Masjid At-Taubah menggelar Ngaji Malam Jum’at di Jalan Demak Barat I No. 39, Surabaya, Kamis (16/7/2026). Kajian yang disampaikan Ust. Suhadi M. Sahli tersebut mengangkat tema “Islam Berkemajuan dalam Muhammadiyah”, dengan mengulas Risalah Islam Berkemajuan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta pada 2022.
Dalam pemaparannya, Ust. Suhadi menjelaskan bahwa Islam Berkemajuan merupakan penegasan identitas Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid. Menurutnya, istilah tersebut bukanlah penyempitan makna Islam, melainkan penekanan pada wajah Islam yang mampu menjawab tantangan zaman dan diwujudkan dalam kehidupan nyata.
“Islam Berkemajuan memiliki lima ciri utama (al-khasaish al-khamsah) yang menjadi karakter gerakan Muhammadiyah,” ujarnya.
Ust. Suhadi menjelaskan bahwa ciri pertama Islam Berkemajuan adalah berlandaskan tauhid yang murni. Tauhid, menurutnya, tidak berhenti pada aspek keyakinan, tetapi harus melahirkan tindakan nyata yang membawa perubahan sosial.
“Tauhid bukan hanya teologi metafisik, tetapi juga teologi transformatif atau tauhid sosial yang menggerakkan amal saleh dan membangun peradaban,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa implementasi tauhid diwujudkan melalui pemurnian akidah dari praktik takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC), sekaligus melahirkan amal usaha yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat, seperti lembaga pendidikan, rumah sakit, panti asuhan, serta berbagai layanan sosial.
Lebih lanjut, Ust. Suhadi menegaskan bahwa tauhid memiliki implikasi yang luas terhadap kehidupan sosial dan kemanusiaan.
“Tauhid yang menjadi landasan Islam Berkemajuan harus menghadirkan kemuliaan bagi manusia, membawa dakwah penuh cinta, serta menjaga kehidupan sosial dan alam semesta,” tuturnya.
Ciri kedua Islam Berkemajuan adalah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun, menurut Ust. Suhadi, kembali kepada keduanya tidak dimaknai secara tekstual semata.
Muhammadiyah memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan melibatkan akal, ilmu pengetahuan, serta perkembangan teknologi sehingga ajaran Islam tetap relevan dalam menjawab berbagai persoalan kontemporer.
Selanjutnya, Ust. Suhadi menjelaskan bahwa ciri ketiga ialah menghidupkan semangat ijtihad dan tajdid. Ia menegaskan bahwa pintu ijtihad tidak pernah tertutup hingga akhir zaman.
Sebagai landasan, ia mengutip kisah Mu’adz bin Jabal ketika diutus Rasulullah SAW ke Yaman sebagai contoh pentingnya ijtihad dalam menyelesaikan persoalan yang tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah.
“Semangat ijtihad harus terus hidup agar umat Islam mampu memberikan solusi terhadap persoalan baru dengan tetap berpegang pada nilai-nilai syariat,” katanya.
Ciri keempat adalah mengembangkan wasatiyah atau sikap moderat. Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 143 dan Ali Imran ayat 110, Ust. Suhadi mengajak umat Islam menjadi umat pertengahan yang adil, tidak ekstrem ke kanan maupun terlalu longgar dalam memahami syariat.
“Wasatiyah menjadikan umat Islam mampu bersikap adil, bijaksana, dan menjadi teladan bagi masyarakat,” ungkapnya.
Adapun ciri kelima adalah menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin. Menurutnya, Islam harus membawa rahmat bagi seluruh makhluk tanpa membedakan agama, suku, maupun golongan.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR Ahmad), sebagai landasan bahwa setiap Muslim harus memberikan manfaat bagi sesama.
Menutup kajian, Ust. Suhadi mengajak seluruh jamaah menjadikan lima karakter Islam Berkemajuan sebagai pedoman dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, maupun berorganisasi.
“Keputusan tarjih, kebijakan pimpinan, maupun gerakan Muhammadiyah harus selalu mencerminkan Islam Berkemajuan agar mampu menghadirkan kehidupan yang damai, sejahtera, dan memperoleh limpahan rahmat Allah SWT,” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments