Menteri Agama Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (BEM Umsida), Moch Hidayatul Rizky, mengajak mahasiswa untuk tidak diam melihat berbagai persoalan bangsa.
Refleksi tersebut ia sampaikan pada Jumat (12/06/2026) sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi Indonesia dalam beberapa minggu dan bulan terakhir.
Menurutnya, berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat harus menjadi renungan bersama, terutama bagi generasi muda dan mahasiswa.
Rizky menilai, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral sebagai kelompok intelektual. Mereka tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus memiliki kepekaan sosial, keberanian moral, dan komitmen terhadap nilai kebenaran.
“Mahasiswa harus menjadi pembeda. Harapan rakyat Indonesia ada pada generasi muda yang mampu berpikir kritis, mampu memilih mana yang benar sebagai kebenaran dan mana yang salah sebagai kesalahan” ujarnya.
Mahasiswa Jangan Jadi Penonton
Rizky menyebut, bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi beragam tantangan. Mulai dari dugaan persoalan tata kelola pemerintahan, kasus korupsi, dugaan penyimpangan dalam berbagai lembaga, hingga tantangan ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pelemahan nilai mata uang, kenaikan harga kebutuhan, serta persoalan sosial dan moral yang semakin kompleks, kata dia, menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan generasi yang kuat secara intelektual dan karakter.
Menurutnya, mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perjalanan bangsa. Mahasiswa harus hadir sebagai insan kritis yang mampu membaca keadaan dengan pikiran jernih.
“Kita harus menjadi pelopor perubahan ketika melihat ketidakadilan, kedzaliman, atau persoalan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan” ungkapnya.
Ia menegaskan, keberanian mahasiswa dalam menyampaikan pendapat harus tetap dibarengi dengan akhlak, ilmu, dan sikap beradab. Kritik tidak boleh lahir dari kebencian, tetapi dari kepedulian dan semangat memperbaiki keadaan.
Kritik Bagian dari Kepedulian
Rizky menjelaskan, kritik terhadap pemerintah maupun berbagai persoalan sosial merupakan bagian dari tanggung jawab warga negara. Namun, kritik tersebut harus disampaikan dengan data, ilmu, dan etika.
Menurutnya, mahasiswa perlu membangun tradisi berpikir yang sehat. Tidak mudah terprovokasi, tidak asal menyebarkan informasi, tetapi juga tidak apatis terhadap keadaan.
Ia menilai, sikap diam terhadap persoalan yang jelas merugikan masyarakat dapat menjadi tanda melemahnya peran intelektual mahasiswa. Karena itu, kampus harus menjadi ruang tumbuhnya nalar kritis sekaligus keberanian moral.
Sebagai mahasiswa yang membawa nilai keislaman, Rizky mengingatkan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk berpikir, mencari ilmu, dan memperjuangkan kebaikan. Seorang Muslim, menurutnya, tidak cukup hanya memahami ilmu agama secara pribadi.
Nilai Islam harus hadir dalam kehidupan sosial melalui kejujuran, keadilan, kepedulian, dan keberanian membela yang benar.
Muhammadiyah dan Generasi Berkemajuan
Di samping itu, Rizky juga menyoroti peran mahasiswa Muhammadiyah. Menurutnya, mahasiswa Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk menjadi generasi berkemajuan.
Tanggung jawab itu tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan akademik, tetapi juga melalui dakwah intelektual dan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Ia mengatakan, perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Perubahan dapat berawal dari keberanian individu untuk memperbaiki diri, menyampaikan kebenaran, dan bergerak memberi manfaat.
“Jangan sampai kita menjadi generasi yang diam ketika melihat persoalan. Jadilah generasi yang memiliki ilmu, akhlak, dan keberanian” tegasnya.
Rizky menambahkan, masa depan bangsa akan ditentukan oleh generasi yang hari ini mau berpikir, peduli, dan mengambil peran.
“Karena masa depan bangsa ini akan ditentukan oleh mereka yang hari ini mau berpikir, peduli, dan mengambil peran” pungkas Rizky.





0 Tanggapan
Empty Comments