Musholla Putri Pra Kedurus, Tulangan, mencatat momentum penting dalam perjalanan dakwah Muhammadiyah. Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Tulangan, Hj. U’um Mas’ulah, S.Pd., M.Pd., menerima Prasasti Heritage Muhammadiyah dari Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Penyerahan prasasti tersebut berlangsung bersamaan dengan Kajian Rutin Musholla Putri Kedurus, Jumat (07/08/2026).
Prasasti tersebut bukan sekadar penanda fisik sebuah bangunan. Kehadirannya menjadi simbol penghargaan terhadap perjalanan panjang dakwah, perjuangan, wakaf, serta amal para pendahulu yang telah menjadikan Musholla Putri Kedurus sebagai salah satu ruang tumbuhnya gerakan keumatan, khususnya aktivitas Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah di Kedurus.
Berdasarkan keterangan yang tercantum pada prasasti, Musholla Putri Pra Kedurus dirintis sejak 1980 di atas tanah wakaf dari Sukardi. Musholla tersebut kemudian dikelola oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kedurus dan menjadi salah satu pusat aktivitas gerakan Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah dalam menyebarluaskan dakwah Islam.
Prasasti Heritage Muhammadiyah tersebut tercatat dengan Nomor Registrasi 006/HM/III/V/2026.
Bukan Sekadar Prasasti, Tetapi Pengingat Amal Para Pendahulu
Dalam kajian rutin yang berlangsung di Musholla Putri, Hj. U’um Mas’ulah mengajak jamaah untuk melihat keberadaan prasasti tersebut secara lebih mendalam.
Menurutnya, prasasti yang kini berada di hadapan jamaah merupakan bukti bahwa ada keikhlasan dan perjuangan dari para pendiri serta generasi terdahulu yang telah mewakafkan tenaga, pikiran, harta dan waktunya untuk membangun ruang dakwah.
“Plakat Heritage yang jamaah lihat di depan ini menjadi bukti keikhlasan para pendiri Musholla Putri. Tetapi semua itu tidak ada artinya apabila jamaah tidak mengisi dan memakmurkannya.
Musholla Putri harus terus menjadi tempat menghidupkan dakwah, memberikan pencerahan dan memberikan dampak bagi umat,” terang Ketua PCA Tulangan.
Ia menegaskan, keberadaan prasasti semestinya tidak berhenti sebagai simbol sejarah, sebaliknya, prasasti harus menjadi pengingat dan pemantik semangat generasi hari ini untuk meneruskan amal saleh para pendahulu.
Menguatkan Semangat ‘Amilush Shalihat’, dalam kajiannya, Ketua PCA Tulangan juga mengutip QS. An-Nisa’ ayat 124:
وَمَنْ يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُوْنَ نَقِيْرًا
“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.”
Ayat tersebut menjadi landasan motivasi bagi jamaah untuk terus meningkatkan ‘amilush shalihat, yakni amal-amal kebajikan yang dilandasi keimanan.
Hj. U’um Mas’ulah mendorong jamaah serta jajaran Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Kedurus agar menjadikan momentum pemberian Heritage Muhammadiyah sebagai titik penguatan gerakan.
Warisan terbaik bukan hanya bangunan yang tetap berdiri, tetapi amal saleh dan kemanfaatan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Karena itu, keberadaan Musholla Putri Kedurus diharapkan semakin dimakmurkan dengan kegiatan ibadah, kajian keislaman, pendidikan, pembinaan keluarga, kegiatan perempuan, pembinaan generasi muda serta berbagai aktivitas sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melahirkan Generasi dari Gerakan Dakwah
Musholla Putri Kedurus juga memiliki sejarah panjang dalam perjalanan gerakan Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah.
Berbagai kegiatan yang telah dilakukan sejak masa lalu di tempat tersebut, menurut Hj. U’um Mas’ulah, sejatinya telah ikut melahirkan generasi-generasi yang memiliki semangat keislaman, baik dalam aspek ibadah maupun muamalah.
“Kegiatan Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah yang dilakukan sejak dulu di musholla ini sejatinya telah melahirkan generasi-generasi mulia dan luar biasa, baik dalam ibadah maupun muamalahnya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa sejarah sebuah tempat ibadah tidak hanya diukur dari usia bangunannya, lebih jauh, sejarah itu dapat dilihat dari seberapa besar kontribusinya dalam membentuk manusia, keluarga dan masyarakat yang lebih baik.
Musholla Putri Kedurus menjadi salah satu ruang yang menyimpan perjalanan tersebut, jamaah Perempuan terus menghidupkan Musholla Putri
Momentum penyerahan prasasti juga berlangsung dalam suasana kajian rutin yang diikuti jamaah perempuan, puluhan jamaah terlihat mengikuti kegiatan dengan khidmat di lingkungan Musholla Putri Kedurus.
Suasana tersebut menjadi gambaran bahwa fungsi musholla sebagai pusat pembinaan umat masih terus berjalan, generasi yang datang hari ini meneruskan tradisi keilmuan dan dakwah yang telah dirintis oleh para pendahulu.
Dengan demikian, Heritage Muhammadiyah bukanlah sekadar romantisme masa lalu, melainkan jembatan yang menghubungkan perjuangan generasi terdahulu dengan tanggung jawab generasi sekarang dan masa mendatang.
Akan Menjadi Bagian dari Catatan Sejarah Muhammadiyah
Keberadaan Musholla Putri Pra Kedurus juga semakin memiliki nilai historis karena nama dan sejarahnya akan menjadi bagian dari dokumentasi Heritage Muhammadiyah.
Hj. U’um Mas’ulah menyampaikan bahwa nama Musholla Putri Kedurus nantinya akan tercatat dalam Museum Muhammadiyah di Yogyakarta.
Hal tersebut menjadi kebanggaan sekaligus amanah bagi warga Muhammadiyah, Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah di Kedurus, sebab, pencatatan sejarah tersebut bukan semata-mata penghargaan terhadap sebuah bangunan, melainkan dokumentasi atas jejak perjuangan dakwah yang pernah dan masih berlangsung di tengah masyarakat.
Menjaga Warisan, Melanjutkan Perjuangan
Penyerahan Prasasti Heritage Muhammadiyah pada akhirnya membawa pesan penting: sejarah tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dilanjutkan.
Para pendiri telah meninggalkan tanah wakaf, musholla, kegiatan dakwah dan generasi, tugas generasi sekarang adalah menjaga amanah tersebut dengan memakmurkan musholla dan memperluas manfaatnya.
Musholla Putri Kedurus diharapkan tetap menjadi tempat bertumbuhnya ilmu, ibadah, persaudaraan dan gerakan dakwah perempuan Muhammadiyah.
Prasasti yang kini terpampang menjadi saksi perjalanan itu—sekaligus pengingat bagi setiap jamaah yang melihatnya bahwa sebuah amal yang dilakukan dengan ikhlas dapat melampaui usia manusia dan terus memberi manfaat bagi generasi berikutnya.
Dari Kedurus, sejarah dakwah Muhammadiyah terus dirawat. Dari sebuah musholla, amal saleh terus dihidupkan. Dan dari generasi ke generasi, warisan perjuangan itu diharapkan terus memberi pencerahan serta kemanfaatan bagi umat, pungkas Ketua PCA Tulangan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments