Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menuju Kepemimpinan Berkemajuan yang Humanis

Iklan Landscape Smamda
Menuju Kepemimpinan Berkemajuan yang Humanis
ilustrasi AI
Oleh : Tio Febriawan Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta

Di tengah nyaringnya jargon persaudaraan, kesederajatan, dan nilai-nilai keumatan yang saban hari kita dengungkan dalam forum-forum kemahasiswaan, kita kerap kali menutupi satu kenyataan pahit. Di balik meja rapat pengurus dan agenda konsolidasi kader, pimpinan masih saja memelihara dan menganggap lumrah praktik kepemimpinan kaku berbasis senioritas, gaya memerintah satu arah, hingga pola intimidasi terselubung.

Banyak pimpinan organisasi kemahasiswaan hari ini tanpa sadar terjebak dalam gaya otoriter.

Mereka menggunakan sebuah cara pandang usang yang meyakini bahwa menakut-nakuti, menuntut loyalitas buta, atau menekan anggota lewat sekat hirarki merupakan jalan tercepat agar anggota patuh dan bergerak.

Padahal, jika kita mau jujur melihat realita di lapangan, pola manajerial yang mengandalkan tekanan semacam ini justru mendatangkan dampak yang sangat merusak bagi keberlangsungan organisasi.

Riset global Gallup mengenai iklim organisasi dan lembaga menunjukkan secara konsisten bahwa gaya kepemimpinan koersif berbasis rasa takut justru menurunkan engagement, rasa memiliki, dan daya kritis anggota hingga 70%.

Ketika kader hanya bergerak karena takut salah, segan pada senior, atau sekadar ingin menghindari konfrontasi saat rapat, mereka tidak melahirkan komitmen nyata, melainkan kepatuhan semu. Kader sekadar datang menggugurkan kewajiban.

Inilah akar masalah mengapa banyak organisasi kemahasiswaan saat ini tampak lesu, sepi gagasan segar, dan terseok-seok ketika menghadapi krisis regenerasi.

Jika kita membedah kembali khazanah pemikiran Islam, budaya otoriter sebetulnya sangat bertolak belakang dengan spirit keislaman itu sendiri.

Rasulullah SAW tidak pernah membangun peradaban dan menata barisan umat dengan gertakan atau tangan besi.

Dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 159, Allah SWT mengingatkan secara gamblang: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu…

Kitab suci menyampaikan pesan yang sangat tegas ini: sikap keras, kaku, dan berhati kasar dari seorang pimpinan hanya akan membuat orang-orang terbaik di sekitarnya merasa asing, kecewa, dan akhirnya memilih berpaling meninggalkan barisan.

Nabi Muhammad SAW mempraktikkan langsung prinsip kelembutan dan dialog ini.

Beliau memperkuat garis kepemimpinan humanis ini dalam sebuah hadis sahih riwayat Muslim: “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (membuatnya indah), dan tidaklah kelembutan hilang dari sesuatu melainkan ia akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim).

Hadis ini menegaskan sebuah pelajaran penting bagi setiap pengurus organisasi.

Kita tidak pernah mengukur efektivitas kepemimpinan dari seberapa takutnya seorang anggota kepada pimpinan di ruang sidang.

Sebaliknya, kita mengukurnya dari seberapa mampu pimpinan membimbing, memanusiakan, dan mengayomi anggotanya dengan rasa hormat serta empati.

SMPM 5 Pucang SBY

Di titik inilah kita perlu meluruskan kembali pemahaman tentang Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang sering kali mengalami penyempitan sekadar sebagai doktrin perintah satu arah.

Secara etimologis, kata ma’ruf berakar dari kata yang berarti sesuatu yang baik, beradab, patut, dan dapat diterima oleh akal sehat publik.

Artinya, pimpinan harus mengajak anggota organisasi pada kebaikan dan ketercapaian visi dengan cara-cara yang ma’ruf pula.

Cara tersebut yakni persuasif, dialogis, bermartabat, serta bersih dari unsur paksaan, manipulasi, atau ancaman struktural.

Kepemimpinan di Muhammadiyah

Gagasan ini berbanding lurus dengan tradisi kepemimpinan dalam Persyarikatan Muhammadiyah sejak Kiai Ahmad Dahlan pertama kali mendirikannya.

Muhammadiyah sejak awal mengusung spirit Islam Berkemajuan dan menolak kepemimpinan figur tunggal yang absolut.

Para pendiri membangun tata kelola dalam persyarikatan di atas sistem musyawarah serta kepemimpinan kolektif-kolegial.

Dalam kerangka pemikiran Muhammadiyah, seorang pimpinan tidak bertindak sebagai ‘bos’ yang menuntut pelayanan dari bawahannya.

Pimpinan hadir sebagai pelayan pengabdi (servant leader) yang merangkul kesadaran, mendengarkan aspirasi kader, serta memberi ruang aman bagi anak muda untuk bertumbuh dan berinovasi.

Sudah saatnya kita membuang jauh-jauh sisa-sisa feodalisme dan gaya kepemimpinan otoriter di lingkungan kampus maupun organisasi kemahasiswaan.

Kita tidak bisa mengelola manusia dan menggerakkan kader persyarikatan dengan gertakan, melainkan dengan menyentuh kesadaran dan akal budi mereka.

Hanya melalui kepemimpinan berbasis Amar Ma’ruf yang humanis, rasional, dan inklusif, kita dapat menciptakan ekosistem organisasi yang sehat.

Langkah ini sekaligus melahirkan generasi kader Muhammadiyah masa depan yang kritis, mandiri, dan berakhlak mulia.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 25/07/2026 16:54
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu