Perkembangan amal usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial terus menjadi perhatian banyak kalangan. Tidak sedikit organisasi Islam lain yang berusaha mengikuti jejak keberhasilan Muhammadiyah melalui berbagai program dan lembaga baru.
Namun, keberhasilan Muhammadiyah tidak hanya dibangun dari besarnya aset atau banyaknya lembaga, melainkan dari fondasi keikhlasan, kepemimpinan kolektif kolegial, istikamah pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta budaya organisasi yang kuat sejak era KH. Ahmad Dahlan.
Nilai dasar itulah yang menjadi kekuatan utama Muhammadiyah sejak awal berdiri. Spirit dakwah yang diwariskan KH. Ahmad Dahlan dibangun bukan untuk mencari popularitas ataupun pujian publik.
Pada masa awal merintis Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan justru menghadapi berbagai cacian, cemoohan, tudingan, hingga cap negatif dari banyak pihak.
Namun dengan keikhlasan, kesabaran, dan kerja nyata yang terus dijaga, benih dakwah yang ditanam perlahan tumbuh menjadi amal usaha besar yang maslahatnya kini dirasakan luas oleh masyarakat.
Keberhasilan itu lahir dari kesungguhan para pimpinan dan warga Muhammadiyah dalam berjuang secara kolektif, konsisten, dan berorientasi pada kemanfaatan umat.
Organisasi Lainnya Mencoba Bersaing
Melihat perkembangan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, sosial dan kesehatan telah menarik perhatian dari organisasi Islam lainnya.
Secara diam-diam atau terang-terangan mereka berusaha mengejar Muhammadiyah. Berbagai upaya dilakukan. Tak terkecuali dengan bantuan tangan-tangan kekuasaan dan pengusaha dalam dan luar negeri.
Organisasi Islam lama atau baru berusaha untuk berfastabiqul khairat, atau berlomba-lomba dalam kebajikan. Ini dapat di katakan persaingan sehat. Namun dalam realitasnya tidaklah mudah untuk melakukannya.
Mengejar pembangunan lembaga pendidikan tinggi Muhammadiyah saja tidaklah mudah. Apalagi yang lainnya. Sebab semua itu tidak terlepas dari idealisme dan latar belakang sejarah berdirinya suatu organisasi.
Muhammadiyah ini telah menempatkan dirinya sebagai organisasi dakwah Islam yang berdasar Al Qur’an dan As Sunnah sejak awal berdiri dan istiqamah.
Namun demikian Muhammadiyah tidak abai pada perubahan dan modernisasi di berbagai bidang. Khususnya kemajuan ilmu dan teknologi. Didukung dari faktor keikhlasan dan pengorbanan dalam beramal jamai dan kerja serius anggota-anggotanya.
Selain itu didukung sikap kesederhanaan hidup bagi para pemimpin utamanya. Semua ini membuat Muhammadiyah maju dan berkembang luar biasa.
Tentu bukanlah berarti organisasi Islam yang lain tidak memiliki keikhlasan dan pengorbanan yang sama dengan Muhammadiyah dalam berbagai amal usahanya.
Hanya saja faktor-faktor antara lain, kuatnya kepentingan pribadi, keluarga dan kelompok, tentulah berbeda pengaruhnya dalam beramal usaha yang benar-benar milik organisasi.
Selain itu sikap istikamah dan berpegang teguh dalam memperjuangkan nilai-nilai Al Qur’an dan As- Sunnah, didukung dengan ilmu dan teknologi di kalangan organisasi itu pun berbeda-beda.
Kepemimpinan Solid dan Kolegial
Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat tergolong unik. Diantaranya berkaitan dengan proses suksesi kepemimpinannya.
Pergantian kepemimpinan Muhammadiyah dilakukan dengan sistem musyawarah mufakat. Ini sesuai syariat, diwujudkan melalui muktamar lima tahunan.
Kegiatan Muktamar ini diikuti oleh perwakilan anggota Muhammadiyah dari seluruh Indonesia. Mereka berasal dari pimpinan wilayah, daerah dan cabang sesuai ketentuan yang berlaku dalam AD/ART Muhammadiyah.
Sistem pemilihan pimpinan dilakukan secara demokratis dan langsung. Pemilihan pun sudah menggunakan teknologi. Hanya saja jumlah pimpinan yang dipilih sesuai ketentuan AD-ART nya sebanyak 13 orang.
Angka 13 di dunia Barat dan Timur ini dianggap sial dan berdampak buruk. Di pesawat terbang termasuk di Indonesia tidak ada nomor kursi 13. Namun nomor itu bagi Muhammadiyah tidak masalah. Muhammadiyah memandang semua angka itu baik dan maslahat.
