SD Muhammadiyah 24 Surabaya menghelat pentas seni bertajuk “Performing Art by Sahabat 24” di Gedung Kesenian Cak Durasim, pada Selasa (16/06/2026). Kegiatan ini terlaksana dalam rangka melatih melatih kerjasama dan membangun rasa percaya diri,
Pentas seni ini mengusung tema “Cahaya Islam di Bumi Khatulistiwa” dan terhadiri sebanyak 425 siswa.
Lebih lanjut, rangkaian pentas seni tersaji secara runtut sesuai dengan sejarah perjalanan masuk hingga berkembangnya Islam di Indonesia. Selain itu, tersampaikan dengan 3 bahasa yakni Indonesia, Inggris, dan Arab.
Devi Meyla Pramesti SPd selaku guru sekaligus pembina tampilan akhir mengungkapkan bahwa semua rangkaian yang disusun berlandaskan QS. Al-Ma’un yang selalu mengarah kepada kebaikan untuk peduli sesama.
Dari seluruh rangkaian yang dipentaskan, tema “ Islam Berkemajuan” menjadi salah satu penampilan yang ada di bagian akhir.
Meski sebagai penutup dari seluruh drama kolosal, justru penampilan ini merupakan rangkuman sejarah dari awal yang ditampilan hingga akhir dalam bentuk dialog dan kolaborasi gerak dengan iringan lagu daerah yang menggambarkan dari masa animisme.
Berlanjut pada masuknya Islam di Indonesia, menyebarnya Islam di tanah jawa, hingga Islam Berkemajuan.
Sebelum masuk kolaborasi gerak dan lagu, penampilan ini diawali dengan pengantar yang menarasikan Islam terkini yang modern. Makna modern ini di tampilan yang menggambarkan kemajuan teknologi, Pendidikan, dan karakter tolong menolong antar sesama.
“Adanya peran anak sedang memberi dan menolong, semua itu relevan dengan QS. Al-Maun. Mengingat Surah itu menjadi salah satu yang disampaikan KH Ahmad Dahlan yang ditekankan pada nilai-nilai kebaikan” terang Devi,
“Sehingga bermuara pada kemajuan zaman yang dibuktikan adanya kemajuan teknologi dan Pendidikan, dan inilah makna Islam berkemajuan” ujarnya.
Tari Kecak
Setelah narasi itu disampaikan, 30 siswa gabungan dari kelas 3,4 dan 5 serentak duduk rapi membentuk lingkaran, menjadi sajian awal gerak tarian kecak.
Kecak merupakan tarian tradisional berasal dari Bali. Tarian ini memiliki makna tentang kesucian dan doa yang berakar dari ritual sakral sebagai jembatan komunikasi antara manusia dengan sang pencipta kepada roh leluhur untuk memohon keselamatan.
Makna ini relevan dengan tampilan pertama yang menceritakan tentang animisme dan dinamisme sebelum datangnya Islam di Indonesia.
Lagu Bungong Jeumpa
Bungong Jeumpa merupakan lagu daerah berasal dari Aceh. Penggunaan lagu ini pada pertunjukan sebagai isyarat perjalanan awal masuknya Islam di Indonesia dari tanah Aceh yang dibawa dari Arab, Gujarat, dan Persia.
Selain itu, dibuktikan berdirinya Kerajaan Samudera Pasai sebagai wujud kerajaan Islam tertua di Indonesia.
Lagu Cublak Cublak Suweng
Cublak Cublak Suweng merupakan lagu daerah dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lagu ini digunakan dalam pertunjukan sebagai isyarat tanda bahwa perjalanan masuknya Islam sudah di Tanah Jawa.
Melalui para walisongo, lagu ini juga menjadi bukti karya dari salah satu walisongo yakni Sunan Giri.
Lagu Rek Ayo Rek
Rek Ayo Rek merupakan lagu khas Surabaya Jawa Timur, dan lagu ini dibawakan dengan nuansa riang gembira. Dalam pertunjukan, lagu ini mengisyaratkan bahwa anak muda yang berkumpul.
Lagu Sipaku Gelang
Sipaku Gelang merupakan lagu daerah dari Sumatera Barat. Meski dalam pertunjukan beberapa lagu sudah memberikan arahan di Tanah Jawa. Justru dengan lagu Sipaku Gelang dihadirkan kembali sebagai isyarat tampilan berakhir.
Akhir dari sekian tampilan, kemudian ditutup dengan tulisan “Islam Berkemajuan” sebagai tanda akhir sebuah cerita dalam pertunjukan yang telah dipersembahkan.
Dengan demikian, rangkaian drama kolosal hadir tidak sekedar hiburan belaka, melainkan mengandung makna dari cerita dan lagu yang ditampilkan.
Oleh karena itu, SD Muhammadiyah 24 Surabaya konsisten membimbing dan menyiapkan calon generasi berkarakter melalui Pendidikan hingga kesenian yang dibuktikan melalui persembahan pentas seni drama kolosal ini, dengan harapan mampu menjadi teladan bagi semua.





0 Tanggapan
Empty Comments