Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Lima Pemuda yang Memandu Jalan KH Ahmad Dahlan saat Bertabligh di Surabaya

Iklan Landscape Smamda
Lima Pemuda yang Memandu Jalan KH Ahmad Dahlan saat Bertabligh di Surabaya
Lima Pemuda yang Memandu Jalan KH Ahmad Dahlan saat Bertabligh di Surabaya

Pada periode 1916-1921, Surabaya merupakan salah satu kota yang paling sering dikunjungi KH Ahmad Dahlan. Di setiap kunjungan dalam beberapa hari, sang Kyai bertabligh di beberapa tempat dan perkampungan. Terselip kisah peran para lima pemuda yang memandu jalan KH Ahmad Dahlan saat bertabligh di Surabaya.

Selama kunjungan-kunjungan yang dilakukan, jadwal KH Ahmad Dahlan sudah tertata sebelumnya. Ia datang berulang kali ke Kota Pahlawan untuk menyampaikan tabligh dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh pergerakan. Sekaligus memperkenalkan gagasan pembaruan Islam kepada masyarakat di berbagai kampung.

Jadwal yang tertata KH Ahmad Dahlan membuat perjalanan harus diatur dengan baik. Di sinilah peran sejumlah pemuda Surabaya menjadi sangat penting. Mereka bukan hanya menjadi pendamping. Tapi juga penunjuk jalan yang mengantarkan KH Ahmad Dahlan dari satu kampung ke kampung lainnya. Dari satu lokasi ke lokasi lain.

“Sayangnya, nama-nama para pemuda tersebut jarang muncul dalam catatan sejarah. Padahal, mereka ikut berkontribusi dalam kelancaran dakwah yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan di Surabaya,” jelas jurnalis senior di Surabaya Ferry Is Mirza, Ahad (21/06/2026).

Fim, begitu nama pena Ferry Is Mirza adalah jurnalis senior yang tumbuh besar di kawasan Ampel. Ketertarikannya terhadap kesejarahan Muhammadiyah tentu bukan sekadar jiwa jurnalistiknya. Melainkan warisan memori dari mendiang ayahnya, Ghozali Dalimunthe, yang berkesempatan bertemu langsung dengan KH Ahmad Dahlan.

Menurut penuturan Ghozali yang disampaikan kembali oleh Ferry, perjalanan dakwah KH Ahmad Dahlan di Surabaya selalu memiliki titik awal yang ikonik. Begitu turun dari Stasiun Semut, langkah pertama sang kyai hampir selalu diarahkan ke Peneleh. Termasuk saat menginap pertama kalinya, juga di Peneleh.

Di Peneleh, Kyai Dahlan menemui Tjokroaminoto, Ketua Central Sarekat Islam (SI). Terkadang juga menginap di rumah Tjokro itu. Kedekatan keduanya bukan sekadar kawan seperjuangan, tapi hubungan organisasi. KH Ahmad Dahlan sendiri memegang posisi strategis sebagai penasihat bidang agama dalam SI.

Setelah dari Peneleh, lanjut Ferry, di lain hari perjalanan dakwah dilanjutkan ke Bubutan. Berikutnya menuju Kapasan dan berakhir di Ampel. Rute ini memang sedikit berbeda dengan kesaksian Presiden Soekarno. Ia menyebut jalur dakwah KH Ahmad Dahlan meliputi Peneleh, Bubutan, Kapasari, dan Ampel.

SMPM 5 Pucang SBY

Tapi kata Ferry, penyebutan kampung Kapasan itu, berasal dari ayahnya yang mengordinir para pemuda untuk memandu jalan KH Ahmad Dahlan. “Ayah saya yang mengoordinasi para pemuda pengawal Kyai Dahlan. Rute yang benar adalah Peneleh, Bubutan, Kapasan, dan Ampel,” lanjut Ferry.

Siapakah sosok-sosok pemuda yang menjadi tangan kanan KH Ahmad Dahlan dalam menjelajahi Surabaya? Tokoh pertama sekaligus yang sering didapuk sebagai ketua regu adalah Amien Kafrawi. Pemuda yang pada masa itu sudah tingga di Peneleh. “Di kalangan internal Muhammadiyah, nama beliau lebih dikenal dengan nama Amien Barowi.”

Kedua adalah dr. Moehammad Soewandhie. Namanya kini diabadikan sebagai salah satu rumah sakit besar milik Pemerintah Kota Surabaya. Dalam narasi keluarga Ghozali, Soewandhie muda sudah tinggal di Surabaya. Sebagai salah satu murid yang tinggal di rumah kos milik HOS Tjokroaminoto, bersama dengan Soekarno dan lain-lainnya.

Barisan pengawal ini kemudian dilengkapi oleh tiga pemuda lainnya: Gani, Ridwan dari Peneleh-Grogol, serta Manan Hamid dari Ampel Petukangan. Menurut cerita yang disampaikan Ferry, para pemuda tersebut biasanya menggunakan sepeda ontel.

Lima pemuda ini berkeliling mendahului atau mengiringi perjalanan dokar yang dinaiki KH Ahmad Dahlan. Sepeda yang mereka gunakan merupakan jenis sepeda klasik dengan batang besi melintang di bagian tengah. “Pada bagian tengah ini biasanya para pemuda itu menggantungkan tasnya yang berisi perlengkapan perjalanan.”

Di jalanan Surabaya ada pemandangan para pemuda yang mengayuh sepeda ontel mengawal KH Ahmad Dahlan. Dari Peneleh menuju Bubutan, Kapasan, dan Ampel, meski terkadang menjadi gambaran menarik tentang bagaimana dakwah dijalankan pada masa awal abad ke-20. Di balik nama besar KH Ahmad Dahlan, terdapat sejumlah pemuda yang bekerja tanpa banyak sorotan.

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu