Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengapa Tatswib pada Azan Awal Subuh?

Iklan Landscape Smamda
Mengapa Tatswib pada Azan Awal Subuh?
Oleh : Ery Santika Adirasa, S.ST., M.Ag. Da’i Muhammadiyah - NBM: 1091631

Azan bukan sekadar panggilan untuk menunaikan salat. Azan merupakan syiar tauhid, penanda waktu, dan seruan menuju kemenangan. Pada azan Subuh, terdapat lafaz khusus yang dikenal dengan tatswib. Sebagian tulisan menyebutnya tastwib, yaitu:

“Ash-shalatu khairun minan naum”, yang artinya: “Salat itu lebih baik daripada tidur.”

Lafaz ini memiliki kedudukan dan waktu pengucapan tersendiri dalam azan Subuh. Kapan sebenarnya muazin membacanya? Apakah pada azan pertama atau azan kedua?

Tulisan ini menelusuri dalil-dalil, keterangan para ulama, dan kaidah ushul fikih yang relevan. Tulisan ini juga menegaskan pandangan Tarjih Muhammadiyah.

Dua Muazin Rasulullah dan Azan Sebelum Fajar

Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dua orang muazin bertugas mengumandangkan azan Subuh. Imam Bukhari membuat bab khusus dalam Shahih-nya dengan judul:

Al-Adzanu qabla al-fajr (Azan sebelum fajar).

Dalam bab tersebut, terdapat riwayat: ‘An ‘Aisyata ‘anin-nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallam annahu qala: Inna Bilalan yu’adz-dzinu bi lailin, fakulu wasyrabu hatta yu’adz-dzina Ibnu Ummi Maktum.

Dari Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan saat masih malam, maka makan dan minumlah sampai ada seruan azan oleh Ibnu Ummi Maktum.” (HR. Bukhari)

Riwayat ini menjelaskan bahwa Bilal mengumandangkan azan sebelum masuk waktu Subuh.

Karena itu, orang-orang masih boleh makan dan minum. Namun, Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan berikutnya setelah waktu Subuh masuk. Sejak saat itu, orang-orang tidak boleh lagi makan dan minum.

Dalil Lafaz Tatswib pada Azan Subuh

Beberapa riwayat menyebutkan lafaz tatswib. Salah satunya adalah riwayat berikut:

‘An Abi Mahdzurata qala: Kuntu u’adzdzinu li Rasulillahi shallallahu ‘alaihi wa sallam, wa kuntu aqulu fi adzanil-fajril-awwali: Hayya ‘alal-falah, ash-shalatu khairun minan naum, ash-shalatu khairun minan naum, Allahu Akbar, Allahu Akbar, la ilaha illallah.

Dari Abu Mahzurah, dia berkata: “Aku pernah mengumandangkan azan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada azan Fajar pertama, aku mengucapkan: Hayya ‘alal falah, ash-shalatu khairun minan naum, ash-shalatu khairun minan naum, Allahu Akbar, Allahu Akbar, la ilaha illallah.” (HR. An-Nasa’i)

Riwayat lain menyebutkan:

‘An Abi Mahdzurata ‘anin-nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallama nahwa hadzal-khabari, wa fihi: Ash-shalatu khairun minan naum, ash-shalatu khairun minan naum fil-ula minas-subhi.

Dari Abu Mahzurah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terdapat riwayat serupa. Riwayat tersebut menyebutkan: “Ash-shalatu khairun minan naum, ash-shalatu khairun minan naum pada Subuh yang pertama.” (HR. Abu Dawud)

Kedua riwayat tersebut menunjukkan bahwa muazin mengucapkan tatswib pada azan pertama sebelum masuk waktu Subuh. Masyarakat biasa menyebutnya azan awal.

Keterangan Ulama: Taqyid dan Illat

Imam Ash-Shan’ani menjelaskan persoalan ini dalam kitab Subulus Salam: Wa fi riwayatin-Nasa’i: “Ash-shalatu khairun minan naum, ash-shalatu khairun minan naum fil-adzanil-awwali minas-subhi.” Wa fi hadza taqyidun lima athlaqat-hur-riwayat.

Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan: “Ash-shalatu khairun minan naum, ash-shalatu khairun minan naum pada azan pertama dari Subuh.”

Menurut Ash-Shan’ani, keterangan tersebut membatasi riwayat-riwayat yang menyebutkan lafaz itu secara mutlak.

SMPM 5 Pucang SBY

Lebih lanjut, beliau menegaskan: Fa syar’iyyatut-tatswibi innama hiya fil-adzanil-awwali lil-fajri; li’annahu li iqazhin-na’im. Wa ammal-adzanuts-tsani fa innahu i’lamun bidukhulil-waqti, wa da’watun ilash-shalah.

“Pensyariatan tatswib hanya berlaku pada azan pertama untuk salat Subuh, karena tujuannya adalah membangunkan orang yang sedang tidur.

Adapun azan kedua, tujuannya adalah sebagai pemberitahuan telah masuknya waktu salat dan seruan untuk melaksanakannya.” (Subulus Salam, syarah Bulughul Maram).

Dalam memahami persoalan ini, setidaknya terdapat kaidah ushul fikih yang dapat menjadi pijakan.

Apabila suatu riwayat bersifat umum, sedangkan riwayat lain memberikan keterangan lebih spesifik, ushul fikih membahas kaidah:

Hamlul-muthlaqi ‘alal-muqayyad. (Membawa lafaz yang mutlak kepada makna yang dibatasi (muqayyad).

Dalam konteks ini, kita dapat membandingkan riwayat yang hanya menyebut tatswib dalam azan Subuh dengan riwayat yang secara spesifik menyebut:

Fil-adzanil-awwali (pada azan yang pertama).

Kaidah selanjutnya berbunyi: Al-hukmu yaduru ma’a ‘illatihi wujudan wa ‘adaman (Hukum itu berputar bersama illatnya, ada dan tidaknya).

Illat tatswib adalah membangunkan orang yang tidur. Karena itu, muazin mengucapkannya pada azan pertama.

Sementara itu, azan kedua bertujuan memberitahukan masuknya waktu salat dan menyeru orang untuk salat, bukan membangunkan orang tidur.

Dengan demikian, kaidah tersebut menjadi dasar argumentasi untuk tidak menempatkan tatswib pada azan kedua.

Pandangan Tarjih Muhammadiyah

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan bahwa muazin membaca tatswib hanya pada azan awal.

Penjelasan ini terdapat dalam Tanya Jawab Agama Jilid I dan Majalah Suara Muhammadiyah No. 21 Tahun ke-85/2000.

Pandangan tersebut sejalan dengan dalil-dalil yang telah disebutkan serta kaidah ushul fikih di atas.

Dengan demikian, Fatwa Tarjih yang menempatkan tatswib pada azan pertama sebelum masuk waktu Subuh memiliki dasar argumentasi yang kuat.

Dalam perspektif manhaj Tarjih Muhammadiyah, pendapat ini dapat dipertanggungjawabkan. Wallahu a’lam.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 09/10/2026 11:30
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu