Pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan Amal Usaha Aisyiyah (AUA) tidak cukup hanya mengandalkan tata kelola administratif. Dibutuhkan landasan keimanan yang diwujudkan melalui kerja yang solid, kepemimpinan yang kuat, serta kemampuan membangun jejaring.
Pesan tersebut mengemuka dalam dialog interaktif NGOPI (Ngobrol Perkara Iman) Vol. 2 bertema “AUM–AUA Level Up” yang digelar di Masjid Al-Ukhuwah, Jalan Sekarsono V Nomor 42, Kota Pasuruan, Sabtu (18/7/2026).
Kegiatan menghadirkan Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pasuruan, Ustadz Achmad Fuad Hasyim, S.S., sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Ustadz Achmad Fuad Hasyim menegaskan bahwa keimanan harus tercermin dalam amal nyata, termasuk dalam mengelola amal usaha Muhammadiyah, sekolah, maupun masjid.
Menurutnya, seluruh gerakan dakwah harus dibangun secara rapi, kokoh, dan terorganisasi dengan baik.
“Setiap ayat dalam Al-Qur’an itu yang membahas tentang iman, pasti ada tuntutan untuk melaksanakan sesuatu… iman itu harus mengadilkan amal,” ujar Ustadz Fuad. “Perjuangan dalam mengelola, mengorganisir kegiatan atau amal usaha dalam meraihkan iman kepada Allah harus shaffan atau solid”.
Ia juga menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah organisasi sangat ditentukan oleh kualitas manajemen yang bertumpu pada kepemimpinan.
“Manajemen itu intinya adalah kepemimpinan. Manajemen yang baik itu kalau kepemimpinannya juga [baik]. Kepemimpinan itu intinya adalah komunikasi,” tambahnya.
Suasana dialog berlangsung terbuka karena seluruh peserta diminta melepaskan “baju kebesaran” atau jabatan masing-masing, sehingga diskusi dapat berjalan lebih setara dan objektif.
Dalam forum tersebut dipaparkan hasil survei internal mengenai tantangan utama pengembangan AUM dan AUA.
Sebanyak 28,1 persen responden menilai kemandirian keuangan menjadi tantangan terbesar. Disusul persoalan regenerasi kader (25 persen), kompetensi sumber daya manusia (21,9 persen), dan tata kelola organisasi (12,5 persen).
Menanggapi tantangan finansial tersebut, perwakilan SMP Muhammadiyah membagikan pengalaman keberhasilan sekolah dalam melampaui target hingga 200 persen melalui kreativitas, keyakinan, dan pengelolaan yang baik.
Sementara itu, hasil survei juga menunjukkan bahwa kebutuhan kompetensi kader dalam lima tahun ke depan paling banyak mengarah pada bidang inovasi dan kewirausahaan sosial, yakni sebesar 30,6 persen.
Menanggapi hal tersebut, Kepala TK Al Kausar menilai kemampuan komunikasi dan membangun jejaring menjadi faktor yang sangat penting.
“Kalau menurut saya itu justru komunikasi dan jejaring. Ketika kita komunikasinya baik, jejaring kita baik, maka kita akan lebih mudah mendapatkan inovasi-inovasi dan kita juga akan lebih mudah untuk berkewirausahaan,” tegas Kepala TK Al Kausar.
Sebagai penutup, Ustadz Achmad Fuad Hasyim mengajak seluruh peserta kembali menghayati Sifat Muhammadiyah yang kedua, yakni memperbanyak persahabatan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Menurutnya, silaturahmi menjadi salah satu jalan untuk memperluas peluang, memperkuat kolaborasi, sekaligus membuka pintu rezeki.
“Sifat Muhammadiyah yang nomor 2, itu memperbanyak kawan dan ukhuwah Islamiyah. Kalau memperbanyak kawan dan ukhuwah Islamiyah itu berarti memperbanyak silaturahim… Kalau banyak silaturahim maka banyak teman, banyak rezeki,” pesannya.
Di akhir kegiatan, ia juga mengimbau seluruh pimpinan dan pengelola AUM maupun AUA untuk kembali mempelajari dan mengamalkan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).
Ia menegaskan bahwa amal usaha merupakan milik Persyarikatan Muhammadiyah, bukan milik pribadi maupun keluarga. Karena itu, kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan harus terus dijalankan secara ikhlas demi keberlanjutan dakwah Muhammadiyah.





0 Tanggapan
Empty Comments