Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mudir: Mondok di Al Mizan, Meretas Jalan Jadi Ulama, Mubaligh, dan Pemimpin Umat

Iklan Landscape Smamda
Mudir: Mondok di Al Mizan, Meretas Jalan Jadi Ulama, Mubaligh, dan Pemimpin Umat
pwmu.co -
Mujianto saat memberikan khutbah taaruf. (Alfain/PWMU.CO)

PWMU.CO – Suasana hangat dan penuh harap menyelimuti Panti Asuhan dan Pondok Pesantren (PA dan PP) Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, Ahad pagi (13/7/2025).

Para wali santri baru tampak antusias mengikuti Khutbah Ta’aruf bersama PCM Lamongan, Pimpinan Pondok dan jajaran pengasuh.

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni penyambutan, melainkan ajang memperkenalkan nilai-nilai dasar, sejarah, serta arah besar pendidikan yang akan ditempuh putra-putri mereka di pondok yang telah berdiri sejak 1985 itu.

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua PCM Lamongan KH Drs Syaifuddin Zuhri MAg, Ketua Badan Pembina Al Mizan Drs KH Soepandi, Mudir PA dan PP Al Mizan Mujianto MPdI, serta para kepala Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Al Mizan.

Lahir dari Keprihatinan, Tumbuh dengan Visi Perkaderan

Dalam khutbahnya, Mudir Al Mizan Mujianto MPdI menyampaikan bahwa lembaga ini lahir dari cita-cita besar Muhammadiyah Lamongan untuk membentuk kader ulama dan mubalig.

“Al Mizan ini milik PCM Muhammadiyah. Dulu pada tahun 1985 didirikan Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah oleh KH Drs H M Syukron karena melihat kurangnya mubaligh di Lamongan Kota,” tuturnya.

Menurutnya, sejak awal PAYM (Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah) sudah berciri khas: perkaderan. “Meski bentuknya panti, tapi sistemnya adalah pesantren,” ujar Mujianto.

KH Syukron, tokoh pendiri, bahkan memiliki cita-cita agar santri bisa menguasai bahasa asing. Maka disekolahkanlah santri-santri dan para ustadz ke luar pondok untuk belajar dan berkembang.

“Dari sinilah proses kaderisasi berjalan, hingga pada tahun 2000 berdirilah Pondok Pesantren Darul Aitam, yang kemudian pada 2004 berubah nama menjadi Al Mizan. Sejak saat itu, nama Panti dan Pondok bersatu menjadi satu: Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Mizan,” jelasnya.

Satu Visi, Satu Sistem Kehidupan

Al Mizan, lanjut Mujianto, menjadi satu-satunya pondok Muhammadiyah di Lamongan yang menjadikan kaderisasi sebagai ruh utama. “Visinya adalah mencetak generasi Islam yang cerdas, terampil, mandiri, dan berjiwa kepemimpinan. Mereka disiapkan menjadi ulama, mubaligh, dan pemimpin umat,” ungkapnya.

Untuk itu, sistem kehidupan santri dijalankan selama 24 jam penuh di asrama. “Tidak ada yang pulang-pergi. Karena seluruh kehidupan di pondok adalah pendidikan itu sendiri,” ujarnya.

Santri bangun sebelum subuh, mengikuti pembelajaran diniyah, sekolah formal, hingga kegiatan tahfidz, ekstrakurikuler, dan penguatan kitab setelah maghrib. Malam hari mereka belajar kembali hingga pukul 10. “Semua kegiatan dirancang untuk membentuk karakter tangguh dan berjiwa dakwah,” ucapnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Wali santri baru saat menghadiri khutbah taaruf. (Alfain/PWMU.CO)

Tanpa Sekat, Semua Anak Dipersamakan

Mujianto menjelaskan, di Al Mizan ada dua kategori santri: Muasassah (santri dari panti asuhan) dan Ghoir Muasassah (santri pondok reguler). “Namun dalam kehidupan asrama, semua anak diperlakukan sama. Sekolah, makan, dan fasilitas tidak dibedakan,” tegasnya.

Kebijakan ini diambil agar tumbuh rasa persaudaraan dan kesetaraan. “Kami ingin anak-anak ini tumbuh dengan semangat ukhuwah Islamiyah tanpa memandang latar belakang,” tuturnya.

Program Pendidikan dan Harapan Besar

Jenjang pendidikan di Al Mizan sangat lengkap: mulai dari TK ABA 3, SLB (jenjang SD hingga SMA), MTs, SMP, hingga MA. “Yang tinggal di asrama saat ini adalah santri MTs dan MA,” kata Mujianto.

Di jenjang Tsanawiyah, Al Mizan telah membuka program kelas bahasa, kelas internasional, dan penjurusan lainnya. Ini bagian dari ikhtiar menciptakan santri yang unggul di berbagai bidang.

Mengakhiri khutbahnya, Mujianto menyampaikan rasa terima kasih kepada para wali santri. “Kami tahu, banyak pilihan sekolah dan pondok di Jawa Timur. Tapi bapak-ibu memilih Al Mizan. Ini adalah amanah besar bagi kami,” ucapnya haru.

Dia juga memohon dukungan untuk pengembangan sarana, program, dan tata tertib pondok. “Kami tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan moral dan spiritual bapak-ibu sangat kami butuhkan.”

Acara kemudian ditutup dengan sesi perkenalan para pimpinan Al Mizan kepada wali santri baru, sebagai bentuk keterbukaan dan penguatan komunikasi.

Dengan semangat perkaderan yang mengalir sejak awal pendirian, Al Mizan Muhammadiyah Lamongan tak hanya menjadi tempat belajar, tapi juga tempat membentuk masa depan.

Di sinilah anak-anak itu dipersiapkan, bukan sekadar jadi pintar, tapi juga tangguh dalam iman dan akhlak, untuk menjadi cahaya umat di masa depan. (*)

Penulis Alfain Jalaluddin Ramadlan Editor Azrohal Hasan

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu