Kesuksesan Noura Malia tampil pada ajang Japan Design, Idea & Invention Expo (JDIE) 2026 di Osaka, Jepang, pada 3–4 Juli 2026, tidak lepas dari peran besar kedua orang tuanya yang konsisten mendampingi proses tumbuh kembang sang anak.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan karakter yang dibangun sejak lingkungan keluarga mampu melahirkan generasi yang percaya diri, inovatif, dan siap bersaing di tingkat global.
Dalam kompetisi inovasi yang diikuti peserta dari 17 negara itu, Noura menjadi satu-satunya peserta dari jenjang sekolah dasar. Ia bersaing dengan mahasiswa, peneliti, hingga peserta bergelar doktor (Ph.D.) melalui inovasi ASEK 2.0 (Shortness of Breath Detector).
Saat ditemui di Laboratorium Komputer SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Selasa (14/7/2026), seusai mengikuti Student Led Conference putrinya, kedua orang tua Noura, Dr. Luthfi Nur Rosyidi, S.E., M.Si., M.Ec. dan Arfa Darojati, S.Sos., M.Med.Kom., mengungkapkan bahwa keberanian Noura tampil di panggung internasional merupakan buah dari pembiasaan nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini.
Mereka membiasakan putrinya untuk percaya diri, rendah hati, bertanggung jawab, serta mampu beradaptasi dengan siapa pun.
Bagi keluarga tersebut, prestasi bukanlah tujuan utama, melainkan hasil dari proses belajar yang membentuk karakter.
Arfa Darojati, yang juga menjabat sebagai Wakil Bendahara I Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata (MEBP) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2022–2027, mengatakan pendidikan karakter dalam keluarga selaras dengan nilai-nilai pendidikan Muhammadiyah yang menumbuhkan kepemimpinan, kemandirian, serta semangat memberi manfaat bagi sesama.
“Harapan kami, alat karya Noura yang berjudul ASEK 2.0 dan dipresentasikan pada kompetisi inovasi di Osaka dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Semoga nantinya bisa diproduksi secara massal sehingga semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Arfa mengaku bangga atas kesempatan yang diperoleh putrinya mengikuti kompetisi internasional tersebut.
“Sebagai orang tua, kami sangat senang anak kami bisa berkompetisi di ajang internasional. Noura menjadi satu-satunya peserta dari sekolah dasar yang berhadapan dengan peserta dari berbagai jenjang, termasuk peneliti bergelar doktor. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi mereka.”
Ia mengakui masih ada beberapa pertanyaan dewan juri yang belum dapat dijawab secara sempurna. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi motivasi bagi Noura untuk terus belajar dan berkembang.
“Mereka tidak putus asa karena menganggap kompetisi ini sebagai pengalaman yang luar biasa dan menjadi bekal untuk berkembang.”
Sementara itu, ayah Noura, Dr. Luthfi Nur Rosyidi, dosen Departemen Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR), menegaskan bahwa dirinya dan sang istri tidak pernah memaksakan pilihan kepada anak.
“Bagi saya, urusan akademik anak-anak mengalir saja. Apa yang mereka sukai akan kami dukung. Kalau urusan kompetisi atau lomba itu bagian mamanya, sedangkan saya lebih banyak mendampingi akademiknya,” katanya.
Alumnus University of Copenhagen, Denmark, tersebut menilai tugas orang tua adalah menciptakan lingkungan yang membuat anak berani mencoba, belajar dari kegagalan, serta bertanggung jawab terhadap setiap pilihan yang diambilnya.
Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Ely Rhodlifah, S.H., M.Pd., menilai keberhasilan Noura menjadi bukti pentingnya kolaborasi antara keluarga dan sekolah dalam membentuk generasi unggul.
“Prestasi Noura dan tim dalam Japan Design, Idea & Invention Expo 2026 memperkuat komitmen sekolah untuk membangun peserta didik yang unggul secara akademik, berkarakter, inovatif, serta memiliki jiwa kepemimpinan sesuai nilai-nilai pendidikan Muhammadiyah,” tegasnya.
Keberhasilan Noura menjadi inspirasi bahwa pendidikan berbasis karakter yang dimulai dari keluarga dan diperkuat di sekolah mampu melahirkan generasi muda yang siap berkompetisi di tingkat internasional sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.





0 Tanggapan
Empty Comments