Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Merasakan Bahasa Melayu di Kuala Lumpur

Iklan Landscape Smamda
Merasakan Bahasa Melayu di Kuala Lumpur
Merasakan Bahasa Melayu di Kuala Lumpur
Oleh : Imam Robandi Pembelajar Bahasa

Belajar bahasa seharusnya dilakukan dengan cara merasakan langsung. Jika ingin basah, seseorang harus menyelam, bukan hanya melihat kolam renang dari kejauhan.

Demikian pula dalam mempelajari bahasa. Setiap kali berkunjung ke negara lain, saya selalu berusaha mengingat dan mempelajari beberapa kata dalam bahasa setempat, meskipun tidak mudah.

Kuala Lumpur adalah salah satu kota yang berkali-kali saya kunjungi. Namun hingga kini, saya masih belum lancar berbahasa Melayu. Meski demikian, kota ini selalu menyisakan banyak kenangan, baik dari sisi budaya, sosial, maupun persahabatan antarabangsa. Saya memiliki banyak pengalaman bercuti di Kuala Lumpur yang sangat istimewa, atau seronok menurut istilah seorang sahabat dari Kedah.

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan sejarah, tradisi, nilai-nilai, serta cara berpikir suatu masyarakat. Orang Gombong dan Kebumen memiliki ungkapan, “ora ngapak ora kepenak.” Orang Jepang pun memiliki ungkapan, “nihon-go wa muzukashii desu ga, omoshiroi desu” yang berarti bahasa Jepang memang sulit, tetapi menarik untuk dipelajari.

Ketika mempelajari bahasa, sesungguhnya kita sedang membuka akses menuju budaya di balik bahasa tersebut. Setiap bahasa membawa identitas penuturnya. Kata-kata, ungkapan, dan idiom mencerminkan pandangan hidup suatu masyarakat.

Di beberapa budaya, terdapat banyak bentuk bahasa yang digunakan untuk menunjukkan rasa hormat berdasarkan usia atau status sosial. Hal ini menunjukkan bahwa penghormatan dan hierarki sosial menjadi nilai penting dalam kehidupan mereka. Dengan memahami bahasa, kita mulai memahami pola pikir dan perilaku sosial masyarakatnya.

Bahasa juga berperan dalam melestarikan sejarah. Cerita rakyat, peribahasa, lagu, dan tradisi lisan diwariskan dari generasi ke generasi melalui bahasa. Banyak makna budaya yang hilang ketika diterjemahkan secara harfiah ke bahasa lain.

Misalnya, ungkapan dalam dunia pedalangan Jawa yang kaya rasa akan kehilangan kekuatan maknanya ketika diterjemahkan secara literal. Kalimat “bumi gonjang-ganjing” tentu memiliki nuansa berbeda dibandingkan jika diterjemahkan menjadi “bumi bergempa berskala tujuh koma dua.”

Bahasa juga hadir dalam percakapan sehari-hari. Kata “mari” di Jawa Timur berarti selesai melakukan sesuatu, sedangkan di Jawa Tengah berarti baru sembuh dari sakit. Perbedaan kecil semacam ini menunjukkan betapa eratnya hubungan bahasa dengan budaya.

Cara seseorang menyapa, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, atau menunjukkan kasih sayang sangat dipengaruhi oleh latar budaya masing-masing. Tanpa memahami bahasa dan konteksnya, kesalahpahaman dapat dengan mudah terjadi.

Makanan, seni, agama, dan perayaan juga memiliki hubungan erat dengan bahasa. Nama makanan tradisional sering kali mengandung sejarah dan makna budaya yang mendalam. Misalnya, combro yang berasal dari ungkapan Sunda oncom di jero. Jika diterjemahkan secara harfiah ke bahasa Inggris menjadi oncom inside, tentu rasa budayanya hilang.

Di era global seperti sekarang, kemampuan memahami bahasa lain menjadi semakin penting. Mobilitas manusia yang tinggi membuat interaksi lintas negara semakin sering terjadi. Bahasa membantu membangun hubungan yang lebih dekat, mengurangi stereotip, dan memperkuat empati.