Sistem demokrasi Muhammadiyah ini hingga sekarang masih terus berlangsung. Tidak ada organisasi yang lain mengikuti sistem seperti ini, termasuk pesaing.
Karena itu sistem yang ditetapkan Muhammadiyah ini tidak membuat terjadinya dukung-mendukung dengan gunakan uang (money politik).
Karena itu kualitas kepemimpinan yang dihasilkan dari sistem Muhammadiyah ini benar-benar baik dan mampu mengemban amanah perjuangan, Berbeda dari organisasi dan kepemimpinan yang di produksi dari dihasilkan dari money politik.
Selain itu sistem kolektif kolegial menjadikan kepemimpinan Muhammadiyah menjadi kuat dan tangguh.
Mereka saling berbagi tugas, bekerja sama, mengisi kekosongan dan mengawasi dalam menjalankan roda organisasi.
Ketua tidak bisa leluasa melakukan aktivitas pelanggaran dalam organisasi. Apalagi pelanggaran yang berkaitan dengan keuangan dan kong kalikong dengan penguasa dan pihak oligarkhi.
Demikian pula tidak mudah sikap pimpinan Muhammadiyah bertolak belakang dengan warganya dalam soal prinsip, ideologi dan konstitusi.
Tidak Rangkap Jabatan dalam Muhammadiyah
Kekuatan dalam kepemimpinan Muhammadiyah yang juga tidak dapat disaingi adalah Ketua atau Ketua Umumnya tIdak menangkap jabatan dan tidak berafiliasi dengan ragam kepentingan politik nasional dan global manapun.
Namun terhadap persoalan politik nasional dan global tentu tidak abai dan berusaha memberikan pandangan yang jelas dan tegas, tidak ambigu dan semu, apalagi membingungkan.
Berbeda dengan pimpinan ormas yang jejak digitalnya, biasa bermain mata atau berada dalam kuasa kepentingan politik nasional dan global tertentu dan kekuasaan.
Di antara pimpinan Muhammadiyah yang rangkap jabatan dalam pemerintahan, bukan dalam posisi sebagai ketua pimpinan kolektif kolegial.
Mereka yang menjadi menteri dalam pemerintahan itupun karena diminta dan bukan meminta atau sudah melakukan lobi-lobi sebelumnya.
Mereka lebih dilihat bukan pada dukungan terhadap penguasa, tapi lebih karena kemampuan dan kepakarannya. Setelah mereka menjadi pejabat tetap tidak abai dalam memajukan organisasi tanpa melupakan tugas-tugasnya dalam pemerintahan secara maksimal dan profesional.
Keadaan ini berbeda dengan ormas pesaing Muhammadiyah dalam berfastabiqul khairat. Baik ormas yang berdiri sebelum dan atau sesudah proklamasi kemerdekaan RI. Ketua umumnya merangkap dalam jabatan di luar organisasinya. Baik dalam lembaga politik dan pemerintahan, atau juga dalam lembaga-lembaga lainnya.
Bagi yang terlibat di lembaga politik dan pemerintahan, nasional dan global, tentu berpengaruh kepada organisasi yang dipimpinnya. Tentunya hal itu berdampak dan berpengaruh pula pada gerak dan kemajuan organisasi yang dipimpinnya.
Bagi Muhammadiyah berfastabiqul khairat itu menjadi identitas dan amalannya sejak berdiri. Hingga saat capaian, perkembangan dan juga kemajuan amal usahanya tidaklah terlepas dari prinsip-prinsip yang dianutnya dalam gerak dan dakwahnya.
Muhammadiyah tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As Sunnah tanpa mengabaikan ilmu dan teknologi.
Selain itu selalu memodernisasi gerak dan aktivitas sesuai perkembangan zaman yang terus berubah.
Karena itu Muhammadiyah tetap tegak dalam situasi dan kondisi apapun. Wajar jika organisasi ini maju, berkembang dan meningkat kualitas dan kuantitas amal usahanya hingga mendunia.
Semoga Muhammadiyah tetap jaya, kokoh dan unggul dalam usianya yang bertambah. Selamat Milad ke-117 Hijriah Muhammadiyah (1330-1447 H) di bulan Zulhijjah 1447 ini.
Tetaplah berpegang teguh pada prinsip-prinsip utama yang telah dianut dan diterapkan oleh KH. Ahmad Dahlan. (MK, Bojong Gede, 25 Zulkaidah 1447 H/13 Mai 2026). (*)





0 Tanggapan
Empty Comments