Sejarah mencatat Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 1955 sebagai salah satu tonggak demokrasi paling bersih yang pernah diselenggarakan di Indonesia. Di Kota Besar Surabaya, kontestasi politik yang digelar pada 29 September 1955 itu menelurkan kejutan besar. Partai Komunis Indonesia (PKI) tampil digdaya dan berhasil mengalahkan secara telak partai-partai Islam secara telak.
Kedigdayaan PKI itu bisa dilihat dari hasil perolehan suara Pemilu 1955. Dari total 280.628 pemilih yang datang ke 616 Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Surabaya, PKI meraih 124.128 suara. Sementara total partai Islam hanya meraih 78.943 suara. Partai Nahdlatul Ulama (NU) meraih 59.410 suara, disusul Masyumi 16.588, serta Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) 2.945 suara.
Jika dipresentasekan, suara PKI di Surabaya pada 1955 itu setara dengan 44,23 %. Sangat jauh lebih banyak dibandingkan gabungan suara partai Islam yang hanya 28,13 %. NU berada di urutan terbesar dengan 21,17 %, disusul Masyumi 5,91 % dan PSII 1,05 %.
Secara lengkap, hasil perolehan partai dan perseorangan pada Pemilu di Surabaya tahun 1955 menghasilkan juara PKI dengan 124.128 suara. Disusul di posisi kedua adalah NU (59.410), Partai Nasionalis Indonesia/PNI (40.506), Masjumi (16.588), dan Parkindo (7.305).
Di urutan keenam ada Baperki dengan 6.352 suara, disusul PRI (5.926), Partai Katolik (4.808), PSI (4.414), P3RI (4.128), dan PSII (2.945). Di uratan kedua sebelum posisi buncit, terdapat satu calon perseorang yang meraih 4.118 suara. Yaitu Kusadi Paulus Maria.
Hasil Pemilu 1955 di Surabaya memang tidak selaras dengan hasil Pemilu secara keseluruhan di Jawa Timur. Di Tingkat provinsi, PKI berada di posisi runner up di bawah NU. Namun, ia mempu mengungguli PNI dan Masyumi.
Di seluruh Jatim, NU memperoleh 3.370.554 suara. Disusul posisi kedua adalah PKI dengan total 2.299.602 suara. Sementara PNI yang berada di urutan ketiga mendapat 2.251.069 suara, sebelum Masyumi dengan 1.109.742 suara menggenapi 4 besar.
Secara keseluruhan, suara sah ke-12 kontestan Pemilu 1955 itu mencapai 280.628. Sementara jumlah pemilih yang terdaftar sebagai pemilih mencapai 367.791 orang, yang 60% di antaranya berjenis kelamin perempuan.
Kesuksesan hajatan besar ini tidak lepas dari peran Panitia Pemilihan Umum Kota Besar Surabaya—lembaga yang kini kita kenal sebagai Komisi Pemilihan Umum (KPU). Berdasarkan amanat Pasal 22 UU Nomor 7 Tahun 1953, komposisi kepanitiaan melibatkan representasi birokrasi dan lintas partai politik.
Kursi ketua kepanitiaan dipegang langsung oleh Walikota Kota Besar Surabaya saat itu, Moestadjab Soemowidagdo. Sementara posisi Wakil Ketua diamanatkan kepada R. Poeger yang merupakan representasi dari PNI.
Sementara untuk 5 anggota lainyya adalah R. Moh. Selamat Poespodiwirjo yang mewakili Masyumi, H. Abdullah Faqih (NU), Soenarjo Umar Siddiq (PRI), Doeladi Adikusumo (PSI), serta Moh. Sarkawi Prasetya (PKI)
Keterlibatan aktif seluruh elemen politik dalam kepanitiaan ini menjadi salah satu faktor kunci mengapa Pemilu 1955 di Surabaya berjalan kondusif dan transparan. Sekaligus melegitimasi kemenangan mutlak PKI di kota pahlawan itu.
Bersambung….





0 Tanggapan
Empty Comments