Aula MI Muhammadiyah 08 Pelangwot dipenuhi antusiasme para wali murid dalam kegiatan Seminar Parenting bertema “Menjadi Arsitek Masa Depan Anak di Era Digital”, Kamis (18/6/2026). Kegiatan ini menghadirkan Pengawas RA Kementerian Agama Kabupaten Lamongan, Siti Choiriyah, S.Pd., M.Pd., sebagai pemateri utama.
Seminar parenting tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan penerimaan rapor Semester Genap Tahun Pelajaran 2025/2026. Melalui kegiatan ini, sekolah berupaya memperkuat sinergi antara keluarga dan sekolah dalam mendampingi tumbuh kembang anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Dalam pemaparannya, Siti Choiriyah menegaskan bahwa orang tua memiliki peran strategis sebagai arsitek masa depan anak. Menurutnya, di era digital saat ini, tugas orang tua tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga membimbing, mengarahkan, serta menjadi teladan dalam pembentukan karakter.
“Anak-anak membutuhkan pendampingan yang tepat agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan tetap memiliki karakter yang kuat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa usia sekolah dasar, khususnya rentang usia 6 hingga 12 tahun, merupakan fase penting dalam perkembangan anak. Pada masa ini, anak mulai belajar mandiri, membangun kemampuan sosial, meningkatkan keterampilan akademik, serta membentuk konsep diri dan nilai moral yang akan menjadi bekal kehidupan mereka di masa depan.
Karena itu, orang tua perlu memberikan perhatian terhadap berbagai aspek perkembangan anak, mulai dari perkembangan fisik dan motorik, perkembangan kognitif dan akademik, perkembangan psikososial dan emosional, hingga perkembangan sosial dan kemandirian.
“Anak perlu didukung agar memiliki rasa percaya diri, mampu mengelola emosi dengan baik, berpikir logis, serta bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Siti Choiriyah juga mengulas berbagai pola asuh yang umum diterapkan dalam keluarga. Pola asuh otoriter, menurutnya, ditandai dengan aturan yang ketat dan tuntutan kepatuhan tanpa banyak ruang dialog. Sementara pola asuh permisif cenderung memberikan kebebasan yang sangat luas kepada anak tanpa pengawasan dan arahan yang memadai.
Adapun pola asuh demokratis dinilai sebagai pendekatan yang paling seimbang. Dalam pola asuh ini, orang tua tetap memberikan aturan dan bimbingan, namun anak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat, belajar mengambil keputusan, serta bertanggung jawab atas pilihan yang dibuatnya.
“Melalui pola asuh demokratis, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, memiliki kemampuan sosial yang baik, serta mampu menghargai orang lain,” paparnya.
Menjelang akhir seminar, Siti Choiriyah mengajak seluruh wali murid untuk menjadi pendamping yang bijak dalam penggunaan teknologi digital. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang hangat, pengawasan yang proporsional, dan keteladanan dari orang tua agar anak dapat memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang positif.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa ikhtiar mendidik anak tidak hanya dilakukan melalui pengasuhan dan pendidikan, tetapi juga melalui doa yang tulus dari orang tua. Ia mengajak para wali murid untuk senantiasa mendoakan anak-anak mereka pada waktu-waktu yang mustajab, seperti setelah salat wajib, di antara azan dan iqamah, serta pada sepertiga malam terakhir.
“Dengan memadukan pola asuh yang tepat, pendampingan yang bijaksana di era digital, dan doa yang terus dipanjatkan, insyaallah anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang saleh, cerdas, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat,” tuturnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments