Majelis Tabligh (MT) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kraton Kota Yogyakarta menggelar agenda Pelatihan Muballigh-Muballighat.
Agenda ini terselenggara bersama Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Kraton Kota Yogyakarta dengan tema “Revitalisasi Ideologi dan Peningkatan Kualitas Muballigh-Muballighat untuk Dakwah Islam Berkemajuan”.
Lebih lanjut, pelatihan berlangsung pada Ahad (20/9/2026) di Aula Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan KH Ahmad Dahlan 103 Yogyakarta.
Pelatihan ini merupakan bagian dari gerakan dakwah dan tajdid yang dinamis dalam merespon perkembangan zaman. Terutama memenuhi kebutuhan tabligh untuk masyarakat Kraton dan sekitarnya yang semakin meningkat, baik kuantitas maupun kualitasnya.
Di samping itu, sekaligus sebagai persiapan menyambut Ramadhan 1448 H yang berlangsung sekitar 4 bulan lagi.
Adapun pelatihan ini dihadiri oleh PCA-PCM Kraton dan Para Muballigh-Muballighat Muhammadiyah-Aisyiyah Cabang dan semua Ranting se-Kraton.
Bahkan turut mengundang para kawula muda baik pimpinan maupun kader Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah.
Tingkatkan Kecakapan Berdakwah
Ketua Panitia Pelatihan, Drs M Syaifudin Hadi MSi dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukurnya, pelatihan Muballigh-Muballighat PCM-PCA Kraton dapat digelar dengan baik.
Selain sebagai media untuk berthalabul ilmi, menurutnya agenda ini juga meningkatkan kecakapan dalam berdakwah terutama dengan hikmah dan keteladanan.
Selanjutnya sambutan PCM Kraton disampaikan oleh Faruq Nafiuddin STP SPdI yang menyampaikan apresiasinya pada semua pihak yang sudah menginisiasi acara yang sangat penting untuk Penguatan Dakwah Islam Berkemajuan di Wilayah Kraton.
“Harapan kita semua, acara pelatihan yang sangat bagus ini tidak berhenti hanya di hari ini, rencana RTL ke depan kita garap dengan serius dan berkelanjutan agar dakwah kita menjadi lebih meningkat kebermanfaatannya tidak hanya bagi internal persyarikatan tetapi juga untuk masyarakat luas” pesannya.
Materi Pertama tentang “Ideologi dan Manhaj Tarjih Muhammadiyah” disampaikan oleh Ketua Divisi Fatwa dan Pengembangan Tuntunan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Dr Ruslan Fariadi AM SAg MSi.
Ruslan mengemukakan bahwa setiap Muballigh-muballighat persyarikatan harus paham prinsip-prinsip manhaj tarjih dalam berdakwah, yang semuanya butuh proses secara bertahap dan terus menerus.
“Karena kita semua adalah Dai Muhammadiyah, yang siap menyebarkan sikap dan Pandangan Hidup Muhammadiyah” tegasnya.
Lebih lanjut Ruslan yang juga dosen di UAD/UMY/UNISA/PUTM mengemukakan bahwa sebagai Muballigh-Muballighat harus bersyukur menjadi garda terdepan gerakan Dakwah Muhammadiyah, dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, dakwah inklusif yang terbuka.
Termasuk membuka diri dalam membaca tidak sekedar membaca teks dan konteks agar dakwah penuh dengan hikmah dengan memperkaya metode dan strategi dalam berdakwah.
Untuk meningkatkan penguasaan konteks dalam berdakwah, maka dikaji materi kedua tentang “Sosiologi dan Manajemen Dakwah Muhammadiyah”oleh Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah, Dr Khoiruddin Bashori MSi Psikolog.
Khoiruddin mengungkapkan bahwa sebagai Muballigh-Muballighat harus memahami relitas objek dakwah yang sangat beragam, maka jurusnya harus banyak.
“Pahami peta sosial dan kecenderungan kultural baru ajak kepada tujuan ideal. Jadi berdakwah itu harus mempertimbangkan situasi dan kondisi” tuturnya.
Konsep POAC dalam Berdakwah
Pak Irud, sapaan akrabnya, kemudian memaparkan penerapan POAC alias Planning (Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Pelaksanaan) dan Controlling (Pengawasan) dalam bertabligh dan juga intropeksi baik secara konten/isi maupun metodologi.
Tak berhenti di situ, untuk Penguatan kapasitas dalam bertabligh, peserta juga mendapatkan materi “Retorika dan Public Speaking dalam Bertabligh”.
Materi tersebut disampaikan oleh Sinta Maharani SSos MIKom yang merupakan Kepala Humas dan Protokol UNISA Yogyakarta.
Sinta yang juga Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) DI Yogyakarta mengemukakan bahwa sesuai dengan arahan dari PP Muhammadiyah dalam berdakwah harus selalu dilakukan pembaharuan dalam metode agar dakwah lebih dinamis.
Terlebih di level Cabang dan Ranting yang berhadapan langsung dengan jamaah menurut beberapa kajian riset masih perlu dilakukan penguatan khususnya dalam kepercayaan diri dalam retorika (ilmu seni berbicara) dan public speaking (ketrampilannya).
“Penguasaan public speaking sangat penting karena meski materi sama, dengan penyampaian yang berbeda maka capaiannya bisa berbeda” ujar Sinta.
“Dan harus diingat jangan mengejar popularitas tetapi tabligh kita harus berdampak sesuai dengan misi dakwah pencerahan yang membebaskan, memberdayakan dan memajukan” pesannya.
Sesuai konsep Muhammadiyah/Aisyiyah sebagai gerakan perkaderan maka di sesi ke-empat dimanfaatkan sebagai praktek bertabligh yang diisi oleh para kader Muballigh-Muballighat muda yang sangat diharapkan kiprah partisipasinya di masa mendatang.
Terutama supaya dapat tampil di tayangan khusus Ramadhan dalam Medsos PCA dan PCM Kraton.





0 Tanggapan
Empty Comments