai manfaat.
“Limbah KOHE kambing bukanlah masalah, melainkan potensi yang dapat bermanfaat menjadi pupuk organik untuk mendukung kesuburan tanah dan tanaman,” ujar Dadel.
Setelah menyiapkan bahan, peserta mencampurkan KOHE kambing dengan sekam padi hingga merata.
Sekam padi berfungsi sebagai sumber bahan kaya karbon sekaligus membantu menciptakan pori-pori dalam campuran agar sirkulasi udara selama proses pengomposan tetap terjaga.
Selanjutnya, peserta membasahi campuran kompos secukupnya, lalu menutupnya untuk menjaga kelembapan dan suhu selama proses penguraian.
Mahasiswa KKN dan ibu-ibu PKK juga perlu memeriksa tumpukan kompos secara berkala serta membaliknya agar seluruh bahan mengalami proses pengomposan secara merata.
Kompos dapat digunakan setelah bahan mengalami proses pematangan. Peserta dapat mengenali kompos yang telah siap melalui perubahan warna menjadi lebih gelap, tekstur yang lebih remah, serta hilangnya bau menyengat seperti pada bahan awal.
Bagi mahasiswa KKN MAS Kelompok 21, kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana untuk berbagi pengetahuan dengan masyarakat. Proses tersebut juga membuka ruang pembelajaran dua arah.
Mahasiswa membawa pengetahuan yang diperoleh dari kampus, sementara masyarakat membagikan pengalaman mereka dalam mengelola peternakan, pertanian, dan lingkungan sekitar.
Melalui kegiatan pemanfaatan KOHE kambing dan sekam padi ini, KKN MAS Kelompok 21 berharap masyarakat Desa Pait semakin menyadari bahwa limbah dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Pengolahan limbah menjadi kompos menjadi langkah sederhana untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih sekaligus mendorong masyarakat mengembangkan pertanian yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit atau biaya yang besar.
Dari kotoran kambing dan sekam padi yang tersedia di sekitar masyarakat, warga Desa Pait dapat mulai membangun kebiasaan mengelola limbah secara produktif dan mengembalikannya kepada tanah dalam bentuk yang lebih bermanfaat.





0 Tanggapan
Empty Comments