ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar),” QS. Ar-Rum ayat 41.
Bencana yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera (Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara) menyebabkan kerusakan yang luas. Data BNPB menunjukkan per Senin (01/12/2025) sore, jumlah korban meninggal dunia mencapai 604 orang, adapun yang dinyatakan hilang mencapai 464 orang.
Tercatat bencana di 46 kabupaten di tiga provinsi tersebut telah merusak lebih dari 27.000 rumah warga. Beberapa daerah menjadi terisolasi akibat akses darat yang rusak. Distribusi bantuan pun menjadi terhambat dan lambat masuk apabila tidak dicapai melalui udara.
Menurut Harma Suryatmono, peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS asal UGM, bencana banjir bandang dan longsor di Sumatra akhir November 2025 bukan disebabkan semata oleh hujan deras, melainkan oleh “rapuhnya benteng alam” di hulu daerah aliran sungai (DAS) akibat kerusakan hutan.
Hutan di hulu DAS berfungsi seperti “spons raksasa” yang menyerap dan menahan air hujan, mengurangi limpasan, serta mencegah erosi. Saat tutupan hutan hilang akibat deforestasi, alih fungsi lahan, atau penebangan ilegal, fungsi ini runtuh. Tanah kehilangan porositas, air hujan tidak terserap, lalu mengalir deras ke sungai, memicu erosi, longsor, dan banjir bandang.
Fakta ini menunjukkan adanya faktor ulah tangan manusia terhadap alam sehingga meningkatkan risiko bencana tersebut. Hal tersebut menjadi refleksi bagi kita sebagai khalifah terhadap tanggung jawab moral yang diemban.
Khalifah fil Ardh: Penjaga dan Pengelola Bumi
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” QS. Al-Baqarah Ayat 30.
Manusia dijadikan Allah sebagai khalifah untuk menjaga dan mengelola bumi guna membawa maslahat, keadilan, dan kebermanfaatan bagi seluruh makhluk hidup. Sebab, perintah ini turun karena manusia diciptakan sebagai makhluk-Nya yang paling sempurna. Allah berfirman dalam Surah At-Tin ayat 4:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Manusia diberikan kesempurnaan berupa keseimbangan antara aspek fisik dan psikis, yang memungkinkannya untuk memaknai hidup, menuntut ilmu, dan menciptakan teknologi yang tidak dimiliki makhluk lain. Manusia diberi akal dan nafsu sebagai sarana ujian pula untuk memilih antara kebaikan dan kejahatan.
وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْۗ اِنَّ رَبَّكَ سَرِيْعُ الْعِقَابِۖ وَاِنَّهٗ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌࣖ
“Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu beberapa derajat atas sebagian (yang lain) untuk menguji kamu atas apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Al-An’am · Ayat 165.
Ayat tersebut menegaskan bahwa kemuliaan derajat manusia tergantung pada kemampuannya menjaga akal dan nafsu. Manusia yang mampu mengendalikan keduanya akan membawa kemaslahatan yang luas.





0 Tanggapan
Empty Comments