Di antara gang-gang sempit yang diapit oleh gedung-gedung pencakar langit di pusat urat nadi kota Surabaya. Terdapat sebuah sekolah Muhammadiyah yang punya potensi besar karena aspek geografis dan akses yang mudah.
Ia mulai menggeliat untuk mewujudkan kemajuan kualitas dan kuantitas pendidikan untuk generasi bangsa. Itulah Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah 3 Surabaya.
Pagi itu, matahari mulai menampakkan diri, Jumat, 17 April 2026. Sekolah ini berdiri tegak di sekitar Area Tunjangan Plaza,ikon khas Perbelanjaan kota Surabaya. Tepatnya Jl. Plemahan 7 / 14. Dengan senyum ramah, kepala sekolah SMP 3 Muhammadiyah Surabaya, Maria Ellen Veronica, menyambut PWMU.CO dengan ramah dan penuh kekeluargaan.
“Dengan berbagai capaian kami akhir-akhir ini, kami berkeyakinan bahwa sekolah kami bisa duduk bersama setara dengan berbagai SMP Muhammadiyah maju lainnya,” jelas Ellen, panggilan akrabnya. Maklum saja, sekolah yang berdiri sejak tahun 1970 ini baru saja meraih akreditasi A.
Pencapaian ini bukanlah hasil instan. Ellen mengungkapkan bahwa perjuangan menuju Akreditasi A adalah buah dari kerja keras tim selama 18 tahun. Sejak mulai menggunakan sistem otomasi melalui aplikasi Sispena pada 2013, sekolah ini terus berbenah. Puncaknya, proses visitasi intensif selama dua hari pada Oktober tahun lalu.
“Itu menjadi titik balik yang mengukuhkan komitmen sekolah dalam meningkatkan kualitas manajemen, SDM, hingga sarana prasarana.”

“Prosesnya memang tidak mudah. Tapi ini adalah hasil kerja sama tim yang luar biasa. Koreksi dari Kemendikdasmen langsung kami tindak lanjuti, termasuk perbaikan sarpras secara signifikan yang terus berjalan hingga hari ini,” ujar Ellen.
Sekolah Progresif
Dalam beberapa tahun terakhir, SMP 3 Muhammadiyah Surabaya mendeklarasikan diri sebagai sekolah Progresif. Slogan ini bukan sekedar slogan tanpa analisa, melainkan landasan kurikulum yang dibagi menjadi tiga pilar utama. Yaitu Produktif, Religius, dan Inovatif.
Produktif, berarti belajar melalui aksi nyata. Sekolah ini menekankan bahwa ilmu tidak cukup hanya dipelajari di atas kertas. Murid diajak langsung mempraktikkan teori. “Contoh nyata terlihat pada mata pelajaran IPA. Siswa kami bisa membuat produk lilin sebagai output pembelajaran.”
Selain itu, sekolah juga program Sekolah Sabtu. Ia menjadi wadah bagi siswa mengasah skill non-akademis, mulai dari kelas desain grafis, futsal, tari, hingga mendayung. “Bahkan, kelas hukum yang kami selenggarakan sempat menuai apresiasi positif dari kepolisian karena bisa memberikan wawasan positif bagi siswa.”
Landasan kedua adalah religius, membentuk karakter dan etika siswa. Melalui program Ismuba Kemuhammadiyahan, siswa dibiasakan dengan praktik ibadah seperti salat, adzan, dan membaca Al-Qur’an secara mendalam.Salah satu program unggulannya adalah Kelas Mumtaz.
“Di sini, siswa didorong untuk menuntaskan hafalan Juz 30 hingga lanjut ke juz-juz berikutnya. Saat ini, sudah ada 25 murid yang mahir melampaui target Juz 30.”

Tidak berhenti di sekolah, siswa juga didorong untuk aktif di masjid sekitar tempat tinggal mereka. Bahkan saat liburan, berperan sebagai muadzin, imam salat rawatib, hingga qiraah.
Landasan ketiga adalah inovatif, dengan menjadikan ekosistem digital tanpa kertas sebagai unggulan. SMP 3 Muhammadiyah Surabaya juga sudah beradaptasi dengan dunia digital. Segala urusan penilaian, tugas, hingga kegiatan belajar-mengajar kini beralih ke platform internet seperti Google Form, Kelas Pintar, dan Scola. “Praktis, ekosistem paperless ini membuat siswa jauh lebih familiar dengan digitalisasi.”
Menyambut tahun ajaran 2026/2027, pihak sekolah kini tengah intensif pada metode peningkatan skill dan karakter murid. Terbukti antusiasme pendaftar pun mulai terlihat dengan puluhan calon siswa yang sudah masuk.
Pihak sekolah optimistis target jumlah siswa akan tercapai. Sinergi dengan pimpinan cabang hingga daerah Muhammadiyah terus diperkuat. Untuk memastikan SMP 3 Muhammadiyah Surabaya tidak hanya unggul secara kualitas. Tapi juga menjadi pilihan utama bagi wali murid yang menginginkan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka.





0 Tanggapan
Empty Comments