Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Merdeka Bersama Al-Qur’an, Prof Uril: Jangan Jadi Hamba Ponsel dan Likes

Iklan Landscape Smamda
Merdeka Bersama Al-Qur’an, Prof Uril: Jangan Jadi Hamba Ponsel dan Likes
Prof Dr H Uril Bahruddin Lc dalam Kajian Ahad Pagi KH Ahmad Dahlan PDM Kota Batu bertema “Merdeka Bersama Al-Qur’an” di Masjid At-Taqwa Kota Batu, Ahad (16/8/2026). (Khoen Eka/PWMU.CO).
pwmu.co -

Kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan bangsa lain. Manusia juga perlu membebaskan diri dari berbagai bentuk “penjajahan” yang membuatnya lalai kepada Allah SWT.

Hal tersebut disampaikan Ustadz Prof Dr H Uril Bahruddin Lc dalam Kajian Ahad Pagi KH Ahmad Dahlan PDM Kota Batu di Masjid At-Taqwa Kota Batu.

Kajian yang mengangkat tema “Merdeka Bersama Al-Qur’an” itu berlangsung pada Ahad (16/8/2026).

Ragam Bentuk Penjajahan Baru

Prof Uril mengawali kajian dengan mengingatkan bahwa bangsa Indonesia telah merdeka dari penjajahan sejak 17 Agustus 1945.

Namun, menurutnya, saat ini muncul bentuk penjajahan baru berupa ponsel, hawa nafsu, jabatan, dan kekayaan yang dapat membuat manusia lalai dari Allah.

Mengutip QS Adz-Dzariyat ayat 56, Prof Uril menjelaskan bahwa manusia yang paling merdeka adalah orang yang hanya menjadi hamba Allah, bukan hamba uang, tren, maupun likes.

“Iman kepada Allah, itulah kemerdekaan yang sesungguhnya, dan Al-Qur’an membantu kita untuk merdeka” ujarnya.

Prof Uril kemudian menjelaskan tiga bentuk penjajahan yang masih dihadapi manusia.

Pertama, penjajahan kebodohan. Al-Qur’an membebaskan manusia dari kebodohan melalui perintah iqra dalam QS Al-Alaq ayat 1. Iqra dimaknai sebagai membaca, belajar, dan menuntut ilmu sepanjang hayat.

SMPM 5 Pucang SBY

“Kita dianjurkan belajar sepanjang hayat, tidak peduli berapa pun usia kita. Pengajian semacam ini adalah cara kita untuk tetap menuntut ilmu” kata Wakil Ketua MTT PWM Jawa Timur tersebut.

Kedua, penjajahan hawa nafsu. Berdasarkan QS Al-Jatsiyah ayat 23, kemerdekaan tercapai ketika manusia mampu mengatakan tidak kepada kemaksiatan dan mengendalikan dorongan hawa nafsu.

Ketiga, lemahnya ukhuwah. Mengutip QS Ali Imran ayat 103, Prof. Uril mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan dan tidak mudah terprovokasi oleh upaya adu domba.

Ikhtilaf boleh, yang tidak boleh adalah tafaruq. Kita boleh berbeda, tetapi jangan sampai bercerai-berai” tegasnya.

Terakhir, Alumnus Ponpes Karangasem Paciran Lamongan itu menutup kajian dengan lima cara mengisi kemerdekaan bersama Al-Qur’an. Yakni meyakini, membaca, memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan Al-Qur’an.

“Tali Allah itu Al-Qur’an. Kalau kita memegang erat Al-Qur’an, diri kita, keluarga, bangsa, dan negara akan menjadi kuat. Kita merdeka bersama Al-Qur’an” pungkasnya.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 17/08/2026 13:53
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu