Suasana hangat penuh keakraban terasa dalam sesi Dialog Bersama Kontributor pada Resepsi dan Awarding Milad 1 Dekade PWMU.CO, Sabtu (25/4/2026) siang, di Auditorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Ratusan kontributor dari berbagai daerah di Jawa Timur duduk bersama, tidak sekadar sebagai penulis, tetapi sebagai keluarga besar yang dipersatukan oleh semangat dakwah melalui tulisan.
Dipandu Sekretaris Redaksi PWMU.CO, Wildan Nanda, diskusi mengalir santai namun sarat makna. Hadir sebagai narasumber Pemimpin Redaksi PWMU.CO Agus Wahyudi dan Pemimpin Redaksi pertama sekaligus redaktur PWMU.CO, Muh. Kholid Asyadulloh. Tidak ada sekat formal yang ada adalah ruang terbuka bagi suara, kritik, dan harapan.
Satu per satu tangan terangkat. Pertanyaan, masukan, hingga “unek-unek” mengalir jujur dari para kontributor.
Kun Eka dari Kota Batu mengawali dengan refleksi kritis. Ia mengaku masih tergolong kontributor baru, namun merasakan adanya jarak komunikasi, terutama saat terjadi pergantian kepemimpinan. Ia berharap ke depan, setiap dinamika internal dapat diinformasikan secara terbuka agar kontributor merasa benar-benar menjadi bagian dari komunitas, bukan sekadar pengisi konten.
Lebih dari itu, ia menyoroti pentingnya membangun ikatan emosional antar kontributor. “Kalau kita ini satu komunitas, maka harus saling mengenal, saling merangkul,” kira-kira begitu semangat yang ia suarakan. Baginya, rasa memiliki akan tumbuh jika komunikasi dan kebersamaan terus dirawat.
Suara senada datang dari Miftakhul Muslim, jurnalis dari jaringan KLIKMU PDM Surabaya. Ia menyoroti kebutuhan peningkatan kapasitas, khususnya dalam menghadapi Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Menurutnya, semangat jurnalis muda di daerah sangat tinggi, namun perlu diimbangi dengan pendampingan yang sistematis.
“Kalau tidak dibimbing, sayang sekali semangat itu,” ungkapnya, menekankan pentingnya sinergi antara pusat dan daerah untuk melahirkan generasi jurnalis Muhammadiyah yang tangguh.

Dari Lamongan, Maftuhah Hamid menyampaikan apresiasi sekaligus harapan. Ia melihat PWMU.CO telah menjadi media strategis dalam syiar dan promosi Amal Usaha Muhammadiyah. Namun, ia berharap profesionalitas editor terus ditingkatkan agar kualitas tulisan semakin terjaga. Ia juga mengusulkan adanya kategori apresiasi bagi penulis muda sebagai bentuk penghargaan sekaligus motivasi regenerasi.
Sementara itu, Taufiqur Rohman dari Banyuwangi menawarkan gagasan sederhana namun penting: buku saku kontributor. Baginya, pedoman praktis akan sangat membantu penulis, terutama yang baru bergabung, agar memiliki standar penulisan yang jelas.
Cerita inspiratif datang dari Furqon Firmansyah, kontributor Lamongan. Ia mengisahkan perjalanan awalnya yang penuh keraguan hingga akhirnya menemukan kepercayaan diri. “Awalnya malu menulis, tapi setelah diedit dan dimuat, ternyata bisa dibaca banyak orang,” tuturnya. Dari situlah, kecintaannya pada dunia literasi tumbuh. Ia bahkan mengaku “ketagihan” menulis di PWMU.CO.
Menanggapi berbagai masukan, Muh. Kholid Asyadulloh menekankan pentingnya peningkatan kualitas melalui pelatihan terstruktur. Ia mengingatkan agar kontributor tidak bergantung pada kecerdasan buatan dalam menulis. Menurutnya, tulisan yang kuat lahir dari kepekaan, latihan, dan kejujuran berpikir.
“AI boleh membantu, tapi jangan sampai menghilangkan ruh tulisan,” pesannya.
Ia juga menegaskan bahwa PWMU.CO terus berproses menuju profesionalitas, termasuk membuka peluang kerja sama dan memperkuat sistem pembinaan kontributor.
Sementara itu, Agus Wahyudi menawarkan perspektif pengembangan ke depan melalui jurnalisme data. Ia melihat bahwa kekuatan data akan membuat tulisan lebih hidup, tajam, dan berdampak.
Namun, di atas semua itu, ia menekankan satu hal yang tak kalah penting: kaderisasi.
“Sekarang waktunya merawat anak muda. Kita tidak selamanya di sini,” ujarnya, mengingatkan bahwa keberlanjutan PWMU.CO sangat bergantung pada generasi berikutnya.
Dialog pun berakhir bukan dengan kesimpulan kaku, tetapi dengan semangat baru. Bahwa PWMU.CO sebagai rumah bersama: tempat belajar, bertumbuh, dan berdakwah melalui kata. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments