“Good morning, everyone…”
Suara kecil itu memecah kehangatan sesi Morning Talk di kelas 2 Firefly SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, Selasa (4/8/2026).
Dengan senyum mengembang dan tatapan penuh percaya diri, Rafassya Hafiz Dhiaurrahman melangkah ke depan kelas sebagai Little Diplomat hari itu.
Tak ada naskah panjang di tangannya. Hanya kata kunci di kepalanya yang membantunya mengingat alur cerita. Selebihnya, Rafassya berbicara dengan keberanian dan antusiasme yang tumbuh dari dalam dirinya.
Mengangkat tema “My Activity”, Rafassya mengajak teman-temannya mengikuti pengalaman sederhana namun bermakna saat pergi ke supermarket bersama keluarganya.
“I go to the supermarket with my family” ucapnya dengan lantang.
Ceritanya kemudian mengalir tentang berbagai barang yang dibeli bersama keluarga, seperti candy, chocolate, oranges, fruit, yoghurt, dan cookies.
Little Diplomat ICP SDMM
Kalimat-kalimat sederhana dalam bahasa Inggris itu mampu membuat teman-temannya menyimak dengan antusias. Tepuk tangan pun mengiringi penampilannya yang berlangsung selama beberapa menit.
Meski hanya bercerita tentang perjalanan ke supermarket, pagi itu Rafassya sedang belajar sesuatu yang jauh lebih besar: menyusun gagasan, menyampaikannya dengan percaya diri, dan berani didengar oleh orang lain.
Penampilan tersebut merupakan bagian dari Little Diplomat: Daily Speaking Stage, salah satu program unggulan International Class Program (ICP) SD Muhammadiyah Manyar yang berlangsung setiap pagi setelah Student Promises dan doa bersama dalam sesi Morning Talk.
Melalui program ini, setiap siswa mendapat kesempatan berbicara selama 2–3 menit menggunakan bahasa Inggris dengan topik yang dekat dengan kehidupan mereka, mulai dari hobi, pengalaman liburan, keluarga, hingga aktivitas sehari-hari.
Yang menarik, siswa tidak diperkenankan membaca teks secara utuh. Mereka bercerita secara mengalir agar terbiasa menjaga kontak mata, menggunakan ekspresi, serta menyampaikan gagasan secara alami.
Dengan cara inilah kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, dan keterampilan berpikir kritis dibangun sedikit demi sedikit sejak usia dini.
Momen yang paling ditunggu hadir di penghujung penampilan. Di kelas 2 Firefly setelah little diplomat menyampaikan ceritanya, guru memberikan kesempatan bagi siapa saja yang mau menjadi little diplomat selanjutnya.
Jika belum ada siswa yang merasa percaya diri untuk menjadi the next little diplomat, maka little diplomat hari itu akan menunjuk temannya untuk menjadi the next little diplomat berikutnya yang siap melanjutkan estafet berbicara.
Dengan senyum penuh semangat, Rafassya mengucapkan nama Nashwan Ibnu Kashef Luviano sebagai Little Diplomat selanjutnya.
Sontak seluruh kelas memberikan tepuk tangan meriah. Nashwan tersenyum sambil menganggukkan kepala, menerima estafet tersebut dengan penuh semangat.
Tumbuhkan Saling Dukung dan Keberanian
Tradisi sederhana ini tidak hanya menjadi penanda pergantian pembicara, tetapi juga menumbuhkan rasa saling mendukung dan keberanian untuk mengambil tantangan baru.
Guru Kelas 2 Firefly sekaligus guru ICP Nur Aini Ochtafiya, menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk memberikan pengalaman berbicara yang menyenangkan bagi setiap anak.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa berbicara di depan orang lain bukan sesuatu yang harus ditakuti. Melalui Little Diplomat, mereka belajar menyampaikan pengalaman, mengorganisasi ide, dan membangun rasa percaya diri sedikit demi sedikit. Kesempatan kecil yang diberikan setiap hari akan menjadi bekal besar bagi masa depan mereka” tuturnya.
Semangat tersebut juga dirasakan oleh teman-teman sekelas Rafassya.
“Rafassya berani sekali. Ceritanya tentang pergi ke supermarket membuat saya ikut semangat. Semoga nanti saat giliran saya, saya juga bisa tampil percaya diri seperti Rafassya” ujar Ibrahim Zahwan Azfar Syazani siswa kelas 2 Firefly.
Bagi SD Muhammadiyah Manyar, pembiasaan berbahasa Inggris tidak berhenti pada penguasaan kosakata atau tata bahasa.
Yang lebih penting adalah menghadirkan ruang bagi siswa untuk berbicara, berbagi pengalaman, dan mengekspresikan ide mereka dalam suasana yang aman dan menyenangkan.
Hari ini mungkin Rafassya hanya bercerita tentang supermarket. Besok bisa jadi ia berbicara tentang cita-citanya. Lusa, siapa tahu ia sedang mempresentasikan ide-ide hebat di hadapan dunia.
Sebab setiap langkah besar selalu berawal dari langkah kecil. Dan pagi itu, di kelas 2 Firefly, satu langkah kecil kembali tercipta menuju lahirnya generasi little diplomats yang percaya diri, komunikatif, berpikir kritis, dan siap menjadi warga dunia.





0 Tanggapan
Empty Comments