Bagi mahasiswa, guru, dan dosen, pembelajaran bahasa tidak hanya meningkatkan kemampuan komunikasi, tetapi juga memperluas wawasan budaya serta membentuk karakter yang lebih terbuka terhadap keberagaman.

Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu memiliki banyak kesamaan. Namun, keduanya tetap mencerminkan pengalaman sejarah, tradisi, dan identitas nasional yang berbeda. Dengan memahami keduanya, kita dapat lebih menghargai kekayaan budaya serumpun yang terjalin sejak lama.

Meskipun tidak membaca buku tata bahasa secara khusus, mendengar dan mencoba berbicara setiap hari merupakan cara paling efektif untuk belajar bahasa.

Memahami bahasa yang jarang kita dengar memang tidak mudah, apalagi jika kunjungan hanya berlangsung satu atau dua minggu. Saya sering kali harus berkonsentrasi penuh ketika mendengarkan percakapan agar dapat memahami maksud pembicara dengan tepat.

SMPM 5 Pucang SBY

Bahasa Melayu menjadi menarik karena kedekatannya dengan Bahasa Indonesia. Saat pesawat mendarat di Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Lumpur, saya langsung merasakan suasana yang akrab sekaligus berbeda.

Setelah turun dari pesawat dan menuju area pengambilan bagasi, mata saya tertuju pada tulisan “Tuntutan Bagasi”. Di area “Balai Ketibaan”, para pelancong dari berbagai negara tampak memenuhi ruangan.

Di luar terminal, banyak teksi telah menunggu di berbagai seksyen. Rombongan kami kemudian menaiki dua kereta besar menuju Petaling Jaya.

Di area parkir terdapat tulisan “Selamat Datang Letak Kereta” dan “Sistem Parkir Tanpa Tunai.” Saya sempat tersenyum karena istilah-istilah tersebut terasa unik sekaligus mudah dipahami.

Saat melewati Pejabat Kastam dan Stesen Bas, saya mencari surau untuk menunaikan salat. Di beberapa area terdapat tulisan “Laluan masuk hanya kepada staf dan pelawat sah sahaja.” Saya segera memahami bahwa jalur tersebut tidak diperuntukkan bagi umum.

Tulisan lain yang menarik perhatian adalah “Pengurup Wang.” Kata urup mengingatkan saya pada bahasa yang sering digunakan di Surabaya untuk menyebut aktivitas menukar. Ternyata benar, tempat itu adalah lokasi penukaran mata uang.

Saya juga menjumpai berbagai istilah lain seperti “Kabin Tidur”, “Bilik Mandi”, “Kaunter Pertukaran”, hingga “Kaki Tangan Sahaja” yang berarti hanya untuk petugas.

Di lingkungan kampus Universiti Malaya, saya menemukan tulisan “Persiaran Akal”, “Fakulti Kejuruteraan”, dan “Fakulti Pergigian.” Ada pula papan peringatan bertuliskan “Berhati-hati menghampiri simpang.”

Di trotoar, saya membaca tulisan “Tidak dibenarkan menjaja di aras siarkaki.” Dari konteksnya, saya memahami bahwa berjualan di trotoar tidak diperbolehkan.

Saat menikmati kemegahan Menara Berkembar Petronas, saya kembali menemukan berbagai istilah menarik dalam Bahasa Melayu. Di kereta api misalnya, tertulis “Buka Semasa Kecemasan Sahaja” dan “Zon Keutamaan.”

Di area kursi prioritas terdapat kategori “Warga Emas”, yaitu sebutan bagi mereka yang telah berusia lanjut.

Di berbagai sudut kota, saya juga menemukan tulisan “Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan” serta rambu lalu lintas bertuliskan “Jalan Sehala.”

Semua pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa belajar bahasa tidak harus selalu dilakukan melalui buku. Kadang-kadang, bahasa justru paling mudah dipahami ketika kita berjalan, membaca papan petunjuk, mendengar percakapan masyarakat, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan.

Karena pada akhirnya, belajar bahasa adalah belajar memahami manusia, budaya, dan cara pandang mereka terhadap kehidupan.

Revisi Oleh:
  • Satria - 21/06/2026 09:21
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